Begitulah susunan kejadiannya. Di awal hanya ada Allah sendiri. Lalu Ia menciptakan arsy-Nya di atas air. Setelah itu Ia menciptakan pena. Kemudian dengan pena itulah Ia menitahkan penulisan semua makhluk yang akan Ia ciptakan di alam raya ini: langit, bumi, malaikat, manusia, jin hingga surga dan neraka. Dengan pena itu juga Ia menitahkan penulisan semua kejadian — dengan urutan-urutan dan kaitan-kaitannya pada dimensi ruang dan waktu yang akan dialami makhluk-makhluk-Nya.
Tampaknya dengan sengaja Ibnu Katsir mengawali bahasan sejarahnya dalam Awal dan Akhir dengan cerita tadi. Tiba-tiba sejarah terbentang sebagai sebuah cerita penciptaan tanpa henti. Dari Allah awalnya, dan kelak kesana akhirnya. Tapi jika Allah tidak mendapatkan manfaat dari ciptaan-ciptaan-Nya, maka tidak ada yang dapat menjelaskan motif di balik cerita kehidupan itu kecuali hanya satu kata: cinta!
“Maka”, kata Ibnul Qoyyim dalam Taman Para Pencinta, “semua gerak di alam raya ini, di langit dan bumi, adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta.” Dengan dan untuk itulah alam ini bergerak. Kehendak dan cintalah alasan pergerakan dan perhentiannya. Bahkan dengan dan untuk kehendak dan cinta jugalah alam ini diciptakan. Maka tak satupun makhluk di alam ini yang bergerak kecuali bahwa kehendak dan cintalah motif dan tujuannya. Sesungguhnya hakikat cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya. Maka cinta adalah gerak tanpa henti. Dan inilah makna kebenaran ketika Allah mengatakan: “Dan tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antaranya kecuali dengan kebenaran.” (QS. Al Hijr:85)
Jadi cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan. Itu sebabnya, hati yang dipenuhi dengan cinta lebih mudah dan cepat menangkap kebenaran. Cinta tidak tumbuh dalam hati yang dipenuhi keangkuhan, angkara murka dan dendam. Cinta melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Cinta adalah cahaya yang memberikan kekuatan penglihatan pada mata hati kita. Begitulah cinta akhirnya membimbing tangan Abu Bakar, Al Najasyi, atau Cat Steven kepada Islam. Begitu juga akhirnya keangkuhan menyesatkan Abu Jahal, Heraklius, atau Saddam Husein. Cinta dalam jiwa, kata Iqbal, serupa penglihatan pada mata.
Pengetahuan bahkan bisa menyesatkan kalau ia tidak dibimbing oleh kelembutan tangan cinta. Itu kebutaan, kata Enstein. Sebab ia tidak melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Itu juga yang menjelaskan mengapa ilmu pengetahuan modern justru menjauhkan Barat dari Tuhan. Disana cinta tidak membimbing pengetahuan. Maka dengan penuh keyakinan Iqbal kemudian berkata dalam Javid Namah:
Pengetahuan bersemayam dalam pikiran,
Tempat cinta ialah hati yang sadar-jaga,
Selama pengetahuan yang tak sedikit juga mengandung cinta,
Adalah itu hanya permainan sulap si Samiri;
Pengetahuan tanpa Ruh Kudus hanya penyihiran.
Senin, 19 Januari 2009
CUKUPLAH KEMATIAN SEBAGAI NASEHAT
Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat
Penulis:
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu
kematian!” (HR. Tirmidzi)
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian.
Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak
pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar
tak lari menyimpang.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu
banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang
mungkin sering kita rasakan dan lakukan.
1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa
berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa
lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana
tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang
menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik
pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan
itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari
menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian
lagi berpaling (daripadanya).”
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata.
Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku
sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar
ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan,
kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.
Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah
peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang
azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami,
beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami
akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”
2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka
kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang
telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah
permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras
akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun.
Padahal, sandiwara sudah berakhir.
Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat
selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya.
Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang
menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya
akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang
sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan
menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif
kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua
berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.
3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa
Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh
ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau
miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur
bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.
Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa.
Cuma tubuh kecil yang telanjang.
Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita
meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta
dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan
pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.
Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika
peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan
seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan,
bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan
pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah
khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia
ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan
antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.
Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga
yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar.
Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama
kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian
berakhir.
5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar
bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman.
Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam
tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia
tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.
Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah
Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya
mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya
untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu
yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang
menghargai arti kehidupan.
------------------------------
INGAT MATI, HIDUP BERARTI
Penulis:
Hidup dan kematian seolah dua lembah yang saling berpisah. Satu sama
lain seperti tak berhubungan. Sebagian orang pun mengatakan,
bersenang-senanglah di lembah yang satu. Dan, jangan pedulikan lembah
lainnya. Padahal, hidup dan kematian tak ubahnya seperti dua pintu dalam
satu ruang. Orang tak akan paham makna hidup, sebelum ia merasai
bagaimana kematian.
Tak ada sebuah hadiah yang begitu berarti buat seorang mukmin sepanjang
hidupnya melebihi kematian. Itulah hadiah Allah yang hanya mampu
diterjemahkan oleh mereka yang begitu rindu dengan Kekasihnya yang
sejati. Dunia, seberapa pun indahnya, tak lebih dari penjara yang
membelenggu diri dalam ketidaknyamanan dan keterpaksaan.
Seperti itulah ungkapan Rasulullah saw dalam sebuah hadits riwayat Ibnu
Abid Dunya, Thabarani dan Hakim. “Hadiah yang pelik untuk seorang mukmin
ialah kematian.”
Itulah kematian. Ia bagaikan garis pemisah antara panggung kepura-puraan
dengan kehidupan yang sebenarnya. Garis yang memisahkan aneka lakon dan
peran dengan sosok asli seorang manusia. Garis yang akhirnya menyatakan
kesudahan segala peran dan dikembalikannya segala alat permainan.
Sayangnya, tak sedikit manusia yang lebih cinta dengan dunia pura-pura.
Mereka pun berkhayal, andai kepura-puraan bisa buat selamanya. Bisa
berpuas diri dengan aneka lakon dan peran. Tanpa disadari, kecintaan itu
pun berujung pada kebencian. Benci pada kematian.
Seperti itulah tabiat anak kecil yang begitu asyik dengan main-mainnya.
Mereka lupa kalau sore sudah hampir lewat, dan malam pun akan menjelang.
Bahkan, mereka pun lari ketika diminta mandi. Padahal, mandi menjadikan
tubuhnya terasa nyaman berteman malam. Dan kemana pun sang anak lari,
mereka tak akan mampu bersembunyi dari kemestian malam.
Allah swt menggambarkan orang-orang yang lari dari kematian. Seperti
dalam firmanNya di surah Al-Jumu’ah ayat 8, “Katakanlah: kematian yang
kamu lari daripadanya itu sesungguhnya akan menemui kamu, kemudian kamu
akan dikembalikan kepada Tuhan Maha Tahu hal yang tersembunyi dan yang
terang, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Ketakutan adalah alasan yang paling lumrah buat mereka yang tetap lari
dari kematian. Banyak alasan kenapa harus takut. Pertama, mereka takut
berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai
sudah pesta kenikmatan. Karena kehidupan sudah terlanjur mereka
terjemahkan sebagai kenikmatan. Hanya kenikmatan.
Kedua, ada ungkapan batin yang tidak mereka sadari. Bahwa, mereka enggan
berjumpa dengan Allah. Sebagaimana, mereka selalu menghindar dari
perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka lakukan. Keengganan itu
sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun enggan bertemu
mereka, sebagaimana mereka enggan bertemu Allah.
Rasulullah saw menjelaskan hal itu dalam hadits riwayat Bukhari dan
Muslim. “Barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah juga
benci bertemu dengan orang itu.”
Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan kerinduan yang
diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama lagi ajal
kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau
mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan,
sakit itu lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku
bahagia daripada hidup, maka permudahkanlah kematian itu untukku.
Sehingga aku dapat bertemu dengan-Mu.”
Ketiga, boleh jadi ketakutan terhadap kematian lebih karena
ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika diminta mandi.
Karena yang diketahui anak tentang mandi tak lebih dari dingin, dipaksa
ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian. Kematian
bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, harta
dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah.
Di situlah perbedaan mendasar antara hamba Allah yang baik dengan yang
buruk. Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran tentang kematian dari
Rasulullah saw. “Aku mendatangi Nabi saw sebagai orang yang kesepuluh
dari sepuluh yang mendatangi Rasul. Kemudian, ada seorang dari kaum
Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai dan mulia, ya
Rasulullah?’ Beliau saw menjawab, ‘Yaitu, orang yang terbanyak ingatnya
kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah
orang-orang yang akan pergi dengan kemuliaan dunia dan akhirat.” (HR.
Ibnu Majah)
Bagi hamba Allah, tak ada kemuliaan apa pun dari tetap menjaga
ingatannya dengan kematian. Bahkan, seorang yang berada pada puncak
kekuasaan sekalipun. Setidaknya, itulah yang hendak diungkapkan seorang
Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hampir sepanjang usia kekuasaannya, tak
pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian. Caranya
begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling
mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat.
Kemudian, semuanya pun menangis. Seakan-akan, di samping mereka ada
jenazah yang sedang ditangisi.
Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi
sosok yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya
yang mengeluh. Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa
hidup Umar bin Abdul Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi
pengingat sejati.
Jadi, kehidupan dan kematian tak lagi menjadi dua lembah yang saling
terpisah. Kematian mengingatkan kehidupan agar tetap menjadi sesuatu
yang berarti. Bahkan, teramat berarti. Dan kehidupan mengingatkan
kematian sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik
kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian.
Penulis:
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu
kematian!” (HR. Tirmidzi)
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian.
Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak
pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar
tak lari menyimpang.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu
banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang
mungkin sering kita rasakan dan lakukan.
1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa
berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa
lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana
tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang
menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik
pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan
itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari
menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian
lagi berpaling (daripadanya).”
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata.
Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku
sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar
ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan,
kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.
Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah
peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang
azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami,
beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami
akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”
2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka
kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang
telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah
permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras
akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun.
Padahal, sandiwara sudah berakhir.
Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat
selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya.
Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang
menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya
akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang
sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan
menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif
kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua
berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.
3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa
Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh
ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau
miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur
bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.
Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa.
Cuma tubuh kecil yang telanjang.
Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita
meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta
dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan
pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.
Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika
peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan
seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan,
bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan
pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah
khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia
ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan
antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.
Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga
yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar.
Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama
kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian
berakhir.
5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar
bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman.
Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam
tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia
tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.
Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah
Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya
mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya
untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu
yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang
menghargai arti kehidupan.
------------------------------
INGAT MATI, HIDUP BERARTI
Penulis:
Hidup dan kematian seolah dua lembah yang saling berpisah. Satu sama
lain seperti tak berhubungan. Sebagian orang pun mengatakan,
bersenang-senanglah di lembah yang satu. Dan, jangan pedulikan lembah
lainnya. Padahal, hidup dan kematian tak ubahnya seperti dua pintu dalam
satu ruang. Orang tak akan paham makna hidup, sebelum ia merasai
bagaimana kematian.
Tak ada sebuah hadiah yang begitu berarti buat seorang mukmin sepanjang
hidupnya melebihi kematian. Itulah hadiah Allah yang hanya mampu
diterjemahkan oleh mereka yang begitu rindu dengan Kekasihnya yang
sejati. Dunia, seberapa pun indahnya, tak lebih dari penjara yang
membelenggu diri dalam ketidaknyamanan dan keterpaksaan.
Seperti itulah ungkapan Rasulullah saw dalam sebuah hadits riwayat Ibnu
Abid Dunya, Thabarani dan Hakim. “Hadiah yang pelik untuk seorang mukmin
ialah kematian.”
Itulah kematian. Ia bagaikan garis pemisah antara panggung kepura-puraan
dengan kehidupan yang sebenarnya. Garis yang memisahkan aneka lakon dan
peran dengan sosok asli seorang manusia. Garis yang akhirnya menyatakan
kesudahan segala peran dan dikembalikannya segala alat permainan.
Sayangnya, tak sedikit manusia yang lebih cinta dengan dunia pura-pura.
Mereka pun berkhayal, andai kepura-puraan bisa buat selamanya. Bisa
berpuas diri dengan aneka lakon dan peran. Tanpa disadari, kecintaan itu
pun berujung pada kebencian. Benci pada kematian.
Seperti itulah tabiat anak kecil yang begitu asyik dengan main-mainnya.
Mereka lupa kalau sore sudah hampir lewat, dan malam pun akan menjelang.
Bahkan, mereka pun lari ketika diminta mandi. Padahal, mandi menjadikan
tubuhnya terasa nyaman berteman malam. Dan kemana pun sang anak lari,
mereka tak akan mampu bersembunyi dari kemestian malam.
Allah swt menggambarkan orang-orang yang lari dari kematian. Seperti
dalam firmanNya di surah Al-Jumu’ah ayat 8, “Katakanlah: kematian yang
kamu lari daripadanya itu sesungguhnya akan menemui kamu, kemudian kamu
akan dikembalikan kepada Tuhan Maha Tahu hal yang tersembunyi dan yang
terang, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Ketakutan adalah alasan yang paling lumrah buat mereka yang tetap lari
dari kematian. Banyak alasan kenapa harus takut. Pertama, mereka takut
berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai
sudah pesta kenikmatan. Karena kehidupan sudah terlanjur mereka
terjemahkan sebagai kenikmatan. Hanya kenikmatan.
Kedua, ada ungkapan batin yang tidak mereka sadari. Bahwa, mereka enggan
berjumpa dengan Allah. Sebagaimana, mereka selalu menghindar dari
perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka lakukan. Keengganan itu
sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun enggan bertemu
mereka, sebagaimana mereka enggan bertemu Allah.
Rasulullah saw menjelaskan hal itu dalam hadits riwayat Bukhari dan
Muslim. “Barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah juga
benci bertemu dengan orang itu.”
Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan kerinduan yang
diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama lagi ajal
kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau
mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan,
sakit itu lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku
bahagia daripada hidup, maka permudahkanlah kematian itu untukku.
Sehingga aku dapat bertemu dengan-Mu.”
Ketiga, boleh jadi ketakutan terhadap kematian lebih karena
ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika diminta mandi.
Karena yang diketahui anak tentang mandi tak lebih dari dingin, dipaksa
ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian. Kematian
bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, harta
dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah.
Di situlah perbedaan mendasar antara hamba Allah yang baik dengan yang
buruk. Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran tentang kematian dari
Rasulullah saw. “Aku mendatangi Nabi saw sebagai orang yang kesepuluh
dari sepuluh yang mendatangi Rasul. Kemudian, ada seorang dari kaum
Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai dan mulia, ya
Rasulullah?’ Beliau saw menjawab, ‘Yaitu, orang yang terbanyak ingatnya
kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah
orang-orang yang akan pergi dengan kemuliaan dunia dan akhirat.” (HR.
Ibnu Majah)
Bagi hamba Allah, tak ada kemuliaan apa pun dari tetap menjaga
ingatannya dengan kematian. Bahkan, seorang yang berada pada puncak
kekuasaan sekalipun. Setidaknya, itulah yang hendak diungkapkan seorang
Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hampir sepanjang usia kekuasaannya, tak
pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian. Caranya
begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling
mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat.
Kemudian, semuanya pun menangis. Seakan-akan, di samping mereka ada
jenazah yang sedang ditangisi.
Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi
sosok yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya
yang mengeluh. Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa
hidup Umar bin Abdul Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi
pengingat sejati.
Jadi, kehidupan dan kematian tak lagi menjadi dua lembah yang saling
terpisah. Kematian mengingatkan kehidupan agar tetap menjadi sesuatu
yang berarti. Bahkan, teramat berarti. Dan kehidupan mengingatkan
kematian sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik
kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian.
IZINKAN KAMI MENATA ULANG TAMAN INDONESIA
"Sejarah adalah catatan statistik tentang denyut hati, gerak tangan, langkah kaki, dan ketajaman akal."
(Malik Bin Nabi, Ta`ammulat; 35)
Ledakan Energi Peradaban
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan, Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu.
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,
Merah Putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi.
Tapi peluru logam telah kami patahkan alam doa bersama,
dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.
(Taufik Ismail, 1998)
Begitulah Taufik Ismail lewat sajak berjudul 12 Mei 1998 mengabadikan kepahlawanan empat mahasiswa Trisakti yang gugur diterjang peluru kediktatoran rezim Orde Baru; Elang Mulyana, Hery Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidin Royan. Mereka adalah sebagian dari pelaku baru sejarah Indonesia dan sekaligus fajar yang menandai lahirnya generasi baru, generasi 1998.
Ibu pertiwi seperti menepati janjinya. Janji untuk melahirkan anak-anak yang setia pada cita-cita luhurnya; anak-anak yang membawa keberanian ditengah ketakutan, mengibarkan bendera perlawanan terhadap penindasan, memekikkan gaung pembelaan di tengah pengkhianatan; anak-anak yang memberikan darahnya dengan tulus sebagai mahar untuk kebebasan dan keadilan; anak-anak yang meninggalkan kenikmatan masa mudanya dengan penuh cinta untuk hidup dalam debu dan deru jalanan, bahkan menyerahkan hidupnya agar bangsa ini bisa hidup dengan cara yang lebih baik.
Maka sejarah panjang bangsa ini, setidak-tidaknya dalam hitungan abad ini, ditandai dengan kelahiran generasi demi generasi pada setiap persimpangan sejarah. Jika generasi 98 berhasil menumbangkan Orde Baru, maka generasi 66 berhasil mengakhiri Orde Lama. Dalam (puisi) "Sebuah Jaket Berlumur Darah" Taufik Ismail melukiskan suasana kepahlawanan itu:
Sebuah jaket berlumur darah
kami semua sudah menatapmu
telah berbagi duka yang agung dalam kepedihan bertahun-tahun.
Begitu kita menyusuri sejarah bangsa ini lebih jauh, kita akan bertemu dengan generasi 45 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan. Dan lebih jauh ke belakang, ada generasi 28 yang mempelopori persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Lebih jauh lagi, kita akan bertemu dengan generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional. Semua angkatan itu lahir silih berganti sampai datang angkatan 1998. Dan mereka lahir pada titik persimpangan sejarah dan memberi arah bagi perjalanan bangsa kita. Mereka selalu muncul sebagai pelopor, menghentikan kesunyian sejarah dan mengobarkan api kehidupan.
Abad 20, dalam perspektif bangsa kita, sesungguhnya adalah sejarah anak-anak muda. Tapi itu bukan hanya milik Indonesia. Tanggal 23 Oktober 1956 Revolusi Hongaria meletus di tangan para pemuda dan mahasiswa yang menentang pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan boneka. Para pemuda dan mahasiswa bahkan mempelopori perlawanan terhadap negara adi kuasa itu di seantero kawasan Eropa Timur.
Eropa Barat juga menyaksikan gelombang gerakan pemuda dan mahasiswa sepanjang tahun 60-an; gerakan mahasiswa di Perancis meledakkan Krisis 22 Mei 1968, mahasiswa Spanyol bangkit menentang diktator Jendral Franco pada 1965. Hal yang sama juga terjadi di Italia, Belgia dan negara Eropa lainnya.
Di dunia Islam, baik di kawasan Asia dan Afrika, para mahasiswa dan pemuda bangkit mempelopori perlawanan terhadap para penjajah di sepanjang paruh pertama abad 20 sampai tahun 70-an. Para pemudalah yang terlibat dalam Revolusi Aljazair 1954 yang mengenyahkan Prancis dari tanah itu. Para pemuda dan mahasiwa juga berhasil mengusir Inggris dari Mesir. Dan sekarang, sejak 1987 hingga sekarang, anak-anak muda bahkan yang masih bocah, telah meletuskan Intifadhah melawan penjajah Israel di Palestina.
Anak-anak muda melemparkan batu melawan serdadu Israel yang bersenjata lengkap sambil menyenandungkan syair Hasyim Al-Rifa'i:
Itulah syurga yang menuntut harga
Hanya dari urat nadi para syuhada
Anak-anak muda selamanya adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, maka sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi. Sebuah lembaran kehidupan baru dari buku sejarah manusia telah dibuka. Dan sejarah, kata Malik Bin Nabi, adalah catatan statistik tentang denyut hati, gerak tangan, langkah kaki dan ketajaman akal.
Anak-anak yang Gelisah
Sejarah anak-anak muda adalah sejarah perlawanan dan pembelaan. Sebelum kemerdekaan anak-anak muda Indonesia bangkit menyatukan bangsa dan melawan penjajah serta merebut kemerdekaan. Tapi setelah merdeka mereka bangkit melawan penguasa tiran dan diktator serta membela rakyat dari penindasan sosial, ekonomi dan politik.
Adalah bagian dari keunikan abad ini, Allah swt menakdirkan para penguasa tiran dan diktator lahir pada waktu yang hampir bersamaan. Ketika tirani Soekarno merajalela di Indonesia, maka di Yugoslavia ada Tito dan di Mesir ada Nasser. Ketika kediktatoran Soeharto membungkam rakyat Indonesia, maka di Libya ada Khadafi, di Irak ada Saddam, di Syiria ada Asad, dan di Iran ada Pahlevi. DI abad ini pula lahir Hitler, Stalin dan Mossoulini. Jangan lupa, di abad ini pula dunia terlibat dalam dua kali perang akbar, Dunia I dan II, pada 1914 dan 1942.
Perlawanan dan pembelaan adalah energi peradaban. Dan energi itu lahir dari kegelisahan. Tapi dari manakah kegelisahan itu tercipta? Dari idealisme yang terpasung di alam kenyataan. Maka setiap kali janji kemakmuran terpasung dalam krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat, atau suara keadilan terbungkam dalam tirani kekuasaan, atau kebebasan ditindas oleh kediktatoran, setiap kali itu pula ada kegelisahan yang meresahkan jiwa anak-anak muda dan mencaut semua kenyamanan hidup mereka. Maka mereka bergerak dan segera berdiri di garis depan menyambut penggilan sejarah. Tapi anak muda macam manakah mereka? "Mereka adalah anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahfi:13)
Demikianlah. Kegelisahan menjadi isyarat dari anak-anak peristiwa yang akan lahir dari rahim sejarah. Kegelisahan memberi energi. Dan energi itu tumpah ruah dalam semangat perlawanan dan pembelaan. Maka, ada peristiwa ada sejarah. Tapi ada satu fenomena yang jarang kita perhatikan dalam langkah sejarah, bahwa gerakan-gerakan pemuda seringkali dimatikan oleh orang-orang yang mencetuskannya pertama kali. Lihat Soekarno dan Soeharto.
Saatnya Kaum Muda Bangit Kembali
Kini, kita tengah berada di persimpangan sejarah. Generasi 98 telah menjalankan tugasnya. Mereka telah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan mengatar sejumlah elit politik baru ke panggung sejarah Indonesia. Tapi tugas belum betul-betul tuntas. Tahun ini kita memperingati Sumpah Pemuda dengan kenyamanan yang terampas, sebab ada kegeliasahan baru, sebab ada idelisme yang terpasung di alam kenyataan, sebab cita-cita reformasi seperti hilang lenyap dalam retorika politik.
Masa transisi yang tengah kita alami ini boleh jadi merupakan awal dari bencana besar yang mungkin akan menimpa bangsa kita di masa depan. Sebab `humor-humor' pemimpin kita ?Abdurahman Wahid? ternyata gagal membuat bangsa ini menjadi cepat tersenyum. Apalagi tertawa. `Humor-humor' itu untuk sebagiannya, bahkan terasa mengerikan. Seperti ketika arogansi berhadap-hadapan dengan kenyataan bahwa negara kita sedang menghampiri kebangkrutannya, seperti ketika semangat memberantas KKN berhadap-hadapan dengan semangat balas dendam atas kemiskinan masa lalu. Seperti ketika demokrasi dan keterbukaan serta dialog berhadap-hadapan dengan semangat balas dendam atas marginlisasi politik masa lalu.
Pemerintahan Abdurahman Wahid sekarang, menurut saya, tidak akan mungkin bisa menegakkan hukum dengan baik. Karena; pertama, dia membawa dendam masa lalu, baik dendam atas kemiskinan atau dendam atas marginalisasi politik di masa lalu. Itu tidak mungkin, dan lebih parah lagi dia memang tidak mau. Kita tidak bisa berharap dari pemimpin yang `nervous' di depan kekuasaan dan uang.
Ada masalah dalam bangsa kita, pertama dalam hal konsistensi yakni masalah penyimpangan di ujung jalan atau di tengah jalan. Pemimpin yang diasumsikan lurus ternyata membuyarkan seluruh harapan masyarakat. Itu juga yang mungkin terjadi sekarang. Mereka yang meretas jalan, tapi mereka pula yang merubuhkan panggungnya sendiri. Begitu seterusnya. Maka sudah saatnya kita berfikir bahwa kita yang meretas jalan, kita juga yang akan mengisi panggung itu seterusnya.
Kedua, rakyat ini tidak punya firasat. Ketika kita mencalonkan seorang, atau setidak-tidaknya menitipkan harapan pada seorang calon pemimpin, kita tidak mempunyai firasat tentang orang itu, bahwa orang itu bisa jadi gagal mengantar bangsa untuk menyelesaikan sebagian dari persoalan selama ini. Jadi terlepas dari perhitungan-perhitungan politik, pada dasarnya semua akan tergantung pada firasat kita terhadap seseorang. Dan kalau rakyat tidak mempunyai firasat tentang orang yang dicalonkannya, itu berarti mereka tidak mengenal dirinya sendiri. Dan ini berhubungan dengan hadits Nabi, "Kalau Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengangkat orang yang terbaik dari kaum itu sebagai pemimpin mereka, dan kalau Allah membenci suatu kaum maka Dia akan mengangkat orang yang terjahat menjadi pemimpin kaum itu."
Kita, anak-anak muda yang telah menunaikan sebagian dari tugas sejarah, sekarang harus segera kembali mengkonsolidasikan diri, mencabut harapan pada pemerintahan ini, dan segera mematangkan diri secara dini, kemudian berkata dengan yakin kepada bangsa ini:
Tuntaskan reformasi
Percepat alih generasi
Dan pertahankan keutuhan Indonesia.
Mungkin memang harus begini kejadiannya. Bahwa sejarah menghendaki kita melangkah lebih cepat untuk menyelamatkan bangsa ini. Kita harus kembali penuhi jalan-jalan. Tanpa mengurangi rasa hormat, barangkali merupakan dosa untuk terus mempercayai tugas sejarah ini kepada orang-orang tua kita sekarang. Perubahan-perubahan besar dalam sejarah pada mulanya tampak seperti kabut yang menghalangi cahaya matahari turun ke bumi. Itu yang membuat banyak orang ragu-ragu untuk melakukannya. Tetapi apabila masyarakat sudah mulai resah akibat lilitan berbagai macam problema, percayalah bahwa keresahan itu adalah awal dari ledakan energi peradaban.
Dulu Rasulullah bersabda: "Para pemuda bersekutu denganku dan orang-orang tua memusuhiku." Seperti sepotong sajak Taufik Ismail (1998) kepada mereka:
Seluruh jajaran aparat kenegaraan di atas umur tiga puluh sudah bersedia berdiri ke pinggir secara menyeluruh.
Bangsa kini dipimpin oleh anak-anak muda yang sebenar bersih.
Kami muncul lewat tahun-tahun pengalaman yang sangat pedih.
(Malik Bin Nabi, Ta`ammulat; 35)
Ledakan Energi Peradaban
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan, Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu.
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,
Merah Putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi.
Tapi peluru logam telah kami patahkan alam doa bersama,
dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.
(Taufik Ismail, 1998)
Begitulah Taufik Ismail lewat sajak berjudul 12 Mei 1998 mengabadikan kepahlawanan empat mahasiswa Trisakti yang gugur diterjang peluru kediktatoran rezim Orde Baru; Elang Mulyana, Hery Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidin Royan. Mereka adalah sebagian dari pelaku baru sejarah Indonesia dan sekaligus fajar yang menandai lahirnya generasi baru, generasi 1998.
Ibu pertiwi seperti menepati janjinya. Janji untuk melahirkan anak-anak yang setia pada cita-cita luhurnya; anak-anak yang membawa keberanian ditengah ketakutan, mengibarkan bendera perlawanan terhadap penindasan, memekikkan gaung pembelaan di tengah pengkhianatan; anak-anak yang memberikan darahnya dengan tulus sebagai mahar untuk kebebasan dan keadilan; anak-anak yang meninggalkan kenikmatan masa mudanya dengan penuh cinta untuk hidup dalam debu dan deru jalanan, bahkan menyerahkan hidupnya agar bangsa ini bisa hidup dengan cara yang lebih baik.
Maka sejarah panjang bangsa ini, setidak-tidaknya dalam hitungan abad ini, ditandai dengan kelahiran generasi demi generasi pada setiap persimpangan sejarah. Jika generasi 98 berhasil menumbangkan Orde Baru, maka generasi 66 berhasil mengakhiri Orde Lama. Dalam (puisi) "Sebuah Jaket Berlumur Darah" Taufik Ismail melukiskan suasana kepahlawanan itu:
Sebuah jaket berlumur darah
kami semua sudah menatapmu
telah berbagi duka yang agung dalam kepedihan bertahun-tahun.
Begitu kita menyusuri sejarah bangsa ini lebih jauh, kita akan bertemu dengan generasi 45 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan. Dan lebih jauh ke belakang, ada generasi 28 yang mempelopori persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Lebih jauh lagi, kita akan bertemu dengan generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional. Semua angkatan itu lahir silih berganti sampai datang angkatan 1998. Dan mereka lahir pada titik persimpangan sejarah dan memberi arah bagi perjalanan bangsa kita. Mereka selalu muncul sebagai pelopor, menghentikan kesunyian sejarah dan mengobarkan api kehidupan.
Abad 20, dalam perspektif bangsa kita, sesungguhnya adalah sejarah anak-anak muda. Tapi itu bukan hanya milik Indonesia. Tanggal 23 Oktober 1956 Revolusi Hongaria meletus di tangan para pemuda dan mahasiswa yang menentang pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan boneka. Para pemuda dan mahasiswa bahkan mempelopori perlawanan terhadap negara adi kuasa itu di seantero kawasan Eropa Timur.
Eropa Barat juga menyaksikan gelombang gerakan pemuda dan mahasiswa sepanjang tahun 60-an; gerakan mahasiswa di Perancis meledakkan Krisis 22 Mei 1968, mahasiswa Spanyol bangkit menentang diktator Jendral Franco pada 1965. Hal yang sama juga terjadi di Italia, Belgia dan negara Eropa lainnya.
Di dunia Islam, baik di kawasan Asia dan Afrika, para mahasiswa dan pemuda bangkit mempelopori perlawanan terhadap para penjajah di sepanjang paruh pertama abad 20 sampai tahun 70-an. Para pemudalah yang terlibat dalam Revolusi Aljazair 1954 yang mengenyahkan Prancis dari tanah itu. Para pemuda dan mahasiwa juga berhasil mengusir Inggris dari Mesir. Dan sekarang, sejak 1987 hingga sekarang, anak-anak muda bahkan yang masih bocah, telah meletuskan Intifadhah melawan penjajah Israel di Palestina.
Anak-anak muda melemparkan batu melawan serdadu Israel yang bersenjata lengkap sambil menyenandungkan syair Hasyim Al-Rifa'i:
Itulah syurga yang menuntut harga
Hanya dari urat nadi para syuhada
Anak-anak muda selamanya adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, maka sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi. Sebuah lembaran kehidupan baru dari buku sejarah manusia telah dibuka. Dan sejarah, kata Malik Bin Nabi, adalah catatan statistik tentang denyut hati, gerak tangan, langkah kaki dan ketajaman akal.
Anak-anak yang Gelisah
Sejarah anak-anak muda adalah sejarah perlawanan dan pembelaan. Sebelum kemerdekaan anak-anak muda Indonesia bangkit menyatukan bangsa dan melawan penjajah serta merebut kemerdekaan. Tapi setelah merdeka mereka bangkit melawan penguasa tiran dan diktator serta membela rakyat dari penindasan sosial, ekonomi dan politik.
Adalah bagian dari keunikan abad ini, Allah swt menakdirkan para penguasa tiran dan diktator lahir pada waktu yang hampir bersamaan. Ketika tirani Soekarno merajalela di Indonesia, maka di Yugoslavia ada Tito dan di Mesir ada Nasser. Ketika kediktatoran Soeharto membungkam rakyat Indonesia, maka di Libya ada Khadafi, di Irak ada Saddam, di Syiria ada Asad, dan di Iran ada Pahlevi. DI abad ini pula lahir Hitler, Stalin dan Mossoulini. Jangan lupa, di abad ini pula dunia terlibat dalam dua kali perang akbar, Dunia I dan II, pada 1914 dan 1942.
Perlawanan dan pembelaan adalah energi peradaban. Dan energi itu lahir dari kegelisahan. Tapi dari manakah kegelisahan itu tercipta? Dari idealisme yang terpasung di alam kenyataan. Maka setiap kali janji kemakmuran terpasung dalam krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat, atau suara keadilan terbungkam dalam tirani kekuasaan, atau kebebasan ditindas oleh kediktatoran, setiap kali itu pula ada kegelisahan yang meresahkan jiwa anak-anak muda dan mencaut semua kenyamanan hidup mereka. Maka mereka bergerak dan segera berdiri di garis depan menyambut penggilan sejarah. Tapi anak muda macam manakah mereka? "Mereka adalah anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahfi:13)
Demikianlah. Kegelisahan menjadi isyarat dari anak-anak peristiwa yang akan lahir dari rahim sejarah. Kegelisahan memberi energi. Dan energi itu tumpah ruah dalam semangat perlawanan dan pembelaan. Maka, ada peristiwa ada sejarah. Tapi ada satu fenomena yang jarang kita perhatikan dalam langkah sejarah, bahwa gerakan-gerakan pemuda seringkali dimatikan oleh orang-orang yang mencetuskannya pertama kali. Lihat Soekarno dan Soeharto.
Saatnya Kaum Muda Bangit Kembali
Kini, kita tengah berada di persimpangan sejarah. Generasi 98 telah menjalankan tugasnya. Mereka telah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan mengatar sejumlah elit politik baru ke panggung sejarah Indonesia. Tapi tugas belum betul-betul tuntas. Tahun ini kita memperingati Sumpah Pemuda dengan kenyamanan yang terampas, sebab ada kegeliasahan baru, sebab ada idelisme yang terpasung di alam kenyataan, sebab cita-cita reformasi seperti hilang lenyap dalam retorika politik.
Masa transisi yang tengah kita alami ini boleh jadi merupakan awal dari bencana besar yang mungkin akan menimpa bangsa kita di masa depan. Sebab `humor-humor' pemimpin kita ?Abdurahman Wahid? ternyata gagal membuat bangsa ini menjadi cepat tersenyum. Apalagi tertawa. `Humor-humor' itu untuk sebagiannya, bahkan terasa mengerikan. Seperti ketika arogansi berhadap-hadapan dengan kenyataan bahwa negara kita sedang menghampiri kebangkrutannya, seperti ketika semangat memberantas KKN berhadap-hadapan dengan semangat balas dendam atas kemiskinan masa lalu. Seperti ketika demokrasi dan keterbukaan serta dialog berhadap-hadapan dengan semangat balas dendam atas marginlisasi politik masa lalu.
Pemerintahan Abdurahman Wahid sekarang, menurut saya, tidak akan mungkin bisa menegakkan hukum dengan baik. Karena; pertama, dia membawa dendam masa lalu, baik dendam atas kemiskinan atau dendam atas marginalisasi politik di masa lalu. Itu tidak mungkin, dan lebih parah lagi dia memang tidak mau. Kita tidak bisa berharap dari pemimpin yang `nervous' di depan kekuasaan dan uang.
Ada masalah dalam bangsa kita, pertama dalam hal konsistensi yakni masalah penyimpangan di ujung jalan atau di tengah jalan. Pemimpin yang diasumsikan lurus ternyata membuyarkan seluruh harapan masyarakat. Itu juga yang mungkin terjadi sekarang. Mereka yang meretas jalan, tapi mereka pula yang merubuhkan panggungnya sendiri. Begitu seterusnya. Maka sudah saatnya kita berfikir bahwa kita yang meretas jalan, kita juga yang akan mengisi panggung itu seterusnya.
Kedua, rakyat ini tidak punya firasat. Ketika kita mencalonkan seorang, atau setidak-tidaknya menitipkan harapan pada seorang calon pemimpin, kita tidak mempunyai firasat tentang orang itu, bahwa orang itu bisa jadi gagal mengantar bangsa untuk menyelesaikan sebagian dari persoalan selama ini. Jadi terlepas dari perhitungan-perhitungan politik, pada dasarnya semua akan tergantung pada firasat kita terhadap seseorang. Dan kalau rakyat tidak mempunyai firasat tentang orang yang dicalonkannya, itu berarti mereka tidak mengenal dirinya sendiri. Dan ini berhubungan dengan hadits Nabi, "Kalau Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengangkat orang yang terbaik dari kaum itu sebagai pemimpin mereka, dan kalau Allah membenci suatu kaum maka Dia akan mengangkat orang yang terjahat menjadi pemimpin kaum itu."
Kita, anak-anak muda yang telah menunaikan sebagian dari tugas sejarah, sekarang harus segera kembali mengkonsolidasikan diri, mencabut harapan pada pemerintahan ini, dan segera mematangkan diri secara dini, kemudian berkata dengan yakin kepada bangsa ini:
Tuntaskan reformasi
Percepat alih generasi
Dan pertahankan keutuhan Indonesia.
Mungkin memang harus begini kejadiannya. Bahwa sejarah menghendaki kita melangkah lebih cepat untuk menyelamatkan bangsa ini. Kita harus kembali penuhi jalan-jalan. Tanpa mengurangi rasa hormat, barangkali merupakan dosa untuk terus mempercayai tugas sejarah ini kepada orang-orang tua kita sekarang. Perubahan-perubahan besar dalam sejarah pada mulanya tampak seperti kabut yang menghalangi cahaya matahari turun ke bumi. Itu yang membuat banyak orang ragu-ragu untuk melakukannya. Tetapi apabila masyarakat sudah mulai resah akibat lilitan berbagai macam problema, percayalah bahwa keresahan itu adalah awal dari ledakan energi peradaban.
Dulu Rasulullah bersabda: "Para pemuda bersekutu denganku dan orang-orang tua memusuhiku." Seperti sepotong sajak Taufik Ismail (1998) kepada mereka:
Seluruh jajaran aparat kenegaraan di atas umur tiga puluh sudah bersedia berdiri ke pinggir secara menyeluruh.
Bangsa kini dipimpin oleh anak-anak muda yang sebenar bersih.
Kami muncul lewat tahun-tahun pengalaman yang sangat pedih.
BISNIS KEHORMATAN
Menegakkan wajah dan mempertahankan kehormatan pribadi di atas kemiskinan yang panjang, bukanlah perkara gampang. Tapi bertahan dalam kemiskinan yang panjang, di tengah gemerlap dunia materi, dengan tetap mempertahankan tingkat produktivitas ilmiah yang tinggi, tentu saja jauh lebih sulit.
Tapi itulah inti semua tantangan yang dihadapi para ulama pewaris nabi. Itu akan menjadi lebih rumit bila mereka hidup pada suatu masa di mana para penguasa bersikap anti ulama, meremehkan peranan ilmu pengetahuan, dan suka merendahkan ulama.
Kemiskinan adalah pilihan hidup mereka, tapi kehormatan adalah tameng mereka. Masalahnya adalah bahwa sebagian dari kehormatan itu harus dipertahankan dengan materi atau harta. Harta itu sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan produktivitas dalam dunia mereka. Tapi itl:Jlah masalahnya: harta, kata Rasulullah SAW, adalah sumber kebanggaan manusia dalam hidup. Maka perintah menjadi kaya beralas disini: agar kita juga memiliki kebanggaan itu, agar kita dihormati dalam pergaulan masyarakat.
Bisnis adalah jalannya. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen. Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya. Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untouchebJe.
Tapi itu juga memberikan beliau kedalaman dalam fiqih, khususnya dalam bidang muamalat. Beberapa literatur awal dalam masalah keuangan negara kemudian lahir dari tangan murid beliau. Misalnya, Kitab AJ-Kharaj yang ditulis Abu Yusuf. Untuk sebagiannya, pemikiran ekonomi Islam pada mulanya diwarisi dari fiqih Abu Hanifah.
Walaupun begitu, popularitas mereka tidak datang dari kekayaan mereka yang melimpah ruah. Sebab bisnis tidak boleh mengganggu 'bisnis' mereka yang lain. Sebab mereka hanya ingin menjadi orang bebas dengan bisnis itu. Sebab mereka hanya ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu.
Itu berarti bahwa mereka harus mampu mengelola bisnis paruh waktu dengan sukses. Dan begitulah kejadiannya. Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, maha guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqoh, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab AI-Zuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses. Beliau hanya mengatakan dengan enteng:
"Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa."
Tapi itulah inti semua tantangan yang dihadapi para ulama pewaris nabi. Itu akan menjadi lebih rumit bila mereka hidup pada suatu masa di mana para penguasa bersikap anti ulama, meremehkan peranan ilmu pengetahuan, dan suka merendahkan ulama.
Kemiskinan adalah pilihan hidup mereka, tapi kehormatan adalah tameng mereka. Masalahnya adalah bahwa sebagian dari kehormatan itu harus dipertahankan dengan materi atau harta. Harta itu sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan produktivitas dalam dunia mereka. Tapi itl:Jlah masalahnya: harta, kata Rasulullah SAW, adalah sumber kebanggaan manusia dalam hidup. Maka perintah menjadi kaya beralas disini: agar kita juga memiliki kebanggaan itu, agar kita dihormati dalam pergaulan masyarakat.
Bisnis adalah jalannya. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen. Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya. Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untouchebJe.
Tapi itu juga memberikan beliau kedalaman dalam fiqih, khususnya dalam bidang muamalat. Beberapa literatur awal dalam masalah keuangan negara kemudian lahir dari tangan murid beliau. Misalnya, Kitab AJ-Kharaj yang ditulis Abu Yusuf. Untuk sebagiannya, pemikiran ekonomi Islam pada mulanya diwarisi dari fiqih Abu Hanifah.
Walaupun begitu, popularitas mereka tidak datang dari kekayaan mereka yang melimpah ruah. Sebab bisnis tidak boleh mengganggu 'bisnis' mereka yang lain. Sebab mereka hanya ingin menjadi orang bebas dengan bisnis itu. Sebab mereka hanya ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu.
Itu berarti bahwa mereka harus mampu mengelola bisnis paruh waktu dengan sukses. Dan begitulah kejadiannya. Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, maha guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqoh, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab AI-Zuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses. Beliau hanya mengatakan dengan enteng:
"Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa."
DIBALIK KEHARUMAN
Dibalik Keharuman
Posted by: admin on Monday, April 12, 2004 - 12:00 AM
Nama para pahlawan mukmin sejati senantiasa harum sepanjang sejarah. Tapi hanya sedikit orang yang mengetahui betapa besar pajak yang telah mereka bayar untuk keharuman itu.
Masyarakat manusia pada umumnya selalu mempunyai dua sikap terhadap keharuman itu. Pertama, mereka biasanya akan mengagumi para pahlawan itu, bahkan terkadang sampai pada tingkat pendewaan. Kedua, mereka akan merasa kasihan kepada para pahlawan tersebut karena mereka tidak sempat menikmati hidup secara wajar. Yang kedua ini biasanya datang dari keluarga dekat sang pahlawan.
Apa yang dirasakan orang luar berbeda dengan apa yang dirasakan oleh sang pahlawan itu sendiri. Kekaguman, mungkin merupakan sesuatu yang indah bagi banyak orang. Tapi yang membayar harga keharuman yang dikagumi itu adalah para pahlawan. Dan harga itu tidah diketahui orang banyak. Maka seorang penyair arab terbesar, Al-Mutanabbi mengatakan: “Orang luar mengagumi kedermawanan sang pahlawan, tapi tidak merasakan kemiskinan yang mungkin dicipatakan oleh kedermawanan, orang luar mengagumi keberanian sang pahlawan tetapi mereka tidak merasakan luka yang menghantarnya menuju kematian.
Tapi ada kenyataan lain yang sama sekali terbalik. Keluarga para pahlawan seringkali tidak merasakan gaung kebesaran atau semerbak harum nama sang pahlawan. Karena ia hidup ditengah tengah mereka, setiap hari bahkan setiap saat. Bagi mereka, sang pahlawan adalah juga manusia biasa, yang mempunyai keinginan-keinginan dan kegemaran-kegemaran tertentu seperti mereka. Dan mereka harus menikmatinya. Maka merekalah yang sering menggoda pahlawan untuk tidak melulu “mendaki” langit, tapi juga sekali-kali “turun” kebumi.
Dan kedua sikap tersebut adalah jebakan. Kekaguman dan pendewaan sering menjebak para pahlawan, karena itu akan mempercepat munculnya rasa uas dalam dirinya. Sehingga karya yang sebenarnya belum sampai ke puncak, akhirnya terhenti di pertengahan jalan akibat rasa puas. Itulah sebabnya Imam Ghozali mengatakan, “Siapa yang mengatakan saya sudah berilmu, maka sesungguhnya orang itulah yang paling bodoh.”
Panggilan turun kebumi adalah jebakan lain. Menjadi pahlawan memang akan menyebabkan kita meninggalkan sangat banyak kegemaran dan kenikmatan hidup. Bahkan privasi kita akan sangat terganggu. Tapi itulah pajaknya. Namun banyak orang gagal melanjutkan perjalanan menuju puncak kepahlawanan karena tergoda untuk “kembali” kehabitat manusia biasa. Seperti angin sepoi yang mengirim kantuk kepada orang yang sedang membaca , seperti itulah panggilan turum kebumi penggoda sang pahlawan untuk berhenti mendaki. Itulah sebabnya Allah menegur para mujahidin yang mencintai keluarga mereka melebihi cinta mereka terhadap Allah, rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya.
Maka para pahlawan mukmin sejati berdiri tegak di sana; diantara tipuan pendewaan dan godaan kenikmatan bumi. Mereka terus berjalan dengan mantap menuju puncak kepahlawanan : tidak ada kepuasan sampai karya jadi tuntas, dan tidak ada kenikmatan melebihi apa yang mungkin diciptakan oleh kelelahan.
Posted by: admin on Monday, April 12, 2004 - 12:00 AM
Nama para pahlawan mukmin sejati senantiasa harum sepanjang sejarah. Tapi hanya sedikit orang yang mengetahui betapa besar pajak yang telah mereka bayar untuk keharuman itu.
Masyarakat manusia pada umumnya selalu mempunyai dua sikap terhadap keharuman itu. Pertama, mereka biasanya akan mengagumi para pahlawan itu, bahkan terkadang sampai pada tingkat pendewaan. Kedua, mereka akan merasa kasihan kepada para pahlawan tersebut karena mereka tidak sempat menikmati hidup secara wajar. Yang kedua ini biasanya datang dari keluarga dekat sang pahlawan.
Apa yang dirasakan orang luar berbeda dengan apa yang dirasakan oleh sang pahlawan itu sendiri. Kekaguman, mungkin merupakan sesuatu yang indah bagi banyak orang. Tapi yang membayar harga keharuman yang dikagumi itu adalah para pahlawan. Dan harga itu tidah diketahui orang banyak. Maka seorang penyair arab terbesar, Al-Mutanabbi mengatakan: “Orang luar mengagumi kedermawanan sang pahlawan, tapi tidak merasakan kemiskinan yang mungkin dicipatakan oleh kedermawanan, orang luar mengagumi keberanian sang pahlawan tetapi mereka tidak merasakan luka yang menghantarnya menuju kematian.
Tapi ada kenyataan lain yang sama sekali terbalik. Keluarga para pahlawan seringkali tidak merasakan gaung kebesaran atau semerbak harum nama sang pahlawan. Karena ia hidup ditengah tengah mereka, setiap hari bahkan setiap saat. Bagi mereka, sang pahlawan adalah juga manusia biasa, yang mempunyai keinginan-keinginan dan kegemaran-kegemaran tertentu seperti mereka. Dan mereka harus menikmatinya. Maka merekalah yang sering menggoda pahlawan untuk tidak melulu “mendaki” langit, tapi juga sekali-kali “turun” kebumi.
Dan kedua sikap tersebut adalah jebakan. Kekaguman dan pendewaan sering menjebak para pahlawan, karena itu akan mempercepat munculnya rasa uas dalam dirinya. Sehingga karya yang sebenarnya belum sampai ke puncak, akhirnya terhenti di pertengahan jalan akibat rasa puas. Itulah sebabnya Imam Ghozali mengatakan, “Siapa yang mengatakan saya sudah berilmu, maka sesungguhnya orang itulah yang paling bodoh.”
Panggilan turun kebumi adalah jebakan lain. Menjadi pahlawan memang akan menyebabkan kita meninggalkan sangat banyak kegemaran dan kenikmatan hidup. Bahkan privasi kita akan sangat terganggu. Tapi itulah pajaknya. Namun banyak orang gagal melanjutkan perjalanan menuju puncak kepahlawanan karena tergoda untuk “kembali” kehabitat manusia biasa. Seperti angin sepoi yang mengirim kantuk kepada orang yang sedang membaca , seperti itulah panggilan turum kebumi penggoda sang pahlawan untuk berhenti mendaki. Itulah sebabnya Allah menegur para mujahidin yang mencintai keluarga mereka melebihi cinta mereka terhadap Allah, rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya.
Maka para pahlawan mukmin sejati berdiri tegak di sana; diantara tipuan pendewaan dan godaan kenikmatan bumi. Mereka terus berjalan dengan mantap menuju puncak kepahlawanan : tidak ada kepuasan sampai karya jadi tuntas, dan tidak ada kenikmatan melebihi apa yang mungkin diciptakan oleh kelelahan.
MENCARI SANG ARSITEK
Hanya akal-akal raksasa yang tercerahkan wahyu yang siap menjadi pimpinan proyek peradaban kehendak Allah. Di mana mereka sekarang?
Tidak ada peristiwa yang lebih mengharu-biru kaum Muslimin, di sepanjang masa kenabian dan perjuangan Rasulullah Saw, selain saat dimana beliau menyampaikan pidato dalam hajjatul wada'. Itulah haji pertama dan terakhir yang dilaksanakan Rasulullah saw sejak ibadah itu diwajibkan, menurut jumhur ulama, pada tahun keenam hijrah. Karena itu sebagian besar kaum Muslimin menyempatkan diri untuk berhaji tahun itu. Jumlah mereka sekitar 125 ribu orang.
Sementara kaum Muslimin Merasakan kegembiraan mendengar khotbah Rasulullah saw, Abu Bakar justru menangis tersedu-sedu. Ia menangkap dengan jelas isyarat yang tersimpan dalam kalimat-kalimat Rasulullah saw, bahwa masa hidupnya tidak akan lama lagi. Dan benar saja, Rasulullah saw kemudian wafat beberapa saat setelah hajjatul wada' itu. Itu seperti sebuah isyarat bahwa tugas beliau sudah akan selesai sampai disini, tapi cita-cita untuk membawa cahaya Islam kepada seluruh umat manusia belum lagi selesai; dan adalah tugas para sahabat untuk melanjutkan risalah dakwah tersebut.
Kini, setelah lima belas abad kemudian, Islam menjadi fenomena sejarah sebagai sebuah peradaban terbesar yang pernah ada dan masih ada hingga saat ini. Islam tersebar di seluruh pelosok dunia, dari Aljir sampai Jakarta, dengan jumlah pemeluk sekitar 1,3 milyar manusia, atau sekitar seperlima dari total jumlah manusia yang menghuni bumi ini. Apabila Rasulullah saw meninggalkan lebih dari 125 ribu orang, maka dari merekalah sesungguhnya Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia. Tapi dari jumlah itu, sebenarnya sebagian besar mereka masuk ke dalam Islam justru setelah peristiwa Fathu Makkah pada tahun kedelapan hijrah, atau 20 tahun setelah Rasulullah saw menjadi rasul.
Ini berarti bahwa sahabat-sahabat beliau yang mempunyai peran besar dalam penyebaran Islam dan pembangunan peradaban Islam tidaklah terlalu banyak. Jumlah ulama dari sahabat-sahabat Rasulullah saw dalam catatan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam "I'lamul Muwaqqi'in", hanya kurang dari 110 orang. Dan diantara mereka yang terbesar ada 7 orang, diantaranya adalah Umar bin Khattab, Ali Bin Ali Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas'ud. Sebagian besar ulama dan pemikir Islam yang lahir kemudian, dari kalangan Tabi'in dan Tabi'uttabi'in dan seterusnya, mengambil ilmu dari mereka.
Otak Arsitek
Peradaban selalu bermula dari gagasan. Peradaban-peradaban besar selalu lahir lahir dari gagasan-gagasan besar. Dan gagasan-gagasan besar selalu lahir akal-akal raksasa. Begitulah kejadiannya, jumlah sahabat yang ditinggalkan Rasulullah saw memang sedikit, tapi mereka semua membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangun peradaban, dan membawa talenta sebagai arsitek peradaban.
Kesadaran itu terbentuk sejak dini dalam benak mereka. Allah swt telah menciptakan manusia untuk beribadah dan mengelola serta menegakkan khilafah di muka bumi. Dan untuk itu Allah swt memberikan mereka "juklak" (petunjuk laksana) berupa al-Qur'an, dan menurunkan seorang rasul sebagai "komunikator" Allah Swt, sekaligus sebagai pemberi contoh laksana dalam kehidupan nyata.
Sejak awal mereka menyadari bahwa al-Qur'an bukanlah sebuah buku filsafat kehidupan, yang kering dan rumit, atau pikiran-pikiran indah yang tersimpan di menara gading dan tidak mempunyai alas dalam realitas kehidupan. al-Qur'an adalah sebuah "manual" tentang bagaimana seharusnya kita mengelola kehidupan di bumi ini. Bumi adalah ruang kehidupan tempat kita "menurunkan" kehendak-kehendak Allah swt, yang termaktub dalam wahyu, menjadi satuan-satuan realitas dalam kehidupan manusia di muka bumi. Bumi adalah realitas kasat mata yang harus dikelola manusia.
Maka doktrin Al-Qur'an tentang Allah, Rasul, manusia dan kehidupan sejak awal menegaskan sebuah kesadaran yang integral; bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah akhirat, dan bahwa misi manusia di dunia ini adalah ibadah, tapi ruangnya adalah bumi. Karena itulah mereka mempunyai kesadaran yang kuat tentang ruang; ruang di mana mereka hidup, ruang yang menjadi wilayah kerja akal mereka, ruang yang menjadi tempat mereka menumpahkan seluruh proses kreatif mereka, yaitu bumi; dan bahwa ada ruang lain yang bukan wilayah kerja mereka, ruang dimana akal mereka tidak akan pernah sanggup menembusnya, ruang yang menjadi hak Allah Swt sendiri untuk menjelaskannya, yaitu ruang kegaiban, yaitu ruang metafisik di mana Allah swt menyimpan hakikat-hakikat besar dalam kehidupan ini, tentang Dzat-Nya sendiri, dunia malaikat, kehidupan akhirat, dan lainnya.
Kesadaran tentang ruang ini telah menanamkan sikap realisme dalam benak mereka, maka mereka bergerak lincah dalam wilayah itu. Proses kreativitas mereka tumpah ruah disini; dalam semangat merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt di muka bumi, dalam semangat memakmurkan dunia, dalam semangat membangun peradaban. Kesadaran tentang ruang sejak awal membuat peran intelektual dan kerja pemikiran mereka terpola dalam kerangka sebagai arsitek peradaban; bumi ini adalah lanskapnya, dan wahyu adalah kehendak-kehendak Sang Pemilik Kehidupan yang harus diolah menjadi sebuah master plan dan maket, darimana kemudian satuan-satuan kerja mengelola bumi menjadi rumah peradaban tempat manusia menemukan kedamaian dan kesejahteraan hidup, dimulai.
Dan begitulah Rasulullah Saw memberikan tamsil, bahwa silsilah nabi dan rasul yang turun ke bumi ini seperti sebuah bangunan dimana setiap nabi atau rasul menyelesaikan satu tahap pekerjaan, hingga tiba saatnya Allah menutup mata rantai kenabian dimana "Aku," kata Rasulullah Saw, "meletakkan batu terakhir."
Ijtihad: Mata Air Peradaban
Dalam konteks kesadaran tentang ruang dan pemilihan peran subjektif sebagai pembangun peradaban, kerangka kerja intelektual manusia Muslim terpola dalam fungsi-fungsi arsitektural dimana mereka mereka bekerja sebagai desainer, sebagai perancang, sebagai pembuat master plan. Dan begitulah kemudian sebuah karya peradaban besar lahir ke bumi; satu milenium lamanya manusia menikmati sejarah mereka yang terindah di bawah naungan Islam. Dalam fungsi arsitektural itulah metafor Iqbal
menemukan maknanya; dimana hutan-hutan bumi berubah menjadi taman-taman kehidupan yang indah.
Dalam fungsi arsitektural itu juga akal-akal Muslim tumbuh dengan kemampuan berpikir dan berkreasi yang luar biasa pada semua kategori dan tingkatan kemampuan intelektual manusia; kemampuan memahami (daya serap), kemampuan menganalisa (daya analisis), kemampuan mencipta (daya cipta).
Kemampuan itulah yang misalnya terlihat dalam sejarah ekspansi Islam, khususnya pada masa khulafa rasyidin. Dalam bidang politik, masa ekspansi besar-besar yang terjadi selama 30 tahun masa keempat khulafa rasyidin ini, telah disertai dengan peletakan dasar-dasar ketatanegaraan; bentuk dan sistem pemerintahan yang berorientasi global state tapi bersifat desentralis, sistem pemilihan khalifah, sistem administrasi dan keuangan negara yang berkembang pesat khususnya dalam pengelolaan wilayah-wilayah baru, manajemen konflik, dan lainnya. Dalam bidang keamanan dan geostrategi, selama masa ekspansi besar-besaran ini kita menyaksikan kejeniusan para khulafa dalam pengokohan integrasi teritorial dengan menjadikan jazirah Arab sebagai basis, strategi ekspansi dan taktik perang dalam menghadapi dua kekuatan terbesar, Persi dan Romawi.
Kemampuan akal-akal Muslim juga terlihat dalam perkembangan ijtihad dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Usaha menjaga kemurnian dan keotentikan teks al-Qur'an telah dilakukan melalui pengumpulan dan penulisan mushaf pada masa Abu Bakar, dan standarisasi bacaannya pada masa Utsman bin Affan. Sementara itu, usaha menjaga kemurnian dan keotentikan Sunnah telah melahirkan satu metodologi baru yang tidak ada tandingannya dalam semua peradaban lainnya. Selanjutnya dari kedua
sumber itu kemudian lahir berbagai macam ilmu-ilmu keislaman yang struktur dan content yang mandiri dan solid, khususnya ilmu fiqh yang menjadi induk pengetahuan keislaman ketika itu.
Selain perkembangan ilmu-ilmu keislaman, kita juga menyaksikan perkembangan ilmu-ilmu sosial, khususnya yang bersifat terapan. Misalnya ilmu jiwa yang berkembang secara terapan melalui perkembangan ilmu suluk dan akhlaq. Ilmu politik dan ekonomi yang melalui serangkaian ijtihad politik yang timbul sebagai implikasi dari perluasan wilayah Islam. Ilmu sejarah dan sosial mungkin yang berkembang paling pesat, khususnya setelah pembauran berbagai etnis dan budaya selama masa ekspansi. Bahkan pengalaman panjang dalam jihad dan perang telah diformulasi oleh kaum Muslimin menjadi ilmu strategi dan taktik perang.
Demikian juga dalam bidang teknologi. Teknologi maritim, misalnya, telah berkembang pada masa Utsman bin Affan sejalan kebutuhan jihad untuk menghadapi Romawi yang menguasai teknologi itu. Demikian juga industri militer lainnya yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan jihad. Selain teknologi terapan, ilmu-ilmu eksakta, khususnya dalam bidang fisika dan kedokteran, telah berkembang pesat khususnya setelah kaum Muslimin menemukan dan mengembangkan metodologi empiris, yang
hingga kini menjadi sebab perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, justru ketika Romawi menggunakan pendekatan teologi dan filsafat untuk ilmu-ilmu eksakta.
Apa yang ingin ditegaskan disini adalah bahwa, kemampuan akal-akal Muslim tidak hanya pada daya serapnya yang sangat besar terhadap semua jenis ilmu pengetahuan, tapi juga kemampuannya dalam mengkritisi ilmu-ilmu baru yang sampai ke mereka, dan kemudian kemampuannya dalam merekonstruksinya kembali, dan bahkan kemampuannya dalam mencipta ilmu-ilmu baru atau metodologi baru. Dalam konteks itulah kita melihat bagaimana konsep ijtihad dalam Islam telah mewadahi proses kreativitas akal-akal Muslim, dan karenanya, kemudian menjadi mata air peradaban Islam yang tak pernah kering. Akal-akal Muslim itu, dengan kata lain, mampu memahami zamannya, dan sekaligus memberi sesuatu yang kepada zamannya.
Dimanakah Sang Arsitek Itu Kini?
Tapi dimanakah akal-akal besar yang pernah menggoncang peradaban dunia dengan temuan-temuannya itu? Di manakah akal-akal Muslim yang dulu sanggup memahami zamannya dan kemudian memberi sesuatu yang baru bagi zamannya?
Inilah masalah kita. Akal-akal Muslim sekarang, bukan hanya tampak tidak berdaya memahami zamannya, apalagi memberi sesuatu yang baru bagi zamannya, tapi bahkan tidak sanggup memahami dirinya sendiri, tidak sanggup memahami sumber ajarannya sendiri, tidak sanggup memahami warisan peradabannya sendiri. Akal-akal Muslim sekarang tampak mengalami kelumpuhan. Tapi apakah yang membuatnya lumpuh?
Ini bagian paling krusial dari keseluruhan problematika umat kita yang terkait dengan masalah manusia Muslim. Lumpuhnya akal-akal Muslim telah menyebabkan kita kehilangan mata air peradaban. Ketika generasi kemunduran menutup pintu ijtihad, maka mereka telah menutup mata air peradaban. Dan kekeringan inilah yang kini kita warisi dan belum sanggup kita selesaikan, sehingga kita menjadi komunitas global yang hanya hidup di pinggiran sejarah, serta tidak mempunyai campur tangan dalam berbagai peristiwa dunia kecuali hanya sebagai korban.
Kebesaran sejarah akal-akal Muslim yang telah saya sebutkan, bukanlah tempat yang baik untuk melindungi kelumpuhan akal-akal Muslim saat ini. Tapi apabila Allah Swt telah menetapkan bahwa Ia tidak akan merubah keadaan suatu masyarakat sampai masyarakat itu sendiri merubah dirinya sendiri, maka sekarang kita mengetahui bahwa perubahan atas diri sendiri itu harus dimulai dari sini; merubah cara berpikir kita, dan merekonstruksinya agar ia mampu mengemban fungsi-fungsi arsitektural kembali, agar ia mampu merubah hutan-hutan bumi menjadi taman-taman kehidupan yang indah.
Apa yang harus kita lakukan untuk itu adalah memperbaiki cara kita memahami sumber-sumber ajaran kita, Qur'an dan Sunnah, serta warisan intelektual dari peradaban kita. Dengan begitu kita dapat menemukan sistem dan metodologi pemikiran kita sendiri, untuk kemudian secara kritis dan independen berinteraksi dengan realitas zaman kita, dengan segala muatan peradabannya, dan selanjutnya menemukan jalan untuk merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt dalam kehidupan kita. Dalam di tengah jalan itulah kita menciptakan semua yang kita perlukan untuk sampai ke titik akhir tujuan kita; dimana ada hutan belantara yang menjelma jadi taman kehidupan yang indah.
Tidak ada peristiwa yang lebih mengharu-biru kaum Muslimin, di sepanjang masa kenabian dan perjuangan Rasulullah Saw, selain saat dimana beliau menyampaikan pidato dalam hajjatul wada'. Itulah haji pertama dan terakhir yang dilaksanakan Rasulullah saw sejak ibadah itu diwajibkan, menurut jumhur ulama, pada tahun keenam hijrah. Karena itu sebagian besar kaum Muslimin menyempatkan diri untuk berhaji tahun itu. Jumlah mereka sekitar 125 ribu orang.
Sementara kaum Muslimin Merasakan kegembiraan mendengar khotbah Rasulullah saw, Abu Bakar justru menangis tersedu-sedu. Ia menangkap dengan jelas isyarat yang tersimpan dalam kalimat-kalimat Rasulullah saw, bahwa masa hidupnya tidak akan lama lagi. Dan benar saja, Rasulullah saw kemudian wafat beberapa saat setelah hajjatul wada' itu. Itu seperti sebuah isyarat bahwa tugas beliau sudah akan selesai sampai disini, tapi cita-cita untuk membawa cahaya Islam kepada seluruh umat manusia belum lagi selesai; dan adalah tugas para sahabat untuk melanjutkan risalah dakwah tersebut.
Kini, setelah lima belas abad kemudian, Islam menjadi fenomena sejarah sebagai sebuah peradaban terbesar yang pernah ada dan masih ada hingga saat ini. Islam tersebar di seluruh pelosok dunia, dari Aljir sampai Jakarta, dengan jumlah pemeluk sekitar 1,3 milyar manusia, atau sekitar seperlima dari total jumlah manusia yang menghuni bumi ini. Apabila Rasulullah saw meninggalkan lebih dari 125 ribu orang, maka dari merekalah sesungguhnya Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia. Tapi dari jumlah itu, sebenarnya sebagian besar mereka masuk ke dalam Islam justru setelah peristiwa Fathu Makkah pada tahun kedelapan hijrah, atau 20 tahun setelah Rasulullah saw menjadi rasul.
Ini berarti bahwa sahabat-sahabat beliau yang mempunyai peran besar dalam penyebaran Islam dan pembangunan peradaban Islam tidaklah terlalu banyak. Jumlah ulama dari sahabat-sahabat Rasulullah saw dalam catatan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam "I'lamul Muwaqqi'in", hanya kurang dari 110 orang. Dan diantara mereka yang terbesar ada 7 orang, diantaranya adalah Umar bin Khattab, Ali Bin Ali Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas'ud. Sebagian besar ulama dan pemikir Islam yang lahir kemudian, dari kalangan Tabi'in dan Tabi'uttabi'in dan seterusnya, mengambil ilmu dari mereka.
Otak Arsitek
Peradaban selalu bermula dari gagasan. Peradaban-peradaban besar selalu lahir lahir dari gagasan-gagasan besar. Dan gagasan-gagasan besar selalu lahir akal-akal raksasa. Begitulah kejadiannya, jumlah sahabat yang ditinggalkan Rasulullah saw memang sedikit, tapi mereka semua membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangun peradaban, dan membawa talenta sebagai arsitek peradaban.
Kesadaran itu terbentuk sejak dini dalam benak mereka. Allah swt telah menciptakan manusia untuk beribadah dan mengelola serta menegakkan khilafah di muka bumi. Dan untuk itu Allah swt memberikan mereka "juklak" (petunjuk laksana) berupa al-Qur'an, dan menurunkan seorang rasul sebagai "komunikator" Allah Swt, sekaligus sebagai pemberi contoh laksana dalam kehidupan nyata.
Sejak awal mereka menyadari bahwa al-Qur'an bukanlah sebuah buku filsafat kehidupan, yang kering dan rumit, atau pikiran-pikiran indah yang tersimpan di menara gading dan tidak mempunyai alas dalam realitas kehidupan. al-Qur'an adalah sebuah "manual" tentang bagaimana seharusnya kita mengelola kehidupan di bumi ini. Bumi adalah ruang kehidupan tempat kita "menurunkan" kehendak-kehendak Allah swt, yang termaktub dalam wahyu, menjadi satuan-satuan realitas dalam kehidupan manusia di muka bumi. Bumi adalah realitas kasat mata yang harus dikelola manusia.
Maka doktrin Al-Qur'an tentang Allah, Rasul, manusia dan kehidupan sejak awal menegaskan sebuah kesadaran yang integral; bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah akhirat, dan bahwa misi manusia di dunia ini adalah ibadah, tapi ruangnya adalah bumi. Karena itulah mereka mempunyai kesadaran yang kuat tentang ruang; ruang di mana mereka hidup, ruang yang menjadi wilayah kerja akal mereka, ruang yang menjadi tempat mereka menumpahkan seluruh proses kreatif mereka, yaitu bumi; dan bahwa ada ruang lain yang bukan wilayah kerja mereka, ruang dimana akal mereka tidak akan pernah sanggup menembusnya, ruang yang menjadi hak Allah Swt sendiri untuk menjelaskannya, yaitu ruang kegaiban, yaitu ruang metafisik di mana Allah swt menyimpan hakikat-hakikat besar dalam kehidupan ini, tentang Dzat-Nya sendiri, dunia malaikat, kehidupan akhirat, dan lainnya.
Kesadaran tentang ruang ini telah menanamkan sikap realisme dalam benak mereka, maka mereka bergerak lincah dalam wilayah itu. Proses kreativitas mereka tumpah ruah disini; dalam semangat merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt di muka bumi, dalam semangat memakmurkan dunia, dalam semangat membangun peradaban. Kesadaran tentang ruang sejak awal membuat peran intelektual dan kerja pemikiran mereka terpola dalam kerangka sebagai arsitek peradaban; bumi ini adalah lanskapnya, dan wahyu adalah kehendak-kehendak Sang Pemilik Kehidupan yang harus diolah menjadi sebuah master plan dan maket, darimana kemudian satuan-satuan kerja mengelola bumi menjadi rumah peradaban tempat manusia menemukan kedamaian dan kesejahteraan hidup, dimulai.
Dan begitulah Rasulullah Saw memberikan tamsil, bahwa silsilah nabi dan rasul yang turun ke bumi ini seperti sebuah bangunan dimana setiap nabi atau rasul menyelesaikan satu tahap pekerjaan, hingga tiba saatnya Allah menutup mata rantai kenabian dimana "Aku," kata Rasulullah Saw, "meletakkan batu terakhir."
Ijtihad: Mata Air Peradaban
Dalam konteks kesadaran tentang ruang dan pemilihan peran subjektif sebagai pembangun peradaban, kerangka kerja intelektual manusia Muslim terpola dalam fungsi-fungsi arsitektural dimana mereka mereka bekerja sebagai desainer, sebagai perancang, sebagai pembuat master plan. Dan begitulah kemudian sebuah karya peradaban besar lahir ke bumi; satu milenium lamanya manusia menikmati sejarah mereka yang terindah di bawah naungan Islam. Dalam fungsi arsitektural itulah metafor Iqbal
menemukan maknanya; dimana hutan-hutan bumi berubah menjadi taman-taman kehidupan yang indah.
Dalam fungsi arsitektural itu juga akal-akal Muslim tumbuh dengan kemampuan berpikir dan berkreasi yang luar biasa pada semua kategori dan tingkatan kemampuan intelektual manusia; kemampuan memahami (daya serap), kemampuan menganalisa (daya analisis), kemampuan mencipta (daya cipta).
Kemampuan itulah yang misalnya terlihat dalam sejarah ekspansi Islam, khususnya pada masa khulafa rasyidin. Dalam bidang politik, masa ekspansi besar-besar yang terjadi selama 30 tahun masa keempat khulafa rasyidin ini, telah disertai dengan peletakan dasar-dasar ketatanegaraan; bentuk dan sistem pemerintahan yang berorientasi global state tapi bersifat desentralis, sistem pemilihan khalifah, sistem administrasi dan keuangan negara yang berkembang pesat khususnya dalam pengelolaan wilayah-wilayah baru, manajemen konflik, dan lainnya. Dalam bidang keamanan dan geostrategi, selama masa ekspansi besar-besaran ini kita menyaksikan kejeniusan para khulafa dalam pengokohan integrasi teritorial dengan menjadikan jazirah Arab sebagai basis, strategi ekspansi dan taktik perang dalam menghadapi dua kekuatan terbesar, Persi dan Romawi.
Kemampuan akal-akal Muslim juga terlihat dalam perkembangan ijtihad dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Usaha menjaga kemurnian dan keotentikan teks al-Qur'an telah dilakukan melalui pengumpulan dan penulisan mushaf pada masa Abu Bakar, dan standarisasi bacaannya pada masa Utsman bin Affan. Sementara itu, usaha menjaga kemurnian dan keotentikan Sunnah telah melahirkan satu metodologi baru yang tidak ada tandingannya dalam semua peradaban lainnya. Selanjutnya dari kedua
sumber itu kemudian lahir berbagai macam ilmu-ilmu keislaman yang struktur dan content yang mandiri dan solid, khususnya ilmu fiqh yang menjadi induk pengetahuan keislaman ketika itu.
Selain perkembangan ilmu-ilmu keislaman, kita juga menyaksikan perkembangan ilmu-ilmu sosial, khususnya yang bersifat terapan. Misalnya ilmu jiwa yang berkembang secara terapan melalui perkembangan ilmu suluk dan akhlaq. Ilmu politik dan ekonomi yang melalui serangkaian ijtihad politik yang timbul sebagai implikasi dari perluasan wilayah Islam. Ilmu sejarah dan sosial mungkin yang berkembang paling pesat, khususnya setelah pembauran berbagai etnis dan budaya selama masa ekspansi. Bahkan pengalaman panjang dalam jihad dan perang telah diformulasi oleh kaum Muslimin menjadi ilmu strategi dan taktik perang.
Demikian juga dalam bidang teknologi. Teknologi maritim, misalnya, telah berkembang pada masa Utsman bin Affan sejalan kebutuhan jihad untuk menghadapi Romawi yang menguasai teknologi itu. Demikian juga industri militer lainnya yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan jihad. Selain teknologi terapan, ilmu-ilmu eksakta, khususnya dalam bidang fisika dan kedokteran, telah berkembang pesat khususnya setelah kaum Muslimin menemukan dan mengembangkan metodologi empiris, yang
hingga kini menjadi sebab perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, justru ketika Romawi menggunakan pendekatan teologi dan filsafat untuk ilmu-ilmu eksakta.
Apa yang ingin ditegaskan disini adalah bahwa, kemampuan akal-akal Muslim tidak hanya pada daya serapnya yang sangat besar terhadap semua jenis ilmu pengetahuan, tapi juga kemampuannya dalam mengkritisi ilmu-ilmu baru yang sampai ke mereka, dan kemudian kemampuannya dalam merekonstruksinya kembali, dan bahkan kemampuannya dalam mencipta ilmu-ilmu baru atau metodologi baru. Dalam konteks itulah kita melihat bagaimana konsep ijtihad dalam Islam telah mewadahi proses kreativitas akal-akal Muslim, dan karenanya, kemudian menjadi mata air peradaban Islam yang tak pernah kering. Akal-akal Muslim itu, dengan kata lain, mampu memahami zamannya, dan sekaligus memberi sesuatu yang kepada zamannya.
Dimanakah Sang Arsitek Itu Kini?
Tapi dimanakah akal-akal besar yang pernah menggoncang peradaban dunia dengan temuan-temuannya itu? Di manakah akal-akal Muslim yang dulu sanggup memahami zamannya dan kemudian memberi sesuatu yang baru bagi zamannya?
Inilah masalah kita. Akal-akal Muslim sekarang, bukan hanya tampak tidak berdaya memahami zamannya, apalagi memberi sesuatu yang baru bagi zamannya, tapi bahkan tidak sanggup memahami dirinya sendiri, tidak sanggup memahami sumber ajarannya sendiri, tidak sanggup memahami warisan peradabannya sendiri. Akal-akal Muslim sekarang tampak mengalami kelumpuhan. Tapi apakah yang membuatnya lumpuh?
Ini bagian paling krusial dari keseluruhan problematika umat kita yang terkait dengan masalah manusia Muslim. Lumpuhnya akal-akal Muslim telah menyebabkan kita kehilangan mata air peradaban. Ketika generasi kemunduran menutup pintu ijtihad, maka mereka telah menutup mata air peradaban. Dan kekeringan inilah yang kini kita warisi dan belum sanggup kita selesaikan, sehingga kita menjadi komunitas global yang hanya hidup di pinggiran sejarah, serta tidak mempunyai campur tangan dalam berbagai peristiwa dunia kecuali hanya sebagai korban.
Kebesaran sejarah akal-akal Muslim yang telah saya sebutkan, bukanlah tempat yang baik untuk melindungi kelumpuhan akal-akal Muslim saat ini. Tapi apabila Allah Swt telah menetapkan bahwa Ia tidak akan merubah keadaan suatu masyarakat sampai masyarakat itu sendiri merubah dirinya sendiri, maka sekarang kita mengetahui bahwa perubahan atas diri sendiri itu harus dimulai dari sini; merubah cara berpikir kita, dan merekonstruksinya agar ia mampu mengemban fungsi-fungsi arsitektural kembali, agar ia mampu merubah hutan-hutan bumi menjadi taman-taman kehidupan yang indah.
Apa yang harus kita lakukan untuk itu adalah memperbaiki cara kita memahami sumber-sumber ajaran kita, Qur'an dan Sunnah, serta warisan intelektual dari peradaban kita. Dengan begitu kita dapat menemukan sistem dan metodologi pemikiran kita sendiri, untuk kemudian secara kritis dan independen berinteraksi dengan realitas zaman kita, dengan segala muatan peradabannya, dan selanjutnya menemukan jalan untuk merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt dalam kehidupan kita. Dalam di tengah jalan itulah kita menciptakan semua yang kita perlukan untuk sampai ke titik akhir tujuan kita; dimana ada hutan belantara yang menjelma jadi taman kehidupan yang indah.
Minggu, 18 Januari 2009
MENCABUT DURI DALAM DAGING
Memang menyakitkan. Bahwa setelah lebih dari setengah abad merdeka, Indonesia masih terus mengalami “keterbelahan ideologi” akibat masuknya sekulerisme, baik yang diciptakan tangan-tangan imperialis, maupun yang masuk melalui proses globalisasi. Para pemimpin yang datang silih berganti selalu memimpin negeri Muslim terbesar di dunia ini dengan ideologi dan sistem pembangunan yang “tidak kompatibel” dengan akar ideologi dan budaya masyarakat.
Dampaknya juga menyakitkan. Bangsa Indonesia bukan saja terjebak dalam potensi konflik ideologi berkepanjangan, tapi kita juga sulit bersinergi membangun bangsa dan negara. Terpuruklah kita dalam waktu lama. Lantas negara kaya raya ini dihuni orang-orang paling miskin di dunia.
Membangun negara dengan ideologi dan sistem yang tidak lahir dari akar ideologi dan budaya bangsa akan melahirkan benturan-benturan psikososial, yang jutsru akan menghambat proses pembangunan itu sendiri.
Masalah jadi kian rumit bersama munculnya kebiasaan memaksakan kehendak dari para penguasa sekuler dengan menggunakan kekuatan militer. Meminggirkan Islam dan ummatnya dari proses penyelenggaraan negara atau akses ekonomi mungkin bisa berhasil pada suatu rezim diktator. Tapi akibatnya juga fatal: pergantian kepemimpinan nasional di negeri kita selalu berdarah-darah. Kesabaran rakyat yang panjang tiba-tiba berubah jadi amuk berdarah. Maka jatuhlah Soekarno. Jatuh pula Soeharto.
Meminggirkan Islam dan ummatnya yang notabene mayoritas di negeri ini --dari percaturan politik atau ekonomi-- hanya akan menciptakan ketidakseimbangan sosial politik yang panjang, yang setiap saat mengancam integritas dan keutuhan bangsa.
Bangsa kita tidak akan pernah benar bisa bertumbuh dengan baik, jika sekulerisme masih bekerja bagai duri dalam daging: virus-virusnya mematikan sel-sel bangsa kita yang sedang tumbuh. Ia terlepas dari basis identitas dan akar budayanya. Kita tidak dapat membayangkan bangsa ini bisa tumbuh jadi besar kalau kelompok mayoritasnya adalah yang termiskin dan tidak memegang kendali politik atas negerinya sendiri. Potensi ledakan disintegrasi akan selalu ada bagai bara dalam sekam.
Faktanya kita kalah
Walaupun begitu, tidak juga merupakan sikap ksatria kalau kita tidak mau merendah untuk mengakui sebuah fakta besar: bahwa sejak pemilu 1955 hingga pemilu 1999 perimbangan perolehan suara Islam dan sekuler selalu di kisaran 40 (Islam) : 60 (sekuler). Jadi bahkan dalam sebuah prosedur yang demokratis pun mayoritas umat Islam belum tentu berafiliasi secara ideologi kepada Islam. Agama tidak mempengaruhi pilihan politik mereka.
Kira-kira dengan fakta itu kita bisa mengatakan --selanjutnya-- bahwa gerakan-gerakan Islam di Indonesia selama ini --seperti Muhammadiyah dan NU-- belum berhasil mengembalikan afiliasi ummat kepada Islam. Pemikir-pemikir sekuler nampaknya lebih berhasil mensosialisasi pemikiran-pemikiran mereka di kalangan ummat. Mereka lebih agresif, lebih pandai dalam mengemas gagasan, lebih pintar memilih pola pendekatan, lebih solid dalam organisasi, lebih banyak sarana dan lebih luas pula jaringannya.
Bahkan pengaruh sekulerisme justru terasa masuk dalam rongga besar pemikiran gerakan-gerakan Islam. Jadi di jantung pertahanan kita pun sekulerisme itu merasuki kita. Akibatnya polarisasi dalam tubuh umat Islam makin parah. Kadang bahkan terasa kalau keragaman dalam tubuh umat Islam jauh lebih rumit daripada keragaman dalam tubuh bangsa.
Faktanya mereka lebih merusak
Adalah ksatria untuk mengakui fakta kekalahan kita. Tapi juga penting untuk mengetahui tingkat kerusakan yang kita alami akibat kekalahan itu. Sekarang saja misalnya, penguasa sekuler saat ini luar biasa merusaknya. Bayangkanlah di tengah kita saat ini hidup 40 juta orang miskin, beban utang luar negeri sebesar 1600 trilyun yang bunganya setiap tahun kita bayar melalui APBN sebesar 80 trilyun. Sementara APBN kita kedodoran, penguasa sekarang mengambil jalan pintas: jual murah seluruh asset negara untuk menutupi defisit tersebut. Itu menciptakan transaksi besar, tapi juga celah korupsi yang tidak terbayangkan.
Tidak ada usaha yang cerdas untuk mendatangkan investasi asing guna memicu pertumbuhan ekonomi. Bagaimana investor asing mau datang kesini kalau yang menyambut mereka justru para koruptor dari sebuah negara rimba tanpa kepastian hukum? Apa yang akan mendatangkan investor asing kalau institusi hukum tertinggi di negeri kita, Mahkamah Agung, jutsru tampil dengan lakon paling memalukan dalam drama satu babak jual beli hukum ketika mereka menerima permohonan kasasi Akbar Tanjung.
Sementara negara-negara ASEAN mengalami pemulihan ekonomi dari krisis tahun 1997, Indonesia kita justru makin terpuruk sampai ke dasar krisis yang tidak tertanggungkan. Bahkan ledakan disintegrasi yang mungkin ditimbulkan oleh krisis ini --di tengah penguasa sekuler yang korup dan tidak peduli-- sekarang mulai jadi ancaman destabilisasi kawasan ASEAN.
Konsolidasi perlawanan
Diantara kekalahan kita dan kerusakan yang diciptakan para penguasa sekuler kita berhadapan dengan sebuah tantangan besar: bagaimana mengkonsolidasi perlawanan untuk mengembalikan kepemimpinan bangsa ke tangan ummat atau --paling tidak-- kepada kekuatan reformis yang bertemu dengan ummat pada semangat reformasi.
Dalam semangat reformasi kepentingan kita pada tiga lapisannya bertemu dengan kepentingan kaum reformis. Yaitu kepentingan untuk menyelamatkan bangsa, membuka jalan masuk bagi ummat dari pinggir ke tengah, dan memberi ruang partisipasi bagi sumber daya manusia da'wah untuk ikut mengelola negara.
Ini bukan aliansi ideologi. Ini adalah aliansi strategis. Yaitu aliansi kekuatan-kekuatan strategis --Islam dan reformis-- untuk kepentingan-kepentingan strategis bersama. Aliansi ini diusung untuk memenangkan “agenda”, bukan “tokoh”. Tokoh --dalam aliansi ini-- adalah semata-mata “bagian” dari strategi, dan “tidak boleh lebih besar dari strategi”. Sebagai bagian dari strategi, tugas kita adalah mengkonsolidasi faktor-faktor kemenangan di mana tokoh merupakan salah satunya. Memperjuangkan tokoh hanya akan meruncingkan konflik dan menyulitkan kemungkinan pertemuan kedua kekuatan tersebut.
Dalam kaitan itu, maka tokoh yang kita dukung adalah mereka yang memenuhi dua kriteria sekaligus: memenuhi atau mendekati kriteria ideal seorang pemimpin, sekaligus memiliki peluang menang yang besar. Peluang untuk memenangkan pertarungan melawan kekuatan sekuler pro status quo hanya dapat diraih oleh tokoh yang memiliki basis dukungan massa yang luas, mesin politik yang canggih, jaringan media dan dana yang besar.
Dalam keadaan dimana kemampuan-kemampuan itu tidak ditemukan pada tokoh-tokoh Islam, maka kita harus memberikan kesempatan kepada tokoh reformis lain yang dapat mengakomodasi tiga lapisan kepentingan kita.
Tapi untuk kepentingan membangun aliansi strategis itu kita harus bersikap sangat proaktif, dan tidak bersikap diam seperti seorang gadis yang dengan apatis menunggu datangnya sang Pelamar. Kita harus belajar untuk mendapatkan kendali yang lebih besar jika kita ingin orang lain mengakomodasi kepentingan-kepentingan kita.
Kita juga harus memiliki kemampuan menilai orang lain secara objektif, dan menjauhkan sedapat mungkin kebiasaan menilai orang berdasarkan suka atau tidak suka, kagum atau tidak kagum. Kita harus memandang setiap orang sebagai aktor-aktor yang memainkan peran yang berbeda-beda. Jadi yang penting adalah skenarionya, baru kemudian aktornya.
Langkah ini mengharuskan kita meninggalkan fanatisme ketokohan dan sekaligus membangun kerendahan hati untuk mengapresiasi kekuatan-kekuatan pihak lain. Kita tidak sedang berjuang untuk gengsi sebuah organisasi, tapi untuk agenda sebuah ummat. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang dengan kebesaran jiwa mau melakukan kerja-kerja perekatan dan usaha-usaha match-making (penyelarasan) dari keragaman-keragaman yang dapat dikonsolidasi menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Orang-orang itu mungkin takkan terlihat di depan layar. Tapi mereka bekerja untuk memastikan bahwa skenario berjalan sesuai rencana, dan para aktor bermain cemerlang.
Dampaknya juga menyakitkan. Bangsa Indonesia bukan saja terjebak dalam potensi konflik ideologi berkepanjangan, tapi kita juga sulit bersinergi membangun bangsa dan negara. Terpuruklah kita dalam waktu lama. Lantas negara kaya raya ini dihuni orang-orang paling miskin di dunia.
Membangun negara dengan ideologi dan sistem yang tidak lahir dari akar ideologi dan budaya bangsa akan melahirkan benturan-benturan psikososial, yang jutsru akan menghambat proses pembangunan itu sendiri.
Masalah jadi kian rumit bersama munculnya kebiasaan memaksakan kehendak dari para penguasa sekuler dengan menggunakan kekuatan militer. Meminggirkan Islam dan ummatnya dari proses penyelenggaraan negara atau akses ekonomi mungkin bisa berhasil pada suatu rezim diktator. Tapi akibatnya juga fatal: pergantian kepemimpinan nasional di negeri kita selalu berdarah-darah. Kesabaran rakyat yang panjang tiba-tiba berubah jadi amuk berdarah. Maka jatuhlah Soekarno. Jatuh pula Soeharto.
Meminggirkan Islam dan ummatnya yang notabene mayoritas di negeri ini --dari percaturan politik atau ekonomi-- hanya akan menciptakan ketidakseimbangan sosial politik yang panjang, yang setiap saat mengancam integritas dan keutuhan bangsa.
Bangsa kita tidak akan pernah benar bisa bertumbuh dengan baik, jika sekulerisme masih bekerja bagai duri dalam daging: virus-virusnya mematikan sel-sel bangsa kita yang sedang tumbuh. Ia terlepas dari basis identitas dan akar budayanya. Kita tidak dapat membayangkan bangsa ini bisa tumbuh jadi besar kalau kelompok mayoritasnya adalah yang termiskin dan tidak memegang kendali politik atas negerinya sendiri. Potensi ledakan disintegrasi akan selalu ada bagai bara dalam sekam.
Faktanya kita kalah
Walaupun begitu, tidak juga merupakan sikap ksatria kalau kita tidak mau merendah untuk mengakui sebuah fakta besar: bahwa sejak pemilu 1955 hingga pemilu 1999 perimbangan perolehan suara Islam dan sekuler selalu di kisaran 40 (Islam) : 60 (sekuler). Jadi bahkan dalam sebuah prosedur yang demokratis pun mayoritas umat Islam belum tentu berafiliasi secara ideologi kepada Islam. Agama tidak mempengaruhi pilihan politik mereka.
Kira-kira dengan fakta itu kita bisa mengatakan --selanjutnya-- bahwa gerakan-gerakan Islam di Indonesia selama ini --seperti Muhammadiyah dan NU-- belum berhasil mengembalikan afiliasi ummat kepada Islam. Pemikir-pemikir sekuler nampaknya lebih berhasil mensosialisasi pemikiran-pemikiran mereka di kalangan ummat. Mereka lebih agresif, lebih pandai dalam mengemas gagasan, lebih pintar memilih pola pendekatan, lebih solid dalam organisasi, lebih banyak sarana dan lebih luas pula jaringannya.
Bahkan pengaruh sekulerisme justru terasa masuk dalam rongga besar pemikiran gerakan-gerakan Islam. Jadi di jantung pertahanan kita pun sekulerisme itu merasuki kita. Akibatnya polarisasi dalam tubuh umat Islam makin parah. Kadang bahkan terasa kalau keragaman dalam tubuh umat Islam jauh lebih rumit daripada keragaman dalam tubuh bangsa.
Faktanya mereka lebih merusak
Adalah ksatria untuk mengakui fakta kekalahan kita. Tapi juga penting untuk mengetahui tingkat kerusakan yang kita alami akibat kekalahan itu. Sekarang saja misalnya, penguasa sekuler saat ini luar biasa merusaknya. Bayangkanlah di tengah kita saat ini hidup 40 juta orang miskin, beban utang luar negeri sebesar 1600 trilyun yang bunganya setiap tahun kita bayar melalui APBN sebesar 80 trilyun. Sementara APBN kita kedodoran, penguasa sekarang mengambil jalan pintas: jual murah seluruh asset negara untuk menutupi defisit tersebut. Itu menciptakan transaksi besar, tapi juga celah korupsi yang tidak terbayangkan.
Tidak ada usaha yang cerdas untuk mendatangkan investasi asing guna memicu pertumbuhan ekonomi. Bagaimana investor asing mau datang kesini kalau yang menyambut mereka justru para koruptor dari sebuah negara rimba tanpa kepastian hukum? Apa yang akan mendatangkan investor asing kalau institusi hukum tertinggi di negeri kita, Mahkamah Agung, jutsru tampil dengan lakon paling memalukan dalam drama satu babak jual beli hukum ketika mereka menerima permohonan kasasi Akbar Tanjung.
Sementara negara-negara ASEAN mengalami pemulihan ekonomi dari krisis tahun 1997, Indonesia kita justru makin terpuruk sampai ke dasar krisis yang tidak tertanggungkan. Bahkan ledakan disintegrasi yang mungkin ditimbulkan oleh krisis ini --di tengah penguasa sekuler yang korup dan tidak peduli-- sekarang mulai jadi ancaman destabilisasi kawasan ASEAN.
Konsolidasi perlawanan
Diantara kekalahan kita dan kerusakan yang diciptakan para penguasa sekuler kita berhadapan dengan sebuah tantangan besar: bagaimana mengkonsolidasi perlawanan untuk mengembalikan kepemimpinan bangsa ke tangan ummat atau --paling tidak-- kepada kekuatan reformis yang bertemu dengan ummat pada semangat reformasi.
Dalam semangat reformasi kepentingan kita pada tiga lapisannya bertemu dengan kepentingan kaum reformis. Yaitu kepentingan untuk menyelamatkan bangsa, membuka jalan masuk bagi ummat dari pinggir ke tengah, dan memberi ruang partisipasi bagi sumber daya manusia da'wah untuk ikut mengelola negara.
Ini bukan aliansi ideologi. Ini adalah aliansi strategis. Yaitu aliansi kekuatan-kekuatan strategis --Islam dan reformis-- untuk kepentingan-kepentingan strategis bersama. Aliansi ini diusung untuk memenangkan “agenda”, bukan “tokoh”. Tokoh --dalam aliansi ini-- adalah semata-mata “bagian” dari strategi, dan “tidak boleh lebih besar dari strategi”. Sebagai bagian dari strategi, tugas kita adalah mengkonsolidasi faktor-faktor kemenangan di mana tokoh merupakan salah satunya. Memperjuangkan tokoh hanya akan meruncingkan konflik dan menyulitkan kemungkinan pertemuan kedua kekuatan tersebut.
Dalam kaitan itu, maka tokoh yang kita dukung adalah mereka yang memenuhi dua kriteria sekaligus: memenuhi atau mendekati kriteria ideal seorang pemimpin, sekaligus memiliki peluang menang yang besar. Peluang untuk memenangkan pertarungan melawan kekuatan sekuler pro status quo hanya dapat diraih oleh tokoh yang memiliki basis dukungan massa yang luas, mesin politik yang canggih, jaringan media dan dana yang besar.
Dalam keadaan dimana kemampuan-kemampuan itu tidak ditemukan pada tokoh-tokoh Islam, maka kita harus memberikan kesempatan kepada tokoh reformis lain yang dapat mengakomodasi tiga lapisan kepentingan kita.
Tapi untuk kepentingan membangun aliansi strategis itu kita harus bersikap sangat proaktif, dan tidak bersikap diam seperti seorang gadis yang dengan apatis menunggu datangnya sang Pelamar. Kita harus belajar untuk mendapatkan kendali yang lebih besar jika kita ingin orang lain mengakomodasi kepentingan-kepentingan kita.
Kita juga harus memiliki kemampuan menilai orang lain secara objektif, dan menjauhkan sedapat mungkin kebiasaan menilai orang berdasarkan suka atau tidak suka, kagum atau tidak kagum. Kita harus memandang setiap orang sebagai aktor-aktor yang memainkan peran yang berbeda-beda. Jadi yang penting adalah skenarionya, baru kemudian aktornya.
Langkah ini mengharuskan kita meninggalkan fanatisme ketokohan dan sekaligus membangun kerendahan hati untuk mengapresiasi kekuatan-kekuatan pihak lain. Kita tidak sedang berjuang untuk gengsi sebuah organisasi, tapi untuk agenda sebuah ummat. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang dengan kebesaran jiwa mau melakukan kerja-kerja perekatan dan usaha-usaha match-making (penyelarasan) dari keragaman-keragaman yang dapat dikonsolidasi menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Orang-orang itu mungkin takkan terlihat di depan layar. Tapi mereka bekerja untuk memastikan bahwa skenario berjalan sesuai rencana, dan para aktor bermain cemerlang.
Langganan:
Postingan (Atom)
