Senin, 19 Januari 2009
BAITUT DAKWAH
"Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita."
"Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita."
"Siapa sih sepagi ini mengintai kita?" sang ibu balik bertanya.
"Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita."
Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, 'Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.
Tuan & Nyoya Da'wah yang saya hormati,
Tentu saja istilah baitu da'wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato. Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti laiknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.
Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. "Keterlambatan" itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukan kerja diluar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.
Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami, atau istri biologis. Sangat kasar kalau diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral "pewarisan nilai-nilai kehidupan" dalam kehidupan mereka tak soal. Buktinya, tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa ada anak manusia bertingkahlaku babi, serigala, harimau, atau musang.
Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak-ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru. Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islami yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.
Misteri Berkah
Saat ini ada beberapa keluarga sederhana, dibimbing oleh "intuisi" kebapakan dan keibuan, mendapat berkah dalam mendidik anak-anak mereka. Anak SMU-nya lulus dengan baik, plus hafal 1000 Alfiah Ibnu Malik, rujukan utama gramatika Arab (Nahwu). Lumayan mengagumkan, jebolan SMU menjadi rujukan sesama mahasiswa di sebuah Universitas terkemuka di negara Arab. Tahun-tahun berikutnya sang adik menyusul dengan hak beasiswa ke sebuah universitas unggulan di Eropa.
Lainnya bisa melakoni dua kuliah yang "pelik" : bahasa Arab di sebuah kolese paling representatif sementara siangnya mengambil jurusan Ekonomi. Kemenakannya hafal Al-Qur'an 30 juz menjelang akhir semester delapan di institut teknologi paling bergengsi di negeri ini. Kemenakan lainnya lulus akademi militer angkatan darat tanpa kehilangan kesantriannya yang pekat.
Sang bapak jauh dari penguasaan teori ilmu-ilmu pendidikan. Ketika digali hal yang spesial dari kelakuannya, muncul jawaban yang signifikan : Kecintaan keluarga tersebut kepada ulama (dalam arti yang sesungguhnya) dan keberaniannya amar ma'ruf nahi mungkar tanpa harus selalu mengandalkan mimbar tabligh. Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, "Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma'ruf nahi mungkar, maka anak, isteri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya."
Ternyata memang, keikhlasan seseorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya. Boleh jadi seseorang merasa telah mejadi bagian dari da'wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da'i yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da'iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da'wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.
Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi Keikhlasan yang "naif" Nabi Ibrahim yang rela -demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (QS.Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.
Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur'an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah -ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW- di malam yang sangat berlasan baginya untuk "meratapi" bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh -yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi yang sangat berbeda.
Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid : "'Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar." (QS.37:102)
Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata, saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, "Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari airbah." (QS.11:43)
Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:
"Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri."
ASAS PENYIKAPAN
Di sini ada beberapa nilai yang menentukan mutu sikap dan keputusan politik.
Pertama, sejauh mana sikap dan keputusan politik itu tepat dengan situasi, tempat, momentum, orang, dan insdtusinya. Jadi, bukan sekedar sikap dan keputusan yang benar, tapi sikap dan keputusan benar yang tepat! Kebenaran dan ketepatan adalah dua substansi yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik.
Kedua, sejauh mana sikap dan keputusan polidk itu efektif bekerja mengantar kita mencapai tujuan yang ingin kita capai. Efektivitas untuk sebagiannya terkait dengan tingkat kebenaran-ketepatan sikap dan keputusan politik, tapi untuk sebagiannya terkait dengan cara apa sikap dan keputusan politik itu diekspresikan. Efektivitas terkait dengan fungsi penyikapan dan pengambilan keputusan, terkait dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh sikap dan keputusan politik tersebut.
Ketiga, sejauh mana kita dapat mempertahankan konsistensi dalam penyikapan dan pengambilan keputusan politik. Dalam situasi yang terus berubah, "durasi kebenaran" seringkali tidak bertahan lama atau kita kemudian kehilangan arah dan pegangan dasar sehingga sikap dan keputusan politik kita tidak lagi konsisten. Konsistensi yang menentukan warna dasar dari karakter kita secara kolektif; apakah warna dasar itu bernama kebenaran atau kepentingan, idealisme atau pragmatisme.
Itulah tiga nilai utama yang menentukan mutu sebuah sikap dan keputusan politik yang kita ambil: ketepatan, efektivitas, dan konsistensi. Ketiganya terkait dengan dua sisi yang senanriasa melekat pada sikap dan keputusan politik yang kita ambil. Sisi pertama terkait dengan substansi sikap dan keputusan politik yang kita ambil, yaitu tentang muatan kebenaran syar'i. Sedang sisi kedua terkait dengan proses penentuan sikap dan pengambilan keputusan politik, yaitu tentang cara yang kita tempuh, apakah sudah benar atau tidak.
Muatan dan proses
Muatan kebenaran dalam sebuah sikap dan keputusan polidk sesungguhnya ditentukan oleh referensi dan metode yang kita gunakan. Bagi kita kaum muslimin, sudah tentu kebenaran yang kita maksud adalah kebenaran syar'i. Karenanya, referensi kita dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan politik adalah merujuk pada syariat Islam. Sedang metode yang kita pakai adalah ijtihad. Akan tetapi, ijtihad yang benar hanya dapat dilakukan jika kita menggabungkan dua pengetahuan sekaligus, pengetahuan tentang syariat Islam yang mendalam dan pada waktu yang sama, juga pengetahuan yang mendalam dan mendetil tentang realitas kehidupan politik yang kita hadapi. Yang pertama kita sebut dengan "fiqhi wahyu", yang kedua "fiqhi realitas".
Yang kita lakukan dalam ijtihad adalah bagaimana memberlakukan kebenaran-kebenaran wahyu Allah swt. dalam realitas kehidupan manusia.Jadi, fungsi ijtihad itu menempatkan setiap kebenaran wahyu pada realitasnya, pada dunianya yang tepat. Artinya, nilai ijtihad itu pada ketepatannya.
Namun demikian, ada satu hal yang harus kita tegaskan di sini. Yaitu, secara substansial seluruh ajaran syariat Islam berorientasi pada kebaikan dan kepentingan hidup manusia. Itulah sebabnya Ibnu Taymiah mengatakan, di rnanapun ada kemaslahatan bagi manusia, disitu pasti terdapat syariat Allah. Jadi, syariat Islam mengakomodasi segala hal yang menciptakan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia. Karena itu, Al-Syathiby mengatakan, inti politik Islam adalah mendatangkan maslahat sebanyak-banyaknya bagi manusia dan menolak mudharat sebanyak-banyaknya dari manusia.
Kemaslahatanlah yang kemudian menentukan sikap dan keputusan politik kita. Termasuk juga di dalarnnya menentukan semua perubahan yang terjadi dalam sikap dan keputusan politik kita. Jadi, andaikan kita mendukung seseorang untuk menduduki suatu jabatan tertentu, lantas kemudian kita mengubah sikap dengan memintanya meninggalkan jabatan itu, semua perubahan itu dapat dipahami dari pendekatan maslahat
Jadi, asas penentuan sikap dan pengambilan keputusannya adalah "asumsi" maslahat yang terdapat dalam perkara itu, Karena sifatnya asumsi, maka sudah pasti relatif. Dan karena relatif, sangatlah mudah mengalami perubahan.
Namun demikian, asumsi yang kita gunakan dalam sebuah ijtihad adalah asumsi yang kuat (zhonn rajih} yang mempunyai dasar pada fakta-fakta, pertimbangan-pertimbangan rasional, dan idealita yang kita inginkan. Jika sebuah asumsi dibentuk dari realitas, rasionalitas, dan idealitas, kita berharap peluang kesalahannya menjadi lebih kecil. Dan, kelemahan itu dapat kita tutupi dengan niat yang ikhlas serta tawakkal kepada Allah swt.
Adapun sisi yang terkait dengan proses adalah lembaga pengambilan keputusan itu sendiri. Yaitu, apa yang kemudian kita sebut dengan syuro. Karena kemaslahatan itu didefenisikan melalui sejumlah asumsi dasar, dengan merujuk kepada realitas, rasionalitas, dan idealitas, sudah tentu akal kolektif lebih baik daripada akal individu. Karena itu, keputusan bersama selalu lebih baik daripada keputusan individu.
Tapi, apakah setiap syuro dengan sendirinya selalu melahirkan sikap dan keputusan politik yang bermutu? Tentu saja tidak ada jaminan. Tapi, peluangnya lebih besar. Meski begitu, masalah ini tetap perlu didalami lebih jauh.
CERMIN KEBENARAN
Tampaknya dengan sengaja Ibnu Katsir mengawali bahasan sejarahnya dalam Awal dan Akhir dengan cerita tadi. Tiba-tiba sejarah terbentang sebagai sebuah cerita penciptaan tanpa henti. Dari Allah awalnya, dan kelak kesana akhirnya. Tapi jika Allah tidak mendapatkan manfaat dari ciptaan-ciptaan-Nya, maka tidak ada yang dapat menjelaskan motif di balik cerita kehidupan itu kecuali hanya satu kata: cinta!
“Maka”, kata Ibnul Qoyyim dalam Taman Para Pencinta, “semua gerak di alam raya ini, di langit dan bumi, adalah gerak yang lahir dari kehendak dan cinta.” Dengan dan untuk itulah alam ini bergerak. Kehendak dan cintalah alasan pergerakan dan perhentiannya. Bahkan dengan dan untuk kehendak dan cinta jugalah alam ini diciptakan. Maka tak satupun makhluk di alam ini yang bergerak kecuali bahwa kehendak dan cintalah motif dan tujuannya. Sesungguhnya hakikat cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya. Maka cinta adalah gerak tanpa henti. Dan inilah makna kebenaran ketika Allah mengatakan: “Dan tiadalah Kami menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antaranya kecuali dengan kebenaran.” (QS. Al Hijr:85)
Jadi cinta adalah makna kebenaran dalam penciptaan. Itu sebabnya, hati yang dipenuhi dengan cinta lebih mudah dan cepat menangkap kebenaran. Cinta tidak tumbuh dalam hati yang dipenuhi keangkuhan, angkara murka dan dendam. Cinta melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Cinta adalah cahaya yang memberikan kekuatan penglihatan pada mata hati kita. Begitulah cinta akhirnya membimbing tangan Abu Bakar, Al Najasyi, atau Cat Steven kepada Islam. Begitu juga akhirnya keangkuhan menyesatkan Abu Jahal, Heraklius, atau Saddam Husein. Cinta dalam jiwa, kata Iqbal, serupa penglihatan pada mata.
Pengetahuan bahkan bisa menyesatkan kalau ia tidak dibimbing oleh kelembutan tangan cinta. Itu kebutaan, kata Enstein. Sebab ia tidak melahirkan pengakuan dan kerendahan hati. Itu juga yang menjelaskan mengapa ilmu pengetahuan modern justru menjauhkan Barat dari Tuhan. Disana cinta tidak membimbing pengetahuan. Maka dengan penuh keyakinan Iqbal kemudian berkata dalam Javid Namah:
Pengetahuan bersemayam dalam pikiran,
Tempat cinta ialah hati yang sadar-jaga,
Selama pengetahuan yang tak sedikit juga mengandung cinta,
Adalah itu hanya permainan sulap si Samiri;
Pengetahuan tanpa Ruh Kudus hanya penyihiran.
CUKUPLAH KEMATIAN SEBAGAI NASEHAT
Penulis:
“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu
kematian!” (HR. Tirmidzi)
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian.
Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak
pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar
tak lari menyimpang.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu
banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang
mungkin sering kita rasakan dan lakukan.
1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa
berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa
lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana
tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang
menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik
pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan
itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, “Telah dekat kepada manusia hari
menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian
lagi berpaling (daripadanya).”
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata.
Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, “Ya Allah, mundurkan ajalku
sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar
ketinggalan.” Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan,
kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.
Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, “Dan berikanlah
peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang
azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: ‘Ya Tuhan kami,
beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami
akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul….”
2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka
kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang
telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan ‘habis’, usai sudah
permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras
akan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun.
Padahal, sandiwara sudah berakhir.
Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat
selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya.
Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang
menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya
akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang
sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan
menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif
kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua
berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.
3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa
Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh
ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau
miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur
bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu.
Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa.
Cuma tubuh kecil yang telanjang.
Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita
meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta
dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan
pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.
Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika
peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan
seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan,
bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupan
pun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah
khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia
ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan
antara dirinya dengan kenikmatan saat ini.
Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga
yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar.
Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama
kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian
berakhir.
5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar
bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman.
Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam
tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia
tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.
Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah
Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya
mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya
untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu
yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang
menghargai arti kehidupan.
------------------------------
INGAT MATI, HIDUP BERARTI
Penulis:
Hidup dan kematian seolah dua lembah yang saling berpisah. Satu sama
lain seperti tak berhubungan. Sebagian orang pun mengatakan,
bersenang-senanglah di lembah yang satu. Dan, jangan pedulikan lembah
lainnya. Padahal, hidup dan kematian tak ubahnya seperti dua pintu dalam
satu ruang. Orang tak akan paham makna hidup, sebelum ia merasai
bagaimana kematian.
Tak ada sebuah hadiah yang begitu berarti buat seorang mukmin sepanjang
hidupnya melebihi kematian. Itulah hadiah Allah yang hanya mampu
diterjemahkan oleh mereka yang begitu rindu dengan Kekasihnya yang
sejati. Dunia, seberapa pun indahnya, tak lebih dari penjara yang
membelenggu diri dalam ketidaknyamanan dan keterpaksaan.
Seperti itulah ungkapan Rasulullah saw dalam sebuah hadits riwayat Ibnu
Abid Dunya, Thabarani dan Hakim. “Hadiah yang pelik untuk seorang mukmin
ialah kematian.”
Itulah kematian. Ia bagaikan garis pemisah antara panggung kepura-puraan
dengan kehidupan yang sebenarnya. Garis yang memisahkan aneka lakon dan
peran dengan sosok asli seorang manusia. Garis yang akhirnya menyatakan
kesudahan segala peran dan dikembalikannya segala alat permainan.
Sayangnya, tak sedikit manusia yang lebih cinta dengan dunia pura-pura.
Mereka pun berkhayal, andai kepura-puraan bisa buat selamanya. Bisa
berpuas diri dengan aneka lakon dan peran. Tanpa disadari, kecintaan itu
pun berujung pada kebencian. Benci pada kematian.
Seperti itulah tabiat anak kecil yang begitu asyik dengan main-mainnya.
Mereka lupa kalau sore sudah hampir lewat, dan malam pun akan menjelang.
Bahkan, mereka pun lari ketika diminta mandi. Padahal, mandi menjadikan
tubuhnya terasa nyaman berteman malam. Dan kemana pun sang anak lari,
mereka tak akan mampu bersembunyi dari kemestian malam.
Allah swt menggambarkan orang-orang yang lari dari kematian. Seperti
dalam firmanNya di surah Al-Jumu’ah ayat 8, “Katakanlah: kematian yang
kamu lari daripadanya itu sesungguhnya akan menemui kamu, kemudian kamu
akan dikembalikan kepada Tuhan Maha Tahu hal yang tersembunyi dan yang
terang, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Ketakutan adalah alasan yang paling lumrah buat mereka yang tetap lari
dari kematian. Banyak alasan kenapa harus takut. Pertama, mereka takut
berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai
sudah pesta kenikmatan. Karena kehidupan sudah terlanjur mereka
terjemahkan sebagai kenikmatan. Hanya kenikmatan.
Kedua, ada ungkapan batin yang tidak mereka sadari. Bahwa, mereka enggan
berjumpa dengan Allah. Sebagaimana, mereka selalu menghindar dari
perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka lakukan. Keengganan itu
sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun enggan bertemu
mereka, sebagaimana mereka enggan bertemu Allah.
Rasulullah saw menjelaskan hal itu dalam hadits riwayat Bukhari dan
Muslim. “Barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, maka Allah juga
benci bertemu dengan orang itu.”
Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan kerinduan yang
diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama lagi ajal
kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau
mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan,
sakit itu lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku
bahagia daripada hidup, maka permudahkanlah kematian itu untukku.
Sehingga aku dapat bertemu dengan-Mu.”
Ketiga, boleh jadi ketakutan terhadap kematian lebih karena
ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika diminta mandi.
Karena yang diketahui anak tentang mandi tak lebih dari dingin, dipaksa
ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian. Kematian
bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, harta
dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah.
Di situlah perbedaan mendasar antara hamba Allah yang baik dengan yang
buruk. Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran tentang kematian dari
Rasulullah saw. “Aku mendatangi Nabi saw sebagai orang yang kesepuluh
dari sepuluh yang mendatangi Rasul. Kemudian, ada seorang dari kaum
Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai dan mulia, ya
Rasulullah?’ Beliau saw menjawab, ‘Yaitu, orang yang terbanyak ingatnya
kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah
orang-orang yang akan pergi dengan kemuliaan dunia dan akhirat.” (HR.
Ibnu Majah)
Bagi hamba Allah, tak ada kemuliaan apa pun dari tetap menjaga
ingatannya dengan kematian. Bahkan, seorang yang berada pada puncak
kekuasaan sekalipun. Setidaknya, itulah yang hendak diungkapkan seorang
Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hampir sepanjang usia kekuasaannya, tak
pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian. Caranya
begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling
mengingatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat.
Kemudian, semuanya pun menangis. Seakan-akan, di samping mereka ada
jenazah yang sedang ditangisi.
Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi
sosok yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya
yang mengeluh. Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa
hidup Umar bin Abdul Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi
pengingat sejati.
Jadi, kehidupan dan kematian tak lagi menjadi dua lembah yang saling
terpisah. Kematian mengingatkan kehidupan agar tetap menjadi sesuatu
yang berarti. Bahkan, teramat berarti. Dan kehidupan mengingatkan
kematian sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik
kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian.
IZINKAN KAMI MENATA ULANG TAMAN INDONESIA
(Malik Bin Nabi, Ta`ammulat; 35)
Ledakan Energi Peradaban
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan, Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu.
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,
Merah Putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi.
Tapi peluru logam telah kami patahkan alam doa bersama,
dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.
(Taufik Ismail, 1998)
Begitulah Taufik Ismail lewat sajak berjudul 12 Mei 1998 mengabadikan kepahlawanan empat mahasiswa Trisakti yang gugur diterjang peluru kediktatoran rezim Orde Baru; Elang Mulyana, Hery Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidin Royan. Mereka adalah sebagian dari pelaku baru sejarah Indonesia dan sekaligus fajar yang menandai lahirnya generasi baru, generasi 1998.
Ibu pertiwi seperti menepati janjinya. Janji untuk melahirkan anak-anak yang setia pada cita-cita luhurnya; anak-anak yang membawa keberanian ditengah ketakutan, mengibarkan bendera perlawanan terhadap penindasan, memekikkan gaung pembelaan di tengah pengkhianatan; anak-anak yang memberikan darahnya dengan tulus sebagai mahar untuk kebebasan dan keadilan; anak-anak yang meninggalkan kenikmatan masa mudanya dengan penuh cinta untuk hidup dalam debu dan deru jalanan, bahkan menyerahkan hidupnya agar bangsa ini bisa hidup dengan cara yang lebih baik.
Maka sejarah panjang bangsa ini, setidak-tidaknya dalam hitungan abad ini, ditandai dengan kelahiran generasi demi generasi pada setiap persimpangan sejarah. Jika generasi 98 berhasil menumbangkan Orde Baru, maka generasi 66 berhasil mengakhiri Orde Lama. Dalam (puisi) "Sebuah Jaket Berlumur Darah" Taufik Ismail melukiskan suasana kepahlawanan itu:
Sebuah jaket berlumur darah
kami semua sudah menatapmu
telah berbagi duka yang agung dalam kepedihan bertahun-tahun.
Begitu kita menyusuri sejarah bangsa ini lebih jauh, kita akan bertemu dengan generasi 45 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan. Dan lebih jauh ke belakang, ada generasi 28 yang mempelopori persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Lebih jauh lagi, kita akan bertemu dengan generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional. Semua angkatan itu lahir silih berganti sampai datang angkatan 1998. Dan mereka lahir pada titik persimpangan sejarah dan memberi arah bagi perjalanan bangsa kita. Mereka selalu muncul sebagai pelopor, menghentikan kesunyian sejarah dan mengobarkan api kehidupan.
Abad 20, dalam perspektif bangsa kita, sesungguhnya adalah sejarah anak-anak muda. Tapi itu bukan hanya milik Indonesia. Tanggal 23 Oktober 1956 Revolusi Hongaria meletus di tangan para pemuda dan mahasiswa yang menentang pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan boneka. Para pemuda dan mahasiswa bahkan mempelopori perlawanan terhadap negara adi kuasa itu di seantero kawasan Eropa Timur.
Eropa Barat juga menyaksikan gelombang gerakan pemuda dan mahasiswa sepanjang tahun 60-an; gerakan mahasiswa di Perancis meledakkan Krisis 22 Mei 1968, mahasiswa Spanyol bangkit menentang diktator Jendral Franco pada 1965. Hal yang sama juga terjadi di Italia, Belgia dan negara Eropa lainnya.
Di dunia Islam, baik di kawasan Asia dan Afrika, para mahasiswa dan pemuda bangkit mempelopori perlawanan terhadap para penjajah di sepanjang paruh pertama abad 20 sampai tahun 70-an. Para pemudalah yang terlibat dalam Revolusi Aljazair 1954 yang mengenyahkan Prancis dari tanah itu. Para pemuda dan mahasiwa juga berhasil mengusir Inggris dari Mesir. Dan sekarang, sejak 1987 hingga sekarang, anak-anak muda bahkan yang masih bocah, telah meletuskan Intifadhah melawan penjajah Israel di Palestina.
Anak-anak muda melemparkan batu melawan serdadu Israel yang bersenjata lengkap sambil menyenandungkan syair Hasyim Al-Rifa'i:
Itulah syurga yang menuntut harga
Hanya dari urat nadi para syuhada
Anak-anak muda selamanya adalah energi peradaban yang mengalirkan sungai sejarah. Setiap kali energi itu meledak, maka sejarah segera mencatat peristiwa-peristiwa dan langit menjadi saksi. Sebuah lembaran kehidupan baru dari buku sejarah manusia telah dibuka. Dan sejarah, kata Malik Bin Nabi, adalah catatan statistik tentang denyut hati, gerak tangan, langkah kaki dan ketajaman akal.
Anak-anak yang Gelisah
Sejarah anak-anak muda adalah sejarah perlawanan dan pembelaan. Sebelum kemerdekaan anak-anak muda Indonesia bangkit menyatukan bangsa dan melawan penjajah serta merebut kemerdekaan. Tapi setelah merdeka mereka bangkit melawan penguasa tiran dan diktator serta membela rakyat dari penindasan sosial, ekonomi dan politik.
Adalah bagian dari keunikan abad ini, Allah swt menakdirkan para penguasa tiran dan diktator lahir pada waktu yang hampir bersamaan. Ketika tirani Soekarno merajalela di Indonesia, maka di Yugoslavia ada Tito dan di Mesir ada Nasser. Ketika kediktatoran Soeharto membungkam rakyat Indonesia, maka di Libya ada Khadafi, di Irak ada Saddam, di Syiria ada Asad, dan di Iran ada Pahlevi. DI abad ini pula lahir Hitler, Stalin dan Mossoulini. Jangan lupa, di abad ini pula dunia terlibat dalam dua kali perang akbar, Dunia I dan II, pada 1914 dan 1942.
Perlawanan dan pembelaan adalah energi peradaban. Dan energi itu lahir dari kegelisahan. Tapi dari manakah kegelisahan itu tercipta? Dari idealisme yang terpasung di alam kenyataan. Maka setiap kali janji kemakmuran terpasung dalam krisis ekonomi yang menyengsarakan rakyat, atau suara keadilan terbungkam dalam tirani kekuasaan, atau kebebasan ditindas oleh kediktatoran, setiap kali itu pula ada kegelisahan yang meresahkan jiwa anak-anak muda dan mencaut semua kenyamanan hidup mereka. Maka mereka bergerak dan segera berdiri di garis depan menyambut penggilan sejarah. Tapi anak muda macam manakah mereka? "Mereka adalah anak-anak muda yang telah beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka." (QS. Al-Kahfi:13)
Demikianlah. Kegelisahan menjadi isyarat dari anak-anak peristiwa yang akan lahir dari rahim sejarah. Kegelisahan memberi energi. Dan energi itu tumpah ruah dalam semangat perlawanan dan pembelaan. Maka, ada peristiwa ada sejarah. Tapi ada satu fenomena yang jarang kita perhatikan dalam langkah sejarah, bahwa gerakan-gerakan pemuda seringkali dimatikan oleh orang-orang yang mencetuskannya pertama kali. Lihat Soekarno dan Soeharto.
Saatnya Kaum Muda Bangit Kembali
Kini, kita tengah berada di persimpangan sejarah. Generasi 98 telah menjalankan tugasnya. Mereka telah berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan mengatar sejumlah elit politik baru ke panggung sejarah Indonesia. Tapi tugas belum betul-betul tuntas. Tahun ini kita memperingati Sumpah Pemuda dengan kenyamanan yang terampas, sebab ada kegeliasahan baru, sebab ada idelisme yang terpasung di alam kenyataan, sebab cita-cita reformasi seperti hilang lenyap dalam retorika politik.
Masa transisi yang tengah kita alami ini boleh jadi merupakan awal dari bencana besar yang mungkin akan menimpa bangsa kita di masa depan. Sebab `humor-humor' pemimpin kita ?Abdurahman Wahid? ternyata gagal membuat bangsa ini menjadi cepat tersenyum. Apalagi tertawa. `Humor-humor' itu untuk sebagiannya, bahkan terasa mengerikan. Seperti ketika arogansi berhadap-hadapan dengan kenyataan bahwa negara kita sedang menghampiri kebangkrutannya, seperti ketika semangat memberantas KKN berhadap-hadapan dengan semangat balas dendam atas kemiskinan masa lalu. Seperti ketika demokrasi dan keterbukaan serta dialog berhadap-hadapan dengan semangat balas dendam atas marginlisasi politik masa lalu.
Pemerintahan Abdurahman Wahid sekarang, menurut saya, tidak akan mungkin bisa menegakkan hukum dengan baik. Karena; pertama, dia membawa dendam masa lalu, baik dendam atas kemiskinan atau dendam atas marginalisasi politik di masa lalu. Itu tidak mungkin, dan lebih parah lagi dia memang tidak mau. Kita tidak bisa berharap dari pemimpin yang `nervous' di depan kekuasaan dan uang.
Ada masalah dalam bangsa kita, pertama dalam hal konsistensi yakni masalah penyimpangan di ujung jalan atau di tengah jalan. Pemimpin yang diasumsikan lurus ternyata membuyarkan seluruh harapan masyarakat. Itu juga yang mungkin terjadi sekarang. Mereka yang meretas jalan, tapi mereka pula yang merubuhkan panggungnya sendiri. Begitu seterusnya. Maka sudah saatnya kita berfikir bahwa kita yang meretas jalan, kita juga yang akan mengisi panggung itu seterusnya.
Kedua, rakyat ini tidak punya firasat. Ketika kita mencalonkan seorang, atau setidak-tidaknya menitipkan harapan pada seorang calon pemimpin, kita tidak mempunyai firasat tentang orang itu, bahwa orang itu bisa jadi gagal mengantar bangsa untuk menyelesaikan sebagian dari persoalan selama ini. Jadi terlepas dari perhitungan-perhitungan politik, pada dasarnya semua akan tergantung pada firasat kita terhadap seseorang. Dan kalau rakyat tidak mempunyai firasat tentang orang yang dicalonkannya, itu berarti mereka tidak mengenal dirinya sendiri. Dan ini berhubungan dengan hadits Nabi, "Kalau Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengangkat orang yang terbaik dari kaum itu sebagai pemimpin mereka, dan kalau Allah membenci suatu kaum maka Dia akan mengangkat orang yang terjahat menjadi pemimpin kaum itu."
Kita, anak-anak muda yang telah menunaikan sebagian dari tugas sejarah, sekarang harus segera kembali mengkonsolidasikan diri, mencabut harapan pada pemerintahan ini, dan segera mematangkan diri secara dini, kemudian berkata dengan yakin kepada bangsa ini:
Tuntaskan reformasi
Percepat alih generasi
Dan pertahankan keutuhan Indonesia.
Mungkin memang harus begini kejadiannya. Bahwa sejarah menghendaki kita melangkah lebih cepat untuk menyelamatkan bangsa ini. Kita harus kembali penuhi jalan-jalan. Tanpa mengurangi rasa hormat, barangkali merupakan dosa untuk terus mempercayai tugas sejarah ini kepada orang-orang tua kita sekarang. Perubahan-perubahan besar dalam sejarah pada mulanya tampak seperti kabut yang menghalangi cahaya matahari turun ke bumi. Itu yang membuat banyak orang ragu-ragu untuk melakukannya. Tetapi apabila masyarakat sudah mulai resah akibat lilitan berbagai macam problema, percayalah bahwa keresahan itu adalah awal dari ledakan energi peradaban.
Dulu Rasulullah bersabda: "Para pemuda bersekutu denganku dan orang-orang tua memusuhiku." Seperti sepotong sajak Taufik Ismail (1998) kepada mereka:
Seluruh jajaran aparat kenegaraan di atas umur tiga puluh sudah bersedia berdiri ke pinggir secara menyeluruh.
Bangsa kini dipimpin oleh anak-anak muda yang sebenar bersih.
Kami muncul lewat tahun-tahun pengalaman yang sangat pedih.
BISNIS KEHORMATAN
Tapi itulah inti semua tantangan yang dihadapi para ulama pewaris nabi. Itu akan menjadi lebih rumit bila mereka hidup pada suatu masa di mana para penguasa bersikap anti ulama, meremehkan peranan ilmu pengetahuan, dan suka merendahkan ulama.
Kemiskinan adalah pilihan hidup mereka, tapi kehormatan adalah tameng mereka. Masalahnya adalah bahwa sebagian dari kehormatan itu harus dipertahankan dengan materi atau harta. Harta itu sendiri tidak secara langsung berhubungan dengan produktivitas dalam dunia mereka. Tapi itl:Jlah masalahnya: harta, kata Rasulullah SAW, adalah sumber kebanggaan manusia dalam hidup. Maka perintah menjadi kaya beralas disini: agar kita juga memiliki kebanggaan itu, agar kita dihormati dalam pergaulan masyarakat.
Bisnis adalah jalannya. Itu sebabnya kita menemukan para ulama besar yang juga pebisnis. Abu Hanifah, misalnya, adalah pengusaha garmen. Beliau bahkan membiayai hidup sebagian besar murid-muridnya. Itu membuat beliau terhormat di mata para penguasa, relatif untouchebJe.
Tapi itu juga memberikan beliau kedalaman dalam fiqih, khususnya dalam bidang muamalat. Beberapa literatur awal dalam masalah keuangan negara kemudian lahir dari tangan murid beliau. Misalnya, Kitab AJ-Kharaj yang ditulis Abu Yusuf. Untuk sebagiannya, pemikiran ekonomi Islam pada mulanya diwarisi dari fiqih Abu Hanifah.
Walaupun begitu, popularitas mereka tidak datang dari kekayaan mereka yang melimpah ruah. Sebab bisnis tidak boleh mengganggu 'bisnis' mereka yang lain. Sebab mereka hanya ingin menjadi orang bebas dengan bisnis itu. Sebab mereka hanya ingin mempertahankan kehormatan mereka dengan bisnis itu.
Itu berarti bahwa mereka harus mampu mengelola bisnis paruh waktu dengan sukses. Dan begitulah kejadiannya. Suatu saat Abdullah Ibnul Mubarak, maha guru para ahli zuhud, ulama dan perawi hadits yang tsiqoh, jago panah dan petarung sejati, ditanya tentang mengapa beliau masih berbisnis. Beliau yang terlibat dalam sebagian besar pertempuran di masa hidupnya, menulis beberapa buku monumental seperti Kitab AI-Zuhd, memang dikenal sebagai seorang pebisnis yang sukses. Beliau hanya mengatakan dengan enteng:
"Aku berbisnis untuk menjaga kehormatan para ulama agar mereka tidak terbeli oleh para penguasa."
DIBALIK KEHARUMAN
Posted by: admin on Monday, April 12, 2004 - 12:00 AM
Nama para pahlawan mukmin sejati senantiasa harum sepanjang sejarah. Tapi hanya sedikit orang yang mengetahui betapa besar pajak yang telah mereka bayar untuk keharuman itu.
Masyarakat manusia pada umumnya selalu mempunyai dua sikap terhadap keharuman itu. Pertama, mereka biasanya akan mengagumi para pahlawan itu, bahkan terkadang sampai pada tingkat pendewaan. Kedua, mereka akan merasa kasihan kepada para pahlawan tersebut karena mereka tidak sempat menikmati hidup secara wajar. Yang kedua ini biasanya datang dari keluarga dekat sang pahlawan.
Apa yang dirasakan orang luar berbeda dengan apa yang dirasakan oleh sang pahlawan itu sendiri. Kekaguman, mungkin merupakan sesuatu yang indah bagi banyak orang. Tapi yang membayar harga keharuman yang dikagumi itu adalah para pahlawan. Dan harga itu tidah diketahui orang banyak. Maka seorang penyair arab terbesar, Al-Mutanabbi mengatakan: “Orang luar mengagumi kedermawanan sang pahlawan, tapi tidak merasakan kemiskinan yang mungkin dicipatakan oleh kedermawanan, orang luar mengagumi keberanian sang pahlawan tetapi mereka tidak merasakan luka yang menghantarnya menuju kematian.
Tapi ada kenyataan lain yang sama sekali terbalik. Keluarga para pahlawan seringkali tidak merasakan gaung kebesaran atau semerbak harum nama sang pahlawan. Karena ia hidup ditengah tengah mereka, setiap hari bahkan setiap saat. Bagi mereka, sang pahlawan adalah juga manusia biasa, yang mempunyai keinginan-keinginan dan kegemaran-kegemaran tertentu seperti mereka. Dan mereka harus menikmatinya. Maka merekalah yang sering menggoda pahlawan untuk tidak melulu “mendaki” langit, tapi juga sekali-kali “turun” kebumi.
Dan kedua sikap tersebut adalah jebakan. Kekaguman dan pendewaan sering menjebak para pahlawan, karena itu akan mempercepat munculnya rasa uas dalam dirinya. Sehingga karya yang sebenarnya belum sampai ke puncak, akhirnya terhenti di pertengahan jalan akibat rasa puas. Itulah sebabnya Imam Ghozali mengatakan, “Siapa yang mengatakan saya sudah berilmu, maka sesungguhnya orang itulah yang paling bodoh.”
Panggilan turun kebumi adalah jebakan lain. Menjadi pahlawan memang akan menyebabkan kita meninggalkan sangat banyak kegemaran dan kenikmatan hidup. Bahkan privasi kita akan sangat terganggu. Tapi itulah pajaknya. Namun banyak orang gagal melanjutkan perjalanan menuju puncak kepahlawanan karena tergoda untuk “kembali” kehabitat manusia biasa. Seperti angin sepoi yang mengirim kantuk kepada orang yang sedang membaca , seperti itulah panggilan turum kebumi penggoda sang pahlawan untuk berhenti mendaki. Itulah sebabnya Allah menegur para mujahidin yang mencintai keluarga mereka melebihi cinta mereka terhadap Allah, rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya.
Maka para pahlawan mukmin sejati berdiri tegak di sana; diantara tipuan pendewaan dan godaan kenikmatan bumi. Mereka terus berjalan dengan mantap menuju puncak kepahlawanan : tidak ada kepuasan sampai karya jadi tuntas, dan tidak ada kenikmatan melebihi apa yang mungkin diciptakan oleh kelelahan.
MENCARI SANG ARSITEK
Tidak ada peristiwa yang lebih mengharu-biru kaum Muslimin, di sepanjang masa kenabian dan perjuangan Rasulullah Saw, selain saat dimana beliau menyampaikan pidato dalam hajjatul wada'. Itulah haji pertama dan terakhir yang dilaksanakan Rasulullah saw sejak ibadah itu diwajibkan, menurut jumhur ulama, pada tahun keenam hijrah. Karena itu sebagian besar kaum Muslimin menyempatkan diri untuk berhaji tahun itu. Jumlah mereka sekitar 125 ribu orang.
Sementara kaum Muslimin Merasakan kegembiraan mendengar khotbah Rasulullah saw, Abu Bakar justru menangis tersedu-sedu. Ia menangkap dengan jelas isyarat yang tersimpan dalam kalimat-kalimat Rasulullah saw, bahwa masa hidupnya tidak akan lama lagi. Dan benar saja, Rasulullah saw kemudian wafat beberapa saat setelah hajjatul wada' itu. Itu seperti sebuah isyarat bahwa tugas beliau sudah akan selesai sampai disini, tapi cita-cita untuk membawa cahaya Islam kepada seluruh umat manusia belum lagi selesai; dan adalah tugas para sahabat untuk melanjutkan risalah dakwah tersebut.
Kini, setelah lima belas abad kemudian, Islam menjadi fenomena sejarah sebagai sebuah peradaban terbesar yang pernah ada dan masih ada hingga saat ini. Islam tersebar di seluruh pelosok dunia, dari Aljir sampai Jakarta, dengan jumlah pemeluk sekitar 1,3 milyar manusia, atau sekitar seperlima dari total jumlah manusia yang menghuni bumi ini. Apabila Rasulullah saw meninggalkan lebih dari 125 ribu orang, maka dari merekalah sesungguhnya Islam berkembang ke seluruh pelosok dunia. Tapi dari jumlah itu, sebenarnya sebagian besar mereka masuk ke dalam Islam justru setelah peristiwa Fathu Makkah pada tahun kedelapan hijrah, atau 20 tahun setelah Rasulullah saw menjadi rasul.
Ini berarti bahwa sahabat-sahabat beliau yang mempunyai peran besar dalam penyebaran Islam dan pembangunan peradaban Islam tidaklah terlalu banyak. Jumlah ulama dari sahabat-sahabat Rasulullah saw dalam catatan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam "I'lamul Muwaqqi'in", hanya kurang dari 110 orang. Dan diantara mereka yang terbesar ada 7 orang, diantaranya adalah Umar bin Khattab, Ali Bin Ali Thalib, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas'ud. Sebagian besar ulama dan pemikir Islam yang lahir kemudian, dari kalangan Tabi'in dan Tabi'uttabi'in dan seterusnya, mengambil ilmu dari mereka.
Otak Arsitek
Peradaban selalu bermula dari gagasan. Peradaban-peradaban besar selalu lahir lahir dari gagasan-gagasan besar. Dan gagasan-gagasan besar selalu lahir akal-akal raksasa. Begitulah kejadiannya, jumlah sahabat yang ditinggalkan Rasulullah saw memang sedikit, tapi mereka semua membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangun peradaban, dan membawa talenta sebagai arsitek peradaban.
Kesadaran itu terbentuk sejak dini dalam benak mereka. Allah swt telah menciptakan manusia untuk beribadah dan mengelola serta menegakkan khilafah di muka bumi. Dan untuk itu Allah swt memberikan mereka "juklak" (petunjuk laksana) berupa al-Qur'an, dan menurunkan seorang rasul sebagai "komunikator" Allah Swt, sekaligus sebagai pemberi contoh laksana dalam kehidupan nyata.
Sejak awal mereka menyadari bahwa al-Qur'an bukanlah sebuah buku filsafat kehidupan, yang kering dan rumit, atau pikiran-pikiran indah yang tersimpan di menara gading dan tidak mempunyai alas dalam realitas kehidupan. al-Qur'an adalah sebuah "manual" tentang bagaimana seharusnya kita mengelola kehidupan di bumi ini. Bumi adalah ruang kehidupan tempat kita "menurunkan" kehendak-kehendak Allah swt, yang termaktub dalam wahyu, menjadi satuan-satuan realitas dalam kehidupan manusia di muka bumi. Bumi adalah realitas kasat mata yang harus dikelola manusia.
Maka doktrin Al-Qur'an tentang Allah, Rasul, manusia dan kehidupan sejak awal menegaskan sebuah kesadaran yang integral; bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah akhirat, dan bahwa misi manusia di dunia ini adalah ibadah, tapi ruangnya adalah bumi. Karena itulah mereka mempunyai kesadaran yang kuat tentang ruang; ruang di mana mereka hidup, ruang yang menjadi wilayah kerja akal mereka, ruang yang menjadi tempat mereka menumpahkan seluruh proses kreatif mereka, yaitu bumi; dan bahwa ada ruang lain yang bukan wilayah kerja mereka, ruang dimana akal mereka tidak akan pernah sanggup menembusnya, ruang yang menjadi hak Allah Swt sendiri untuk menjelaskannya, yaitu ruang kegaiban, yaitu ruang metafisik di mana Allah swt menyimpan hakikat-hakikat besar dalam kehidupan ini, tentang Dzat-Nya sendiri, dunia malaikat, kehidupan akhirat, dan lainnya.
Kesadaran tentang ruang ini telah menanamkan sikap realisme dalam benak mereka, maka mereka bergerak lincah dalam wilayah itu. Proses kreativitas mereka tumpah ruah disini; dalam semangat merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt di muka bumi, dalam semangat memakmurkan dunia, dalam semangat membangun peradaban. Kesadaran tentang ruang sejak awal membuat peran intelektual dan kerja pemikiran mereka terpola dalam kerangka sebagai arsitek peradaban; bumi ini adalah lanskapnya, dan wahyu adalah kehendak-kehendak Sang Pemilik Kehidupan yang harus diolah menjadi sebuah master plan dan maket, darimana kemudian satuan-satuan kerja mengelola bumi menjadi rumah peradaban tempat manusia menemukan kedamaian dan kesejahteraan hidup, dimulai.
Dan begitulah Rasulullah Saw memberikan tamsil, bahwa silsilah nabi dan rasul yang turun ke bumi ini seperti sebuah bangunan dimana setiap nabi atau rasul menyelesaikan satu tahap pekerjaan, hingga tiba saatnya Allah menutup mata rantai kenabian dimana "Aku," kata Rasulullah Saw, "meletakkan batu terakhir."
Ijtihad: Mata Air Peradaban
Dalam konteks kesadaran tentang ruang dan pemilihan peran subjektif sebagai pembangun peradaban, kerangka kerja intelektual manusia Muslim terpola dalam fungsi-fungsi arsitektural dimana mereka mereka bekerja sebagai desainer, sebagai perancang, sebagai pembuat master plan. Dan begitulah kemudian sebuah karya peradaban besar lahir ke bumi; satu milenium lamanya manusia menikmati sejarah mereka yang terindah di bawah naungan Islam. Dalam fungsi arsitektural itulah metafor Iqbal
menemukan maknanya; dimana hutan-hutan bumi berubah menjadi taman-taman kehidupan yang indah.
Dalam fungsi arsitektural itu juga akal-akal Muslim tumbuh dengan kemampuan berpikir dan berkreasi yang luar biasa pada semua kategori dan tingkatan kemampuan intelektual manusia; kemampuan memahami (daya serap), kemampuan menganalisa (daya analisis), kemampuan mencipta (daya cipta).
Kemampuan itulah yang misalnya terlihat dalam sejarah ekspansi Islam, khususnya pada masa khulafa rasyidin. Dalam bidang politik, masa ekspansi besar-besar yang terjadi selama 30 tahun masa keempat khulafa rasyidin ini, telah disertai dengan peletakan dasar-dasar ketatanegaraan; bentuk dan sistem pemerintahan yang berorientasi global state tapi bersifat desentralis, sistem pemilihan khalifah, sistem administrasi dan keuangan negara yang berkembang pesat khususnya dalam pengelolaan wilayah-wilayah baru, manajemen konflik, dan lainnya. Dalam bidang keamanan dan geostrategi, selama masa ekspansi besar-besaran ini kita menyaksikan kejeniusan para khulafa dalam pengokohan integrasi teritorial dengan menjadikan jazirah Arab sebagai basis, strategi ekspansi dan taktik perang dalam menghadapi dua kekuatan terbesar, Persi dan Romawi.
Kemampuan akal-akal Muslim juga terlihat dalam perkembangan ijtihad dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman. Usaha menjaga kemurnian dan keotentikan teks al-Qur'an telah dilakukan melalui pengumpulan dan penulisan mushaf pada masa Abu Bakar, dan standarisasi bacaannya pada masa Utsman bin Affan. Sementara itu, usaha menjaga kemurnian dan keotentikan Sunnah telah melahirkan satu metodologi baru yang tidak ada tandingannya dalam semua peradaban lainnya. Selanjutnya dari kedua
sumber itu kemudian lahir berbagai macam ilmu-ilmu keislaman yang struktur dan content yang mandiri dan solid, khususnya ilmu fiqh yang menjadi induk pengetahuan keislaman ketika itu.
Selain perkembangan ilmu-ilmu keislaman, kita juga menyaksikan perkembangan ilmu-ilmu sosial, khususnya yang bersifat terapan. Misalnya ilmu jiwa yang berkembang secara terapan melalui perkembangan ilmu suluk dan akhlaq. Ilmu politik dan ekonomi yang melalui serangkaian ijtihad politik yang timbul sebagai implikasi dari perluasan wilayah Islam. Ilmu sejarah dan sosial mungkin yang berkembang paling pesat, khususnya setelah pembauran berbagai etnis dan budaya selama masa ekspansi. Bahkan pengalaman panjang dalam jihad dan perang telah diformulasi oleh kaum Muslimin menjadi ilmu strategi dan taktik perang.
Demikian juga dalam bidang teknologi. Teknologi maritim, misalnya, telah berkembang pada masa Utsman bin Affan sejalan kebutuhan jihad untuk menghadapi Romawi yang menguasai teknologi itu. Demikian juga industri militer lainnya yang berkembang untuk memenuhi kebutuhan jihad. Selain teknologi terapan, ilmu-ilmu eksakta, khususnya dalam bidang fisika dan kedokteran, telah berkembang pesat khususnya setelah kaum Muslimin menemukan dan mengembangkan metodologi empiris, yang
hingga kini menjadi sebab perkembangan ilmu pengetahuan di Barat, justru ketika Romawi menggunakan pendekatan teologi dan filsafat untuk ilmu-ilmu eksakta.
Apa yang ingin ditegaskan disini adalah bahwa, kemampuan akal-akal Muslim tidak hanya pada daya serapnya yang sangat besar terhadap semua jenis ilmu pengetahuan, tapi juga kemampuannya dalam mengkritisi ilmu-ilmu baru yang sampai ke mereka, dan kemudian kemampuannya dalam merekonstruksinya kembali, dan bahkan kemampuannya dalam mencipta ilmu-ilmu baru atau metodologi baru. Dalam konteks itulah kita melihat bagaimana konsep ijtihad dalam Islam telah mewadahi proses kreativitas akal-akal Muslim, dan karenanya, kemudian menjadi mata air peradaban Islam yang tak pernah kering. Akal-akal Muslim itu, dengan kata lain, mampu memahami zamannya, dan sekaligus memberi sesuatu yang kepada zamannya.
Dimanakah Sang Arsitek Itu Kini?
Tapi dimanakah akal-akal besar yang pernah menggoncang peradaban dunia dengan temuan-temuannya itu? Di manakah akal-akal Muslim yang dulu sanggup memahami zamannya dan kemudian memberi sesuatu yang baru bagi zamannya?
Inilah masalah kita. Akal-akal Muslim sekarang, bukan hanya tampak tidak berdaya memahami zamannya, apalagi memberi sesuatu yang baru bagi zamannya, tapi bahkan tidak sanggup memahami dirinya sendiri, tidak sanggup memahami sumber ajarannya sendiri, tidak sanggup memahami warisan peradabannya sendiri. Akal-akal Muslim sekarang tampak mengalami kelumpuhan. Tapi apakah yang membuatnya lumpuh?
Ini bagian paling krusial dari keseluruhan problematika umat kita yang terkait dengan masalah manusia Muslim. Lumpuhnya akal-akal Muslim telah menyebabkan kita kehilangan mata air peradaban. Ketika generasi kemunduran menutup pintu ijtihad, maka mereka telah menutup mata air peradaban. Dan kekeringan inilah yang kini kita warisi dan belum sanggup kita selesaikan, sehingga kita menjadi komunitas global yang hanya hidup di pinggiran sejarah, serta tidak mempunyai campur tangan dalam berbagai peristiwa dunia kecuali hanya sebagai korban.
Kebesaran sejarah akal-akal Muslim yang telah saya sebutkan, bukanlah tempat yang baik untuk melindungi kelumpuhan akal-akal Muslim saat ini. Tapi apabila Allah Swt telah menetapkan bahwa Ia tidak akan merubah keadaan suatu masyarakat sampai masyarakat itu sendiri merubah dirinya sendiri, maka sekarang kita mengetahui bahwa perubahan atas diri sendiri itu harus dimulai dari sini; merubah cara berpikir kita, dan merekonstruksinya agar ia mampu mengemban fungsi-fungsi arsitektural kembali, agar ia mampu merubah hutan-hutan bumi menjadi taman-taman kehidupan yang indah.
Apa yang harus kita lakukan untuk itu adalah memperbaiki cara kita memahami sumber-sumber ajaran kita, Qur'an dan Sunnah, serta warisan intelektual dari peradaban kita. Dengan begitu kita dapat menemukan sistem dan metodologi pemikiran kita sendiri, untuk kemudian secara kritis dan independen berinteraksi dengan realitas zaman kita, dengan segala muatan peradabannya, dan selanjutnya menemukan jalan untuk merealisasikan kehendak-kehendak Allah Swt dalam kehidupan kita. Dalam di tengah jalan itulah kita menciptakan semua yang kita perlukan untuk sampai ke titik akhir tujuan kita; dimana ada hutan belantara yang menjelma jadi taman kehidupan yang indah.
Minggu, 18 Januari 2009
MENCABUT DURI DALAM DAGING
Dampaknya juga menyakitkan. Bangsa Indonesia bukan saja terjebak dalam potensi konflik ideologi berkepanjangan, tapi kita juga sulit bersinergi membangun bangsa dan negara. Terpuruklah kita dalam waktu lama. Lantas negara kaya raya ini dihuni orang-orang paling miskin di dunia.
Membangun negara dengan ideologi dan sistem yang tidak lahir dari akar ideologi dan budaya bangsa akan melahirkan benturan-benturan psikososial, yang jutsru akan menghambat proses pembangunan itu sendiri.
Masalah jadi kian rumit bersama munculnya kebiasaan memaksakan kehendak dari para penguasa sekuler dengan menggunakan kekuatan militer. Meminggirkan Islam dan ummatnya dari proses penyelenggaraan negara atau akses ekonomi mungkin bisa berhasil pada suatu rezim diktator. Tapi akibatnya juga fatal: pergantian kepemimpinan nasional di negeri kita selalu berdarah-darah. Kesabaran rakyat yang panjang tiba-tiba berubah jadi amuk berdarah. Maka jatuhlah Soekarno. Jatuh pula Soeharto.
Meminggirkan Islam dan ummatnya yang notabene mayoritas di negeri ini --dari percaturan politik atau ekonomi-- hanya akan menciptakan ketidakseimbangan sosial politik yang panjang, yang setiap saat mengancam integritas dan keutuhan bangsa.
Bangsa kita tidak akan pernah benar bisa bertumbuh dengan baik, jika sekulerisme masih bekerja bagai duri dalam daging: virus-virusnya mematikan sel-sel bangsa kita yang sedang tumbuh. Ia terlepas dari basis identitas dan akar budayanya. Kita tidak dapat membayangkan bangsa ini bisa tumbuh jadi besar kalau kelompok mayoritasnya adalah yang termiskin dan tidak memegang kendali politik atas negerinya sendiri. Potensi ledakan disintegrasi akan selalu ada bagai bara dalam sekam.
Faktanya kita kalah
Walaupun begitu, tidak juga merupakan sikap ksatria kalau kita tidak mau merendah untuk mengakui sebuah fakta besar: bahwa sejak pemilu 1955 hingga pemilu 1999 perimbangan perolehan suara Islam dan sekuler selalu di kisaran 40 (Islam) : 60 (sekuler). Jadi bahkan dalam sebuah prosedur yang demokratis pun mayoritas umat Islam belum tentu berafiliasi secara ideologi kepada Islam. Agama tidak mempengaruhi pilihan politik mereka.
Kira-kira dengan fakta itu kita bisa mengatakan --selanjutnya-- bahwa gerakan-gerakan Islam di Indonesia selama ini --seperti Muhammadiyah dan NU-- belum berhasil mengembalikan afiliasi ummat kepada Islam. Pemikir-pemikir sekuler nampaknya lebih berhasil mensosialisasi pemikiran-pemikiran mereka di kalangan ummat. Mereka lebih agresif, lebih pandai dalam mengemas gagasan, lebih pintar memilih pola pendekatan, lebih solid dalam organisasi, lebih banyak sarana dan lebih luas pula jaringannya.
Bahkan pengaruh sekulerisme justru terasa masuk dalam rongga besar pemikiran gerakan-gerakan Islam. Jadi di jantung pertahanan kita pun sekulerisme itu merasuki kita. Akibatnya polarisasi dalam tubuh umat Islam makin parah. Kadang bahkan terasa kalau keragaman dalam tubuh umat Islam jauh lebih rumit daripada keragaman dalam tubuh bangsa.
Faktanya mereka lebih merusak
Adalah ksatria untuk mengakui fakta kekalahan kita. Tapi juga penting untuk mengetahui tingkat kerusakan yang kita alami akibat kekalahan itu. Sekarang saja misalnya, penguasa sekuler saat ini luar biasa merusaknya. Bayangkanlah di tengah kita saat ini hidup 40 juta orang miskin, beban utang luar negeri sebesar 1600 trilyun yang bunganya setiap tahun kita bayar melalui APBN sebesar 80 trilyun. Sementara APBN kita kedodoran, penguasa sekarang mengambil jalan pintas: jual murah seluruh asset negara untuk menutupi defisit tersebut. Itu menciptakan transaksi besar, tapi juga celah korupsi yang tidak terbayangkan.
Tidak ada usaha yang cerdas untuk mendatangkan investasi asing guna memicu pertumbuhan ekonomi. Bagaimana investor asing mau datang kesini kalau yang menyambut mereka justru para koruptor dari sebuah negara rimba tanpa kepastian hukum? Apa yang akan mendatangkan investor asing kalau institusi hukum tertinggi di negeri kita, Mahkamah Agung, jutsru tampil dengan lakon paling memalukan dalam drama satu babak jual beli hukum ketika mereka menerima permohonan kasasi Akbar Tanjung.
Sementara negara-negara ASEAN mengalami pemulihan ekonomi dari krisis tahun 1997, Indonesia kita justru makin terpuruk sampai ke dasar krisis yang tidak tertanggungkan. Bahkan ledakan disintegrasi yang mungkin ditimbulkan oleh krisis ini --di tengah penguasa sekuler yang korup dan tidak peduli-- sekarang mulai jadi ancaman destabilisasi kawasan ASEAN.
Konsolidasi perlawanan
Diantara kekalahan kita dan kerusakan yang diciptakan para penguasa sekuler kita berhadapan dengan sebuah tantangan besar: bagaimana mengkonsolidasi perlawanan untuk mengembalikan kepemimpinan bangsa ke tangan ummat atau --paling tidak-- kepada kekuatan reformis yang bertemu dengan ummat pada semangat reformasi.
Dalam semangat reformasi kepentingan kita pada tiga lapisannya bertemu dengan kepentingan kaum reformis. Yaitu kepentingan untuk menyelamatkan bangsa, membuka jalan masuk bagi ummat dari pinggir ke tengah, dan memberi ruang partisipasi bagi sumber daya manusia da'wah untuk ikut mengelola negara.
Ini bukan aliansi ideologi. Ini adalah aliansi strategis. Yaitu aliansi kekuatan-kekuatan strategis --Islam dan reformis-- untuk kepentingan-kepentingan strategis bersama. Aliansi ini diusung untuk memenangkan “agenda”, bukan “tokoh”. Tokoh --dalam aliansi ini-- adalah semata-mata “bagian” dari strategi, dan “tidak boleh lebih besar dari strategi”. Sebagai bagian dari strategi, tugas kita adalah mengkonsolidasi faktor-faktor kemenangan di mana tokoh merupakan salah satunya. Memperjuangkan tokoh hanya akan meruncingkan konflik dan menyulitkan kemungkinan pertemuan kedua kekuatan tersebut.
Dalam kaitan itu, maka tokoh yang kita dukung adalah mereka yang memenuhi dua kriteria sekaligus: memenuhi atau mendekati kriteria ideal seorang pemimpin, sekaligus memiliki peluang menang yang besar. Peluang untuk memenangkan pertarungan melawan kekuatan sekuler pro status quo hanya dapat diraih oleh tokoh yang memiliki basis dukungan massa yang luas, mesin politik yang canggih, jaringan media dan dana yang besar.
Dalam keadaan dimana kemampuan-kemampuan itu tidak ditemukan pada tokoh-tokoh Islam, maka kita harus memberikan kesempatan kepada tokoh reformis lain yang dapat mengakomodasi tiga lapisan kepentingan kita.
Tapi untuk kepentingan membangun aliansi strategis itu kita harus bersikap sangat proaktif, dan tidak bersikap diam seperti seorang gadis yang dengan apatis menunggu datangnya sang Pelamar. Kita harus belajar untuk mendapatkan kendali yang lebih besar jika kita ingin orang lain mengakomodasi kepentingan-kepentingan kita.
Kita juga harus memiliki kemampuan menilai orang lain secara objektif, dan menjauhkan sedapat mungkin kebiasaan menilai orang berdasarkan suka atau tidak suka, kagum atau tidak kagum. Kita harus memandang setiap orang sebagai aktor-aktor yang memainkan peran yang berbeda-beda. Jadi yang penting adalah skenarionya, baru kemudian aktornya.
Langkah ini mengharuskan kita meninggalkan fanatisme ketokohan dan sekaligus membangun kerendahan hati untuk mengapresiasi kekuatan-kekuatan pihak lain. Kita tidak sedang berjuang untuk gengsi sebuah organisasi, tapi untuk agenda sebuah ummat. Yang kita perlukan saat ini adalah orang-orang yang dengan kebesaran jiwa mau melakukan kerja-kerja perekatan dan usaha-usaha match-making (penyelarasan) dari keragaman-keragaman yang dapat dikonsolidasi menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Orang-orang itu mungkin takkan terlihat di depan layar. Tapi mereka bekerja untuk memastikan bahwa skenario berjalan sesuai rencana, dan para aktor bermain cemerlang.
NIKMATNYA SYURGA
Bismillahirrahmanirrahim
Muqaddimah
Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah swt., kami memuja-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan dari amal perbuatan kami yang jelek. Barang siapa yang mendapat hidayah Allah swt. maka tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan Allah swt. maka tiada seorangpun yang dapat menunjukkannya. Kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tiada yang menyekutui-Nya, dan kami bersaksi bahwa Muhammad saw. adalah hambaNya sekaligus utusan-Nya.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali `Imraan: 102)
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memgembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisaa`: 1)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al-Ahzaab: 70-71)
Selanjutnya, wahai saudariku –setelah aku haturkan salam dan rahmat Allah kepadamu- saya akan berkata dengan sesungguhnya bahwa akhir-akhir ini, saya sudah bulatkan tekat untuk menulis masalah-masalah yang menjadi problem kaum hawa karena mereka adalah bagian dari sebuah ummat. Bahkan, mereka adalah para pendidik dalam sebuah rumah tangga, apabila mereka shalihah maka rumah tangga akan menjadi rumah yang penuh kesalihan. Sebaliknya, apabila mereka bejat maka semua keluarga bisa dipastikan akan bejat pula. Sejak dahulu nenek saya –semoga Allah merahmatinya- telah berkata "kemampuan skill seorang terletak pada mulut ibunya, seorang anak perempuan akan tumbuh seperti ibunya".
Saya sungguh sedih ketika melihat seorang mahasiswi Muslimah yang berjalan di sekitar Universitasnya dengan pakaian seakan-akan mau pergi ke sebuah pertunjukan musik, kasino, bioskop film porno, atau pertunjukan yang dapat menghancurkan bahkan membunuh etika-etika Islam. Saat melihat mereka, seakan-akan saya sedang berjalan di sebuah jalan-jalan Negara Israil, Washington, atau negara yang bebas seks. Saya juga menyaksikan laki-laki di jalan-jalan umum –mereka biasa mengatakannya sebagai jalan kehidupan yang lebih maju- mereka sedang berjalan mengikuti istrinya yang hanya mengenakan T-shit yang mana gaya berjalannya seolah-olah sedang menari-nari di sepanjang jalan. Anehnya, suami terserbut justru merasa senang dan bangga dengan ketololan istrinya itu. Apakah wanita seperti ini dapat dipercaya untuk mendidik sebuah generasi Muslim yang dapat dibanggakan Rasulallah saw. kelak pada hari kiamat?!
Saudariku, oleh karena itulah saya hadiahkan buku "Jalan Wanita Muslimah Menuju Surga" kepada engkau.
Bergegaslah engkau menuju keridlaan-Nya, pakailah busana Muslimah sesuai dengan yang disyariatkan dan diajarkan Islam. Jauhilah busana-busana mini yang dapat menampakkan lekuk aurat tubuhmu. Kenapa engkau tidak mengambil pelajaran dari tukang jual daging yang selalu munutup daging-daging jualannya dari lalat dengan meletakkan tutup rapat yang bersih?. Tutuplah tubuhmu dari binatang lalat yang terbang dan juga laki-laki yang seperti lalat-lalat itu.
Saudariku, sadarlah sebelum waktunya terlambat. Perbaruilah janjimu kepada Allah swt. untuk selalu ta`at kepada-Nya. Jadikan semua amal perbuatanmu ikhlas karena-Nya. Hati-hatilah dari setan-setan manusia.
Sampai bertemu kembali, Insya Allah. Dan hanya untuk Allah swt. segala puja dan puji.
Syaikh Ali Abdul Ali Ath-Thahtawi.
Sekilas Tentang Kenikamatan Surga
Perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal di dalam, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya. (QS. Muhammad: 15)
“Dan bagi orang yang takut saat menghadap Tuhannya ada dua surga. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua surga itu dapat dari dekat. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka , dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan . Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Kedua surga itu hijau tua warnanya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. i dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah.” (QS. Ar-Rahmaan: 46-76)
"Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan". Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya". Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan.” (QS. Az-Zukhruf: 68-73)
Rasulallah saw. bersabda, bahwa Allah swt berfirman dalam Hadits Qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ
"Aku telah menyediakan untuk hamba-hambaku sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, tiada telinga yang pernah mendengarnya, dan tidak pernah terbelesit dalam hati seorang manusiapun, dan apabila kalian bersedia maka bacalah firman Allah: Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (HR. Bukhari Muslim).
Makanan dan Minuman Penduduk Surga
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini. Dikatakan kepada mereka):"Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan". (QS. Al-Mursalaat: 41-43)
Allah swt. juga berfirman: "Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini)". Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat. (kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal ang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". (QS. Al-Haaqqaah: 19-24)
Allah swt. berfirman: “Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan.” (QS. Ath-Thuur: 22-23)
Allah swt. juga berfirman: “Mereka minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya). laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Muthaffifiin: 25-26)
Allah swt. berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Insaan: 5-6)
dalam Hadits sahih Muslim diriwayatkan dari sahabat Jabir ra. Dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
يَأْكُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فِيهَا وَيَشْرَبُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ وَلَا يَبُولُونَ وَلَكِنْ طَعَامُهُمْ ذَاكَ جُشَاءٌ كَرَشْحِ الْمِسْكِ يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالْحَمْدَ كَمَا تُلْهَمُونَ النَّفَسَ
“Penduduk surga makan dan minum, mereka tidak beringus, tidak buang air besar, dan juga tidak buang air kecil. Makanan mereka adalah makanan yang mengeluarkan bau dari perutnya seperti bau minyak kasturi. Mereka meneguk tasbih dan tahmid seperti mereka menelan nafas.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Hadits yang lain para sahabat bertanya, seperti apakah makan mereka? Beliau menjawab "makanan yang dimakan akan mengeluarkan keringat seperti bau minyak kasturi, mereka meneguk tasbih dan tahmidnya.
Kami katakan bahwa dalam teks-teks Hadits ini dan dalam teks-teks yang lain Allah swt. telah menyebutkan balasan yang telah disediakan untuk penduduk surga, baik laki-laki maupun wanita, yaitu balasan yang berupa makanan dan minuman, selain itu mereka juga makan daging, buah-buahan, kembang gula, dan bermacam-macam minuman berupa air putih, susu, dan arak. Dan semuanya itu belum pernah dijumpai di dunia ini kecuali namanya saja.
Tempat Makanan dan Minuman Penghuni Surga
Allah swt. berfirman: “Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya." (QS. Az-Zukhruf: 71)
Allah swt. juga berfirman: “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda. Dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir.” (QS. Al-Waaqi`ah: 17-18)
Kata الاباريق (abaariq) adalah gelas-gelas yang mempunyai pegangan sedangkan gelas-gelas yang tidak mempunyai pegangan dalam bahasa Arab disebut أكواب (akwaab) Kata ابريق (ibriiq) diambil dari kata بريق (bariiq) yang bermakna bersih atau bening dengan kilau mengkilat warnanya. Kemudian setiap tempat minum yang bentuknya menyerupai bentuknya dinamakan dengan ابريق (ibriiq) meskipun tidak bening. Sedangkan gelas-gelas surga adalah gelas-gelas yang terbuat dari perak yang bening, semua yang ada di dalamnya dapat terlihat dari bagian luarnya.
Allah swt. berfirman: “Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak, dan piala-piala yang bening laksana kaca. (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Insaan: 15-16)
Kata القوارير (qawaariir) artinya adalah kaca-kaca. Allah swt. dalam ayat ini memberikan kabar tentang dari bahan apakah tempat-tempat tersebut. Tempat-tempat itu terbuat dari perak yang menyerupai kaca dalam segi beningnya. Tempat-tempat seperti itu tentu adalah tempat-tempat indah yang menarik semua orang.
Dalam Hadits sahih Imam Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy`ari ra. Rasulallah saw. bersabda:
جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِ عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ
"Dua surga yang terbuat dari emas, tempat-tempatnya dan semua yang ada di dalamnya. Dua surga lagi terbuat dari perak, tempat-tempatnya dan semua yang ada di dalamnya.
Dalam kitab sahih Bukhari Muslim juga terdapat sebuah Hadits yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah ra. Dia berkata, bahwa Rasulallah saw. pernah bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَتْفِلُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ أَمْشَاطُهُمْ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ وَمَجَامِرُهُمْ الْأَلُوَّةُ الْأَنْجُوجُ عُودُ الطِّيبِ وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُورُ الْعِينُ عَلَى خَلْقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ
"Sesungguhnya golongan pertama yang akan masuk surga berwajahkan bulan pada malam purnama, golongan selanjutnya berwajahkan lebih terang dibangdingkan bintang di langit yang paling terang. Mereka tidak buang air besar dan tidak buang air kecil, mereka juga tidak beringusan dan tidak meludah. Sisir rambut mereka adalah emas, keringat mereka minyak kasturi, pedupaan mereka dari kayu yang berbau wangi, dan istri-isrti mereka adalah bidadari yang bermata lentik, mereka berbadan yang sama seperti seorang laki-laki yaitu seperti bapak mereka Nabi Adam as. Eman puluh dzira` di dalam langit.” (HR. Bukhari Muslim)
Dalam kitab sahih Bukhari Muslim juga disebutkan Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah bin Yaman bahwa Nabi saw. pernah bersabda:
َلَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الْآخِرَةِ
"Kalian jangan minum dengan tempat yang terbuat dari emas dan perak, dan jangan makan dengan piring yang terbuat dari keduanya, karena keduanya itu teruntuk mereka (selain orang mukmin) di dunia ini dan teruntuk kalian (orang-orang mukmin) di akhirat kelak”. (HR. Bukhari Muslim)
Saya katakan di sini bahwa kenikmatan yang disebutkan sampai di bagaian ini adalah kenikmatan yang teruntuk kaum laki-laki maupun wanita secara sama.
Pakaian Penghuni Surga dan Perhiasannya
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman. (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air. mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal,(duduk) berhadap-hadapan.” (QS. Ad-Dukhaan: 51-53)
Allah swt. juga berfirman: "Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al-Kahfi: 31)
Firman Allah swt: "Dan Dia (Allah) memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera." (QS. Al-Insaan: 12)
Allah swt. juga berfirman: "Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak. (QS. Al-Insaan: 21)
Ibnu Qayyim berkata, renungkanlah makna yang tersimpan dalam kata عاليهم, (`aliyahum) kata ini menunjukkan bahwa pakaian yang dimaksudkan adalah pakai luar yang tampak, tetapi selain itu mereka juga diberikan pakaian dalam yang merupakan sebuah simbol. Baju yang dipakaikan Allah swt. itu adalah baju luar yang dipakai agar kelihatan indah dan lebih cantik.
Dan pikirkanlah bagaimana Allah swt. memberikan dua macam busana luar yang berupa pakaian penutup badan dan perhiasan, sebagaimana Allah swt. juga memberikan dua macam pakaian (pakaian luar dan dalam). Demikian itu seperti yang baru saja dijelaskan. Allah swt. memberikan kenikmatan untuk bagain organ tubuh dalam kita dengan nikmat yang berupa minuman air yang bersih, dan pegelangan tangan dengan gelang serta badan dengan pakaian sutera.
Allah swt. berfirman: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati". (QS. Al-Hajj: 32)
Dalam kitab sahih Bukhari dan sahih Muslim terdapat sebuah Hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. bahwa dia mendengar Rasulallah saw. bersabda:
تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ
"Panjang perhiasan tangan seorang mukmin sepanjang dia ketika membasuh pada waktu berwudlu.” (HR. Bukhari Muslim)
Di dalam kitab sahih Muslim juga diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Nabi saw. berkata:
مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَنْعَمُ لَا يَبْأَسُ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ
"Barang siapa yang masuk surga maka dia akan mendapatkan kenikmatan dan tidak akan tertekan, tidak akan rusak pakaiannya, dan masa mudanya tidak akan sirna. Dan di dalam surga terdapat apa yang belum pernah dilihat oleh mata terdengar oleh telinga dan tidak pernah terblesit dalam hati manusia.” (HR. Muslim)
Saya berpendapat bahwa sudah tidak ada lagi keraguan lagi bahwa kenikmatan seperti ini adalah kenikmatan surga yang akan diberikan untuk kaum laki-laki maupun kaum wanita. Bahkan, kaum wanita justru mendapatkan bagian kenikmatan yang lebih banyak, sebab perhiasan dan kecantikan adalah sesuatu yang hanya menjadi kecintaan kaum wanita, mereka diciptakan menyukainya.
Paras Cantik dan Karakter Baik Wanita Penghuni Surga
Allah swt. berfriman: "Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 25)
Ibnu Qayyim berkata, renungkanlah kemuliaan orang (Muhammad saw.) yang memberikan kabar gembira itu, kedudukannya, dan kepercayaanya. Perhatikan juga Dzat (Allah swt.) yang telah mengutusnya kepadamu dengan membawa kabar gembira itu. Renungkanlah juga sepertio apakah kabar gembira itu. Betapa besar ganjaran Allah swt. yang diberikan sebagai balasan amal yang sangat mudah dan gampang untuk kamu kerjakan. Di dalam kabar gembira ini, Allah swt. memberikan bermacam-macam kenikmatan. Kenikmatan jasmani yang berupa kebun-kebun serta sungai dan buah-buahan. Kenikmatan rohani yang berupa istri-istri yang selalu dalam kondisi suci. Kenikmatan dan penenang hati yang berupa keabadian di dalam kehidupan yang dialami nanti, kekal abadi untuk selama-lamanya tanpa ada putus-putusnya.
Kata أزواج (azwaaj) adalah bentuk plural dari kata زوج (zauj) artinya pasangan. Wanita adalah pasangan laki-laki dan sebaliknya laki-laki adalah pasangan wanita. Arti ini lebih tepat dibandingkan arti (suami) untuk kata bahasa Arab زوج (zauj). Dan demikianlah yang berlaku dalam bahasa Kabilah Quraisy dimana Alquran turun dengan bahasanya. Anda bisa membaca firman Allah swt.: أسكن أنت وزوجك الجنة (tinggalah kamu –Adam- bersama pasanganmu –Hawa-).
Kata المطهرة (muthahharah) artinya adalah wanita yang disucikan dari haid, kencing, nifas, kotoran, ingus, ludah, dan semua kotoran serta semua yang membuat wanita merasa terganggu di dunia. Selain kesucian itu, perangai mereka juga suci dari segala akhlak yang kurang terpuji dan karakter-karakter wanita yang jelak, mulut mereka bersih dari kata-kata kotor dan rendah, dan mata mereka juga suci dari keinginan pada laki-laki lain selain suaminya, selain itu pakaian mereka juga besih tanpa sedikitpun kotoran.
Allah swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman. mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal,(duduk) berhadap-hadapan. mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal,(duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah, dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran). mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia.Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka." (QS. Ad-Dukhaan: 51-56)
Ibnu Qayyim menejelaskan bahwa Allah swt., selain memberikan tempat tinggal yang baik juga menjamin keamanan bagi mereka dari segala hal yang tidak disenangi sekaligus menyediakan tempat tinggal di seberang sungai dan buah-buahan di sekitarnya. Selain itu Allah swt. juga memberikan pakaian yang bagus dan suasana kehidupan yang menyenangkan. Mereka duduk santai saling berhadap-hadapan satu dengan yang lainnya. Untuk menyempurnakan kenikmatan itu, Allah swt menghadiahkan bidadari bermata lentik kepada mereka, mereka bebas menikmati dan meminta segala macam jenis buah-buahan tanpa ada rasa kekhawatiran akan habis atau terserang sakit karena bahayanya. Di akhir ayat itu, Allah swt mengakhiri kenikmatan-kenikmatan surga dengan memberitahu mereka bahwa mereka akan hidup untuk selama-lamanya.
Kata الحور (huur) adalah bentuk plural dari kata حوراء (hauraa`) artinya adalah wanita muda yang cantik dan jelita, berkulit putih, dan bermata sangat hitam.
Allah swt. berfirman: "Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka , dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustaka. Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (QS. Ar-rahmaan: 56-57)
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa Allah swt. telah menerangkan kepribadian bidadari surga yang selalu menahan pandangannya dalam tiga tempat dalam Alquran. Pertama, dalam ayat di atas.
Kedua, firman-Nya dalam surat Ash-Shaaffaat: "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya." (QS. Ash-Shaaffaat: 48).
Ketiga, firman Allah dalam surat Shaad: "Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.." (QS. Shaad: 52)
Para ulama` ahli tafsir Alquran sepakat bahwa maksud dari menahan pandangan adalah mereka tidak memandang kecuali kepada suami-suami mereka saja, sehingga mereka tidak pernah berhasrat kepada laki-laki lain. Namun ada yang menafsirkan bahwa yang dimaksud menahan pandangannya adalah bidadari itu dapat memukau suaminya sehingga tidak henti-hentinya sang suami memandanginya. Jadi, kecantikannya itu dapat menahan pandangan suami-suami mereka dari melihat wanita yang lain.
Adapun arti kata أتراب (atraab) adalah bentuk plural dari kata ترب (tirb). Seluruh ulama ahli tafsir mengatakan bahwa maksudnya adalah bahwa seluruh bidadari itu masih berumur muda, yaitu tigapuluh tiga tahun.
Sedangkan firman Allah swt.: "Tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka , dan tidak pula oleh jin. (Ar-Rahmaan: 56) para ulama menafsirkan bahwa maksudnya adalah mereka tidak pernah digauli sebelumnya, tidak pernah disetubuhi atau ditiduri oleh seorangpun dari golongan manusia atau jin. Ulama ahli tafsir namun akhirnya berbeda penafsirkan tentang siapakah sejatinya bidadari itu? Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita yang sengaja diciptakan Allah swt. di surga. Namun ulama yang lain mengatakan bahwa mereka adalah istri-istri laki-laki yang masuk surga sewaktu mereka di dunia. Istri-istri itu diciptakan untuk kedua kalinya, sebagaimana yang disebutkan.
Ibnu Qayyim berpendapat bahwa dari dzahirnya teks ayat-ayat Alquran tersebut menunjukkan bahwa wanita-wanita itu bukan dari golongan wanita dunia, akan tetapi dari golongan bidadari yang cantik dan lentik matanya sebab istri manusia sewaktu di dunia tentu sudah pernah disetubuhi sebelumnya dan istri jin juga sudah pernah disetubuhi oleh jin. Ayat di atas juga menunjukkan maksud ini.
Firman Allah swt.: "Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar-Rahmaan: 58) Kebanyak ulama ahli tafsir menafsirkan bahwa Allah swt. menghendaki beningnya yakut dalam marjan yang putih. Maksudnya, beningnya wanita-wanita surga seakan-akan seperti beningnya yakut dan marjan.
Allah swt. berfirman dalam menjelaskan sifat-sifat mereka: "(Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah." (QS. Ar-Rahmaan: 72) Artinya, mereka adalah wanita-wanita cantik yang dipingit. Namun bisa juga diartikan bahwa mereka adalah wanita-wanita yang dipingit untuk suaminya saja. Mereka tidak melihat laki-laki lain dan juga selalu berada di rumah. Dan itulah maksud perkataan sebagian ahli tafsir yang menafsirkan “bidadari yang menahan pandangannya” dengan arti menahan pandangannya dari selian pasangan laki-lakinya, sehingga mereka sama sekali tidak pernah memandang laki-laki lain.
Ibnu Qayyim memberikan catatan. Dalam ayat di atas kalimatnya berbunyi قاصرات (qaashiraat) artinya menahan pandangan, sementara dalam ayat ini berbunyi مقصورات (maqsuuraat) artinya yang ditahan atau dipingit. Jadi ada perbedaan yang sangat mendasar. Sedangkan kata فى الخيام (fil khiyaam) adalah sebagai penjelasan tentang keberadaan mereka, mereka selalu berada di dalam rumah kemahnya.
Allah swt. berfriman: "Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik." (QS. Ar-Rahmaan:70)
Imam Ibnu Qayyin menjelaskan, kata الخيرات (al-khairaat) adalah bentuk plural dari kata خيرة (khairah). Diambil dari kata خيرة (khayyirah) seperti kata سيدة (sayyidah) dan لينة (layyinah). Sedangkan kata حسان (hisaan) adalah bentuk jamak dari kata حسنة (hasanah) artinya wanita yang cantik. Mereka adalah wanita yang baik sifatnya, bagus pekertinya dan cantik paras mukanya.
Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis yang perawan. penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan." (QS. Al-Waaqi`ah: 35-38)
Ibnu Qayyim menjelaskan, dalam ayat ini disebutkan kata ganti (dhamir), padahal dalam kalimat sebelumnya tidak disebutkan kata asli (isim dhahir)nya, sebab kata “tempat tidur” sudah menunjukkan pada arti tersebut. Karena wanita adalah identik dengan tempat tidur. Sebagian ulama ada yang menafsirkan, bahwa kata وفرش مرفوعة (furusyim marfuuah) adalah kalimat yang menunjukkan arti wanita secara tidak jelas (kinayah), sebagaimana arti wanita juga kadang ditunjukkan oleh kata قوارير (qawariir) dan أزر (uzur) dan lain sebagainya. Akan tetapi kata مرفوعة (marfuu`ah) artinya yang diangkat, sangat tidak mendukung penafsiran seperti ini. Kecuali apabila yang dimaksudkan adalah wanita-wanita yang diangkat derajatnya.
Adapun penafsiran yang benar adalah penafsiran yang mengartikannya dengan “tempat tidur” dan sekaligus arti itu juga menujukkan arti “wanita” sebab tempat tidur adalah identik dengan wanita yang biasanya menjadi teman tidur laki-laki dalam tempat tidurnya.
Ulama lain ada yang mengatakan, bahwa yang dikehendaki dari ayat itu adalah wanita dari keturunan nabi Adam yang sudah mencapai umur tua dan pikun kemudian diciptakan Allah swt. untuk kedua kalinya, setelah kehidupan pertamanya di dunia.
Ada ulama lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksudkan adalah bidadari-bidadari yang lentik matanya sebagaimana yang telah disebutkan Allah swt, Dia menciptakannya untuk para kekasih-Nya, mereka tidak akan pernah melahirkan.
Adapun maksud yang dapat dipahami dengan jelas dari ayat tersebut adalah Allah swt. benar-benar akan menciptakan mereka di surga. Kata عربا (`uruban) dalam firman Allah Swt. di atas adalah bentuk jamak dari kata عروب yang artinya wanita-wanita yang diciptakan khusus untuk pasangannya saja. Ada yang menafsirkan artinya adalah wanita-wanita yang taat kepada suaminya sekaligus cinta kepadanya. Dikatakan juga, maksudnya adalah wanita yang cantik dan bersuami sebagaimana ada ulama yang menafsirkan bahwa mereka adalah wanita-wanita yang selalu merindukan suami-suaminya.
Ibnu Qayyim menafsirkan ayat itu. Maksud yang dikehendaki dari ayat itu adalah wanita-wanita yang dapat memberikan kepuasan dengan kelembutan kepada suaminya ketika bersetubuh. Selain rupa yang cantik, Allah swt. juga menjadikannya baik perangainya. Karakter seperti itulah yang sangat didam0idamkan laki-laki pada seorang wanita dan dengan merekalah seorang laki-laki mendapatkan puncak kenikmatannya. Dalam firman Allah swt.: "Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar." (QS. Al-Waaqi`ah: 74) terdapat pemberitahuan tentang kenikmatan berhubungan badan dengan mereka yang luar biasa sehingga harus bertasbih. Hal itu tentu saja karena kenikmatan bersetubuh dengan wanita yang sama sekali belum pernah disetubuhi oleh orang lain melebihi kenikmatan bersetubuh dengan wanita yang sudah pernah disetubuhi, begitu juga yang dirasakan oleh wanita tersebut.
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur. dan gadis-gadis remaja yang sebaya."(QS. An-Naba`: 31-33)
Ibnu Qayyim menjelaskan, dalam ayat ini kataالكواكب (kawaakib) adalah bentuk jamak dari kata كاعب (kaa`ib) artinya wanita yang montok buah dadanya. Kata asal kalimat ini diambil dari kata yang menunjukkan arti bundar. Sedangkan pesan yang dimaksudkan adalah wanita-wanita yang buah dadanya montok seperti buah delima dan sama sekali tidak kendor ke bawah. Demikian itulah wanita yang disebut sebagai كواعب (gadis-gadis yang montok buah dadanya).
Imam Bukhari meriwayatkan Hadits dalam kitab sahihnya dari sahabat Anas bin Malik ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ أَوْ مَوْضِعُ قَدَمِهِ مِنْ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Sungguh sekali keberangkatan dalam menempuh jalan Allah swt. di permulaan siang atau di ujung siang lebih utama dibandingkan dunia dan seisinya. Dan sesungguhnya satu dzira` dari ukuran salah satu kalian di surga lebih utama dibandingkan dunia dan seisinya dan seandainya seorang wanita penghuni surga turun ke bumi maka tentu baunya akan memenuhi ruangan yang ada di antara keduanya (bumi dan surga). Dan jarak di antara keduanya akan dipenuhi baunya. Dan sungguh kerudung yang berada di atas kepalanya lebih utama dibandingkan dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari)
Di dalam dua kitab sahih Bukhari dan Muslim sebuah Hadits diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah ra. dari Rasulallah saw.:
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
"Sesungguhnya kelompok pertama yang masuk surga bagaikan bulan pada malam purnama, dan kelompok selanjutnya bagaikan bintang yang paling terang di langit. Bagi setiap orang di antara mereka dua pasangan, kedua sungsumnya kelihatan dari balik tulangnya dan orang yang di surga adalah tidak menikah." (HR. Bukahri Muslim)
Saya katakan di sini, ada banyak sekali Hadits yang menjelaskan bahwa setiap laki-laki akan mendapatkan istri lebih dari dua. Sedangkan Hadits-hadits yang sahih hanya menyebutkan bahwa mereka akan mendapatkan dua istri saja, dalam Hadits yang sahih tidak ada yang menyebutkan bilangan lebih dari dua.
Apakah Wanita di dalam Surga Dapat Mengandung dan Melahirkan
Ada beberapa Hadits yang menyebutkan bahwa wanita dapat mengandung dan melahirkan di dalam surga. Akan tetapi Hadits-hadits tersebut adalah Hadits-hadits yang lemah dan tidak disabdakan oleh Rasulallah saw.. Adapun pendapat yang benar adalah di surga tidak ada mengandung dan juga tidak ada melahirkan anak. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalilnya.
Pertama, Firman Allah swt. : "Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci." (QS. AL-Baqarah: 25) maksudnya adalah wanita-wanita yang disucikan dari haid, nifas, kotoran, ingus, ludah, mani, dan anak.
Kedua, dalam sebuah Hadits yang sahih diriwayatkan dari Nabi saw. beliau bersabda: "Di dalam surga terdapat keutamaan, kemudian Allah akan menciptakan untuk surga itu makhluk yang ditempakan di dalamnya."
Dan seandainya di dalam surga terjadi hamil dan melahirkan, maka tentu keutamaan dan kelebihan di surga ini juga didapatkan oleh keturunan penghuni surga dan anak-anaknya yang baru dilahirkan.
Allah swt. Menjanjikan Bidadari-bidadari Cantik Bagi Kaum Adam Tetapi KenapaTidak Bagi Kaum Hawa?
Jawaban dari pertanya di atas adalah karena Allah swt tidak pantas ditanyakan tentang apa yang Dia perbuat. Sedangkan manusialah yang akan ditanya tentang semua yang telah diperbuat. Allah swt. mempunyai hikmah yang sangat mendalam yang tersimpan di dalamnya.
Syaikh Ibnu `Utsaimin menyebutkan salah satu hikmah tersebut. Dia berkata: "Allah swt. hanya menyebutkan istri-istri untuk para suami yang masuk surga sebab suami adalah orang yang mencari atau meminta. Dialah jenis manusia yang jelas-jelas menyukai wanita. Sementara Allah swt. tidak menyinggung suami-suami untuk istri-istri yang masuk surga –dan ini perlu dicatat- adalah bukan berarti wanita tidak mempunyai suami di dalam surga. Sebab wanita penghuni surga juga sebenarnya mempunyai suami dari keturunan nabi Adam as. (manusia bukan jenis bidadari).
Siapakah Suami Wanita Muslimah yang Masuk Surga?
Dalam masalah ini siapapun wanita yang pernah hidup di dunia dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok berikut ini:
1. Wanita yang meninggal dunia sebelum menikah. Wanita kelompok ini akan dinikahkan Allah swt. di surga dengan laki-laki dunia (manusia) pula. Demikian itu didasarkan atas sabda Rasulallah saw.:
َمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
"Tidak ada sesuatu di surga yang tidak mempunyai suami atau istri." (HR. Muslim)
Syaikh Ibnu `Utsaimin berkata, apabila seorang wanita belum pernah menikah di dunia, maka Allah swt. akan menikahkannya dengan laki-laki yang dapat menenangkan batinnya. Jadi, kenikmatan surga tidak hanya untuk kaum adam akan tetapi untuk laki-laki dan wanita juga. Dan termasuk kenikmatan itu adalah sebuah pernikahan.
2. Wanita yang ditalak suaminya dan meninggal sebelum menikah dengan laki-laki lain. Wanita kelompok ini akan dinikahkan Allah swt. dengan laki-laki dunia juga (manusia).
3. Wanita yang sudah menikah akan tetapi suaminya tidak masuk surga bersamanya. Wanita kelompok ini juga akan dinikahkan dengan laki-laki dunia (manusia).
Syaikh `Utsaimin berkata, apabila wanita yang masuk surga belum menikah atau sudah menikah akan tetapi suaminya tidak masuk surga, maka sesungguhnya di dalam surga juga terdapat banyak laki-laki yang belum menikah.
4. Wanita meninggal setelah menikah. Wanita kelompok ini akan hidup bersama-sama suaminya di surga.
5. Suaminya meninggal dan istri belum menikah hingga ajal menjemputnya. Wanita kelompok ini di dalam surga akan menjadi istri sang suami.
6. Suaminya meninggal kemudian istrinya menikah lagi dengan laki-laki lain. Wanita kelompok ini adalah istri untuk suaminya yang terakhir. Karena Rasulallah saw. bersabda:
المرأة لأخر ازواج
"Seorang wanita untuk suami terakhirnya". Lihat kitab As-Silsilah Ash-Shahihah (1281).
Keindahan Surga Melebihi Seluruh Hayalan yang Terlintas di Hati
Allah swt berfirman: "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 16-17)
Ibnu Qayyim berkata, renungkanlah bagaimana Allah swt. memberikan balasan yang disamarkan sebagaimana mereka juga menyamarkan shalat malamnya di tengah keheningan malam, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Dan perhatikan juga bagaimana Allah swt. mengimbangi ketakutan, kegelisahan, dan kegundahan mereka pada waktu bangung dari tidurnya dan beranjak dari tempat tidurnya untuk melakukan shalat malam, dengan balasan ketenangan batin di dalam surga.
Dalam kedua kitab sahih Bukhari Muslim terdapat Hadits yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda: "Allah Swt. berfirman "aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalil sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum ada telinga yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terblesit di dalam hati manusia. Seperti yang difirmankan Allah swt. dalam Alquran "Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 17)
Dalam kitab sahih Bukhari Muslim sebuah Hadits juga diriwayatkan oleh sahabat Abu Haurairah ra., dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
لَقَابُ قَوْسٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِمَّا تَطْلُعُ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَتَغْرُبُ
"Jarak dekat salah satu kalian di dalam surga lebih baik dibandingkan matahari yang muncul dan tengelam di bumi.” (HR. Bukhari Muslim)
Dalam sahih Bukhari diriwayatkan dari sahabat Sahal bin Sa`ad ra. dia berkata saya mendengar Rasulallah saw. bersabda:
مَوْضِعُ سَوْطٍ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Satu tempat sejengkal di dalam surga lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Bukhari)
Ibnu Qayyim menjelaskan, bagaimana jika derajat dunia dibandingkan dengan derajat sebuah bangunan yang dibangung oleh Allah Swt. dengan kekuasaanya didalam surga sebagai tempat tinggal kekasih-kekasih-Nya? Dan Allah swt. telah memenuhi bangunan itu dengan rahmat, kemuliaan, dan keridlaan-Nya. Allah swt. menyatakan bahwa surga itu adalah sebuah keberuntungan yang sungguh agung. Allah swt. juga telah memberikannya sebagai milik mereka, di seluruh tepi-tepinya terdapat semua kebaikan dan diselamatkan dari segala kelemahan dan kekurangan.
Apabila kamu bertanya tentang tanah dan lantainya maka ketahuilah ia terbuat dari minyak kasturi dan za`faran.
Apabila kamu bertanya tentang atapnya maka ketahuliah ia adalah `Ars Allah swt yang Maha Penyayang.
Apabila kamu bertanya tentang dindingnya maka ketahuilah ia adalah batu bata yang terbuat dari perak dan emas.
Apabila kamu bertanya tentang pohon-pohonya maka ketahuilah di dalamnya tidak ada satu pohonpun kecuali bongkanya tumbuh dari emas dan perak, bukan dari kayu besar dan juga bukan dari rerantingan.
Apabila kamu bertanya tentang buah-buahannya maka ketahulilah ia bagaikan anggur yang lebih lunak dibandingkan mentega dan lebih manis dari madu.
Apabila kamu bertanya tentang daun-daunnya maka ketahulilah ia adalah perhiasan-perhiasan yang paling indah.
Apabila kamu bertanya tentang sungainya maka ketahuilah ia adalah sungai dari air susu yang rasanya tidak berubah dan sungai dari khamer yang nikmat bagi orang-orang yang meminumnya dan sungai-sungai madu yang sudah disaring.
Apabila kamu bertanya tentang makanannya maka ketauhilah ia adalah buah-buahan yang bebas untuk mereka pilih dan daging burung yang mereka idam-idamkan.
Apabila kamu bertanya tentang minumannya maka ketahuilah ia terbuat dari tasnim, zanjabil, dan kafur.
Apabila kamu bertanya tentang tempat makanan dan minumannya maka ketahuilah ia adalah tempat-tempat yang terbuat dari emas dan perak yang bening dan bersih.
Apabila kamu bertanya tentang luas pintunya maka ketahuilah bahwa jarak dua kakinya sejauh perjalanan empatpuluh tahun.
Apabila kamu bertanya tentang naungannya maka ketahuilah di dalam surga terdapat satu pohon yang mana apabila seorang yang berjalan dengan serius pun tidak dapat menempuhnya dalam jarak seratus tahun.
Apabila kamu bertanya tentang rumah-rumah dan kubah-kubahnya maka ketahuilah bahwa sebuah rumah yang terbuat dari mutiara yang dilubangi seluas enam puluh mil dari rumah-rumah tersebut.
Apabila kamu bertanya tentang tingginya maka lihatlah bintang di saat muncul atau menghilang di ufuk langit yang tidak dapat dipandang mata.
Apabila kamu bertanya tentang pakaian penghuninya maka ketahuilah ia terbuat dari sutera dan emas.
Apabila kamu bertanya tentang selimutnya maka ketahuilah selimut itu terbuat dari sutera tebal yang dibordil dengan emas, ia digelar di atas lantai pertama.
Apabila kamu bertanya tentang wajah-wajah dan kebaikan penduduknya maka ketahuilah mereka bagaikan bulan.
Apabila kamu bertanya tentang gigi-giginya maka ketahuilah mereka adalah orang-orang muda yang berumur tigapuluh tiga sebaya dengan nabi Adam as., bapak seluruh manusia.
Apabila kamu bertanya tentang perhiasannya dan lencananya maka ketahuilah ia berupa gelang-gelang emas dan mutiara dan di atas kepala mereka dihiasi mahkota.
Apabila kamu bertanya tentang pelayannya maka ketahuilah mereka adalah anak-anak muda yang kuat seakan-akan mereka adalah intan yang tersimpan.
Apabila kamu bertanya tentang istri dan suami mereka maka ketahuilah mereka adalah wanita yang berdada montok dan masih muda yang mana kulitnya masih terlihat sangat muda. Pipi mereka seakan bunga mawar dan buah apel, buah dada mereka bagaikan buah delima, leher mereka baikan intan yang tersusun cantik, pinggang mereka sungguh lembutan dan halus, matahari seakan bersinar di wajah mereka pada saat mereka keluar, kilat menyambar dari sela-sela giginya pada waktu mereka tersenyum, apabila seorang istri dengan bertemu suaminya maka katakanlah apa saja yang ingin kamu katakan untuk menggambarkan pertemuan dua cayaha yang begitu terang. Apabia dia bercengkrama dengan suaminya maka bayangkanlah bagaimana dua kekasih yang saling bermesra-mesraan. Apabila keduanya saling berpelukan maka bayangkan dua ranting yang saling melilit kuat, dia dapat melihat wajahnya di lebar pipi istrinya sebagaimana dia melihat wajahnya di kaca. Sungsum tulang mereka kelihatan dari luar dagingnya, kulitnya tidak menghalangi, juga tidak tulang dan pakaian mereka. Seandainya dia turun ke bumi tentu bumi akan dipenuhi bau harum, semua mulut akan dipenuhi dengan bacaan tahlil, tahmid dan tasbih, dia akan menjadi hiasan di seluruh bagian timur dan barat. Semua mata tidak akan melihat selainya, sinar matahari akan sirna seperti sinar bintang juga sirna karena sinar matahari, dan tentu semua orang yang berada di atas bumi akan beriman kepada Allah swt. yang Maha Hidup dan Melaksanakan. Kerudung yang berada di atas kepalanya lebih indah dibanding dunia dan seisinya. Bertemu dengannya lebih menyenangkan dibandingkan mendapatkan seluruh keinginan. Semakin lama semakin bertambah cantik dan jelita, waktu yang berputar tidak menambahnya kecuali rasa cinta dan ingin bertemu, suci dari hamil, melahirkan, haid, dan nifas, bersih dari ingus, luda, air kencing, tinja, dan semua kotoran, masa mudanya tidak akan sirna, pakaiannya tidak rusak, pekaian kecantikannya tidak menjadi kusut, bau wangi ketika bertemu dengannya tidak membosankan, matanya tidak melihat kecuali suaminya sehingga tidak mempunyai keinginan pada laki-laki lain, dia dapat mempesona suaminya sehingga tidak tidak punya pikiran untuk memandang wanita yang lain. Istri orang yang masuk surga adalah seluruh tampatan hatinya dan kemauannya, apabila dia melihatnya maka dia akan menyenangkannya, apabila pergi maka dia menjaga dirinya, suami itu sungguh menjadi satu-satunya harapan, dia tidak pernah disetubuhi oleh sorangpun baik manusia atu jin, setiap kali melihatnya hatinya akan dipenuhi dengan kebahagiaan. Setiap kali berbicara kepadanya seakan telinganya akan dipenuhi dengan mutiara yang tersusun dan tersebar. Apabila keluar maka istana dan kamar akan penuh dengan cahaya.
Apabila kamu bertanya umurnya maka dia adalah gadis muda yang berumur paling cantik.
Apabila kamu bertanya tentang kecantikannya maka pernahkah kamu melihat matahari dan bulan?!.
Apabila kamu melihat bola matanya maka ketahuilah ia sungguh hitam dan cantik, bagian putihnya sungguh putih dan bening, sungguh lentik mata itu.
Apabila kamu bertanya bodi tubuhnya maka pernahkah kamu melihat cabang pohon yang paling bagus.
Apabila kamu bertanya tentang buah dadanya maka mereka adalah wanita yang buah dadanya montok, buah dada itu bagaikan bundaran buah delima.
Apabila kamu bertanya warna kulitnya maka ketahuilah ia bagaikan mutiara dan marjan.
Apabila kamu bertanya tentang pekertinya yang bagus maka ketahuilah mereka adalah wanita-wanita yang cantik dan jelita. Di samping cantik juga selalu berbuat baik. Mereka diberikan kecantikan dhahir dan batin, mereka adalah kesenangan jiwa dan ketentraman apabila dipandang.
Apabila kamu bertanya tentang pergaulan yang bagus dan kenikmatan bersama-samanya di sana, maka ketahuilah mereka adalah wanita yang penuh cinta dan sangat dicintai oleh suaminya, dengan kelembutan suami yang bercampur dengan ruh sayang.
Apa yang kamu bayangkan tentang wanita yang apabila tersenyum di depan suaminya maka surga akan terang karena senyumnya, dan apabila dia pindah dari sebuah istana ke istana yang lain maka kamu akan berkata "surya ini sedang berpindah dari jalan beredarnya, dan apabila dia menghadap kepada suaminya maka aduhai sungguh indahnya kehadiran itu, apabila suaminya mendekapnya maka sungguh hangatnya pelukan dan dekapan itu.
Bicaranya bagaikan sihir yang halal seandainya ia
Tidak berbuat salah membunuh Muslim yang menjaga dirinya
Lamapun tidak membuat bosan dan apabila dia berbicara
Maka lawan bicaranya senang bila bicaranya itu tidak dipersingkat.
Apabila dia menyanyi maka sungguh indahnya di mata dan di telinga. Apabila dia menemani maka sungguh mesra kebersamaan dan kenikmatan itu. Apabila mereka dicium maka tidak ada lagi yang lebih nikmat daripada menciumnya. Apabila dia sudah menyandarkan dirinya maka tidak ada lagi yang lebih enak dibanding sandaran itu.
Demikianlah. Dan apabila kamu bertanya lagi tentang hari tambahan, dan kunjungan Allah yang Maha Menang dan Terpuji serta karunia berupa melihat wajah-Nya yang suci dari segala persamaan dan percontohan, maka seperti kamu ketika melihat matahari pada waktu siang dan malam hari pada waktu malam purnama. Hal itu seperti yang disabdakan oleh Rasulallah saw. yang benar dan terpercaya dalam sebuah Hadits yang mutawatir.
Dan Allah swt. juga berfirman: "Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (QS. Al-Qiyaamah: 22-23)
Marilah kita menuju surga `Adn (keabadian) sesungguhnya ia
Tempat tinggalmu yang pertama dan di dalamnya kamu dibangunkan rumah.
Akan tetapi kita sedang ditawan oleh musuh. Masihkah terpikirkan
Untuk kembali ke negeri kita dan kita berislam.
Karakteristik Muslimah yang Mendapat Pahala Allah swt. yang Agung
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)
Faktor-faktor Muslimah Dapat Menggapai Surga
I. Tauhid dan Ikhlas.
Allah swt. berfirman
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al bayyinah: 5) dan firman Allah Swt.: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Hajj: 37)
Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa berkata Laailaahaillah dengan ikhlas dari hatinya maka dia akan masuk surga" Rasulullah saw. juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya semua amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai apa yang telah diniatkan. Maka barang siapa berhijrah untuk Allah swt. dan Rasul-Nya maka hijrahnya tersebut juga menjadi hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk dunia semata atau perempuan untuk dinikahi maka akan menjadi sesuai dengan yang telah menjadi niat hijrahnya.". ( HR. Bukhari Muslim)
II. Menginfakkan Sebagian Harta di Jalan Allah
Allah swt. berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS. Ali `Imraan: 92)
Diriwayatkan dari sahabat Anas ra bahwa Abu Thalhah ra. adalah orang yang hartanya paling banyak di kota Madinah berupa pohon-pohon kurma. Harta yang paling dicintainya adalah kebun yang bernama bairuhaa`, kebun itu menghadap ke Masjid dan Rasulallah saw. biasanya memasukinya dan minum air yang segar di dalamnya. Sahabat Anas ra. berkata: "ketika ayat "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai" maka Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulallah saw. dan berkata "wahai Rasulallah, Allah swt. telah menurunkan kepada engkau ayat "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai." Dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah kebun bairuhaa`, dan sesungguhnya ia adalah sedekah di jalan Allah swt. yang aku harapkan kebaikannya dan sebagai simpananku di sisi Allah swt.. Jadikanlah ia wahai Rasulallah di jalan Allah sesuai pendapatmu. Kemudian Rasulalah saw. bersabda: "Wah, sungguh itu adalah harta yang akan mendatangkan keberuntungan, itu adalah harta yang akan mendatangkan keberuntungan, dan aku telah mendengar apa yang telah kamu katakan. Aku berpendapat untuk menjadikannya sebagai sedekah untuk kerabat-kerabatmu. Kemudian Abu Thalhah berkata: "aku akan laksanakan wahai Rasulallah, lalu Abu Thalhah membagikannya kepada sanak kerabatnya dan keponakannya. (HR. Bukhari Muslim)
III. Perangai yang Terpuji
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dia berkata bahwa Rasulallah Saw. bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paliang baik budi pekertinya, dan orang pilihan di antara kalian adalah orang yang baik terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi) dia berkata Hadits ini adalah Hadits Hasan dan Sahih.
IV. Menjadi Wanita yang Shalihah Untuk Suami
“ Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)
"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya):"Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang yang beriman, ketika ia berkata:"Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim. dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat." (QS. At-Tahriim: 10-12)
V. Menjauhkan Rintangan Dari Jalan Umum
Rasulallah saw. bersabda:
لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ
"Sungguh aku telah melihat seorang laki-laki yang sedang menikmati kenikmatan surga dikarenakan sebuah pohon yang dia singkirkan dari tengah-tengah jalan umum yang mengganggu manusia." (HR. Muslim)
Jadi, apabila saudari Muslimah yang baik menemukan sesuatu di jalan umum yang mengganggu perjalanan manusia maka hendaknya dia menyingkirkannya semata untuk mencari pahala Allah swt. sebab dia selalu melakukan amal perbuatannya karena Allah swt.. Dialah Allah yang mengganjar hamba-hamba-Nya dan memuliakannya di dalam surga-Nya sebagai balasan atas segala amal perbuatannya yang baik yang telah mereka lakukan.
VI. Selalu Barusaha Menjaga Shalat Sunnat 12 Raka`at
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
"Barang siapa yang bersabar untuk melakukan dua belas rakaat dari shalat sunat maka niscaya Allah swt. akan membangun untuknya sebuah rumah di surga. Yaitu empat rakaat sebelum shalat Dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah shalat Magrib, dua rakaat setelah shalat Isya`, dan dua rakaat sebelum shalat Subuh." (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa`i)
Andai saja enkau wahai saudariku berusaha untuk menjaga melakukan shalat-shalat sunat itu dengan harapan mencari pahala yang agung serta ingin menggapai surga Allah Swt. yang Maha Mulia dan Pemaaf.
VII. Mencintai Orang-orang Beriman Semata Karena Allah swt
Wahai saudariku, sesungguhnya orang mukmin harus selalu berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat bersahabat dengan orang mukmin yang benar dan mulai. Mulsi sekarang, mereka harus saling mengikat janji untuk saling membantu satu sama lain khususnya pada zaman yang serba susah ini. Dengan demikian makna persaudaraan akan benar-benar terealisasikan di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itulah Allah swt. berfirman dalam Alquran: "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf: 67) Dan sesungguhnya Allah swt. telah memberikan karunia yang besar dengan menjadikan para pemeluk agama saling mencintai, kemudian Allah swt. berfirman: "Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Anfaal: 63) Dan Allah swt. juga berfirman: "Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang." (QS. Maryam: 96)
Rasulallah saw bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
"Barang siapa yang mencitai karena Allah dan membenci karena Allah swt, memberi karena Allah, dan tidak memberi juga karena Allah Swt maka dia teklah menyempurnakan imannya." (HR. Abu Dawud)
Tidak hanya itu, cinta kepada orang mukmin yang muncul semata karena Allah swt.dapat mewajibkan cinta Allah kepada hamba tersebut.
Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman:
حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي للمتناصين فىوَحَقَّتْ مَحَبَّتِي للمتناصحين فى وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي فِيَّ لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ وَالْمُتَحَابُّونَ فِي عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ بِمكانهم النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ
"Telah menjadi keharusan bagiku untuk mencintai pada orang-orang yang saling mencitai dalam mencari ridlaku, dan telah menjadi keharusan bagiku untuk mencintai pada orang-orang yang saling berwasiat dalam mencari ridlaku, telah menjadi keharusan bagiku untuk mencintai orang-orang yang saling menasehati demi mencari ridlaku, dan telah menjadi keharusan bagiku untuk mencintai orang-orang yang saling berkunjung demi mencari ridlaku, telah menjdai keharusan bagiku untuk mencintai pada orang-orang yang saling memberi di dalam mencari ridlaku. Orang-orang yang saling mencintai karenaku berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, para nabi, shiddiqun (orang-orang benar dalam beragama), dan para suhada` ingin mendapatkan tempat mereka tersebut." (HR. Ahmad dan Hakim)
Selain pahala tersebut, mereka juga termasuk tujuh orang yang mendapatkan naungan dari Allah Swt. pada hari kiamat.
Rasulallah Saw. telah bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ –وذكرمنهم- وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
"Tujuh yang akan dinaungi oleh Allah pada hari di mana tidak ada satupun naungan kecuali naunganNya –kemudian beliau menyebutkan tujuh kelompok di antaranya adalah- dua laki-laki yang saling mencintai karena Allah Swt, mereka berkumkul karena Allah dan berpisah karenaNya."(HR. Bukhari Muslim)
Cinta itu dapat menjadi sebab seorang laki-laki yang mencintai saudaranya seiman berhak mendapatkan surga Allah swt.
Rasulallah saw. bersabda:
أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي الله فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ مَلَكًا فقَالَ أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ أُرِيدُان أزور أخى فلانا فقال لحاجة لك عنده؟ قال لا قال فنِعْمَة ٍلك عنده؟ قَالَ لا قَالَ فبم؟ قَالَ أحبه لله قَالَ فان الله أرسلنى اليك أخبرك بأنه يحبك لحبك اياه وقد أوجب عليك الجنة
"Apabila seorang laki-laki mengunjungi saudaranya hanya karena Allah, maka Dia akan menyediakan seorang malaikat lalu dia berkata kemana kamu akan pergi? Dia menjawab aku hendap mengunjungi saudaraku si anu, lalu dia bertanya "karena ada kepentinganmu padanya?dia menjawab "tidak" dia bertanya "karena ada hubungan keluarga dengannya?dia menjawab "tidak" dia bertanya lagi "untuk mencari kenikmatan padanya? Dia menjawab "juga tidak" lalu bertanya "lantas untuk apa?dia menjawab "karena aku mencintainya semata karena Allah" lalau dia berkata "sesungguhnya Allah Swt. telah mengutusku kepadamu utnuk memberitahu bahwa sesungguhnya Dia (Allah) mencintaimu karena cintamu kepadanya dan Allah mewajibkan surga untukmu." (HR. Muslim)
VIII. Malu
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar ra. bahwa rasulallah saw. pernah bertemu dengan seorang laki-laki dari golongan Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang masalah pekerti malu, lalu beliau bersabda: "Biarkanlah dia karena sesungguhnya malu adalah sebagian dari iman." (HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan juga dari sahabat Imran bin Hushain ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
"Malu tidak datang kecuali dengan kebaikan." (HR. Bukhari Muslim)
IX. Dzikir kepada Allah swt.
Allah swt berfirman: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152) Allah juga berfirman: "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, -sampai firman-Nya-, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)
Firman Allah swt juga: "Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu`ah: 10)
Rasulallah saw. bersabda bahwa Allah swt berfirman dalah Hadits Qudsi:
لا يذكرنى عبد فىنفسه الا ذكرته فى ملأ من ملائكتى ولا يذكرنى فى ملأ الا ذكرته فى الرفيق الأعلى
"Seorang hambaku tidak berdzikir kepadaku di dalam hatinya kecuali Aku juga menyebutnya di dalam sekelompok malaikatku, dan dia tidak berdzikir kepadaku di tengah-tengah sekelompok manusia kecuali Aku menyebutkannya di dalam Ar-Rafiiq Al-`A`laa (di samping-Nya)." (HR. Ath-Thabrani)
Rasulallah saw. juga bersabda:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan rumah yang disebut-sebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut-sebut nama Allah di dalamnya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati." (HR. Bukhari Muslim)
Rasulallah saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً
"Sesungguhnya Allah memilih empat kalimat, yaitu Subhaanallaah wal hamdulillaah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar. Barang siapa yang mengucapkan subhaanallah maka akan ditulis sepuluh kebaikan dan dilebur duapuluh keburukan. Dan barang siapa yang mengucapkan Allaahu akbar maka juga demikian, dan barang siapa yang mengucapkan maka juga seperti itu, dan barang siapa yang mengucapkan alhamdulillahi rabbil alamiin keluar dari hatinya maka akan ditulis untuknya tiga puluh kebaikan dan dilebur tigapuluh keburukan." (HR. Ahmad)
Maka berusahalah untuk memperbanyak kalimat itu wahai saudariku...
(Catatan) Ketahuilah wahai saudariku, sesungguhnya tarian, teriakan, nyanyian, liric lagu yang tidak dipahami, berdesak-desakan yang sering kita saksikan pada hari-hari kebahagiaan atau yang lain adalah sama sekali tidak termasuk Islam yang suci. Bahkan orang yang melakukan perbuatan-perbuatan buruk ini adalah orang-orang yang melakukan keburukan terhadap Islam dan terhadap Rasulallah saw. yang agung yang mana Allah swt. sudah menyanjungnya dalam Alquran "dan sesungguhnya kamu di atas pekerti yang agung."
X. Baik Kepada Tetangga
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirn maka jangan menyakiti tetangganya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan akhir akhir maka hendaklah memuliakan tamunya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam." (HR. Bukhari Muslim)
Rasulallah saw. juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendakalah memuliakan tamunya dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam." (HR. Muslim)
XI. Istiqamah
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:"Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Tuhan) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Fushshuilat: 30-32)
Allah swt. juga berfirman: "Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Ahqaaf: 13-14)
Seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulallah, katakanlah kepadaku tentang Islam perkataan yang dapat membuatku tidak bertanya lagi kepada seorangpun selain engkau. Beliau menjawab: "katakah, aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra., dia berkata, Rasulallah saw. bersabda: "Berbuatlah istiqamah dan berbuatlah baik, dan ketahulilah bahwa tidak ada seorangpun yang akan selamat karana amalnya." Mereka bertanya, engkau juga tidak wahai Rasulallah, beliau menjawab: "iya, aku juga tidak kecuali apabila Allah memberikan rahmat dan karunianya-Nya." (HR. Muslim)
XII. Bersyukur atas Nikmat Allah swt.
Allah swt. berfirman: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152)
Allah swt. juga berfirman: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibraahim: 7)
Allah swt. berfirman: "Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulillaahi rabbil'aalamin" (QS. Yuunus: 10)
Maka wajib bagi setiap Muslimah untuk menghadap kepada Allah swt. dengan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak dapat dihitung dan dijumlah. Allah swt. berfirman: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menhinggakannya.Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibraahim: 34) Dan sesungguhnya nikmat Islam ini sudah seharusnya disyukuri wahai saudariku.
Demi Allah, bisa bersyukur adalah sebuah nikmat yang juga menuntut disyukuri lagi...Jadi, apabila Allah swt. memberikan pertolongan kepada hamba-Nya sehingga dapat bersyukur kepada-Nya maka sesungguhnya pertolongan ini harus disyukuri kembali.
Allah swt. berfirman: "Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih." (QS. Sabaa`: 13)
Rasulallah saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنْ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
"Sesungguhnya Allah akan ridla kepada hamba yang dapat makan sekali kemudian bersyukur dan dapat minum sekali kemudian bersyukur atas nikmat itu." (HR. Muslim)
XIII. Memperbanyak Sujud
Rasulallah saw. bersabda:
أَكْثِرْ مِنْ السُّجُودِ فَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهَا دَرَجَة وحط عنها بها خطيئةً
"Perbanyaklah sujud, karena tidak seorang Muslimpun yang sujud kepada Allah Swt. sejali sujudan kecuali Allah akan mengangkatnya satu derajat di surga dan akan melebur satu kesalahan." (HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari sahabat Rabiah bin Ka`ab Al-Aslami dia berkata: "Aku pernah bermalam bersama Rasulallah saw., kemudian aku bawakan air wudlunya dan kebutuhannya, lalu beliau berkata, mintalah kepada Allah, lalu aku berkata, aku memohon kepada Allah agar dapat menemani Rasulallah di dalam surga, lalu beliau bertanya, apakah masih ada yang lain?..aku berkata, cukup itu...beliau bersabda, kalau begitu kamu harus memperbanyak sujud." (HR. Muslim)
XIV. Rendah Hati Karena Allah Swt.
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ َ
"Barang siapa yang rendah hati karena Allah Swt. maka Allah akan mengangkatnya" (HR. Muslim)
Al-Munawi berkata: "Barang siapa yang rendah hati" karena keagungan Allah swt. dengan sebenar-benarnya rendah hati yang muncul karena melihat keagungan Allah Dzat yang Maha Benar. Jadi, (tawadlu`) rendah diri kepada manusia akan tetapi disertai dengan i`tikad bahwa dirinya lebih mulia dan lebih berderajat adalah bukan tawadlu` yang hakiki, akan tetapi justru lebih dekat kepada kesombongan (takabbur)… "Maka Allah akan mengangkatnya" sebab orang yang merendahkan hatinya karena Allah maka Dia akan membalasnya dengan sebaik-baiknya perbuatan.
Ibnu Al-Hajj berkata, barang siapa yang menginginkan kemuliaan maka hendaklah tawadlu` kapada sesama karena Allah, karena ketinggian sesuatu hanya dapat diukur dari jarak kebawahnya. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa ketika air disiramkan ke pohon maka ia akan naik ke atasnya. Seakan-akan ada orang yang bertanya, apa yang membawamu naik ke sini sedangkan kamu sudah turun ke akarnya, kamudian ia seakan-akan menjawab. "Barang siapa tawadlu` karena Allah maka Allah akan mengangkatnya."
Rasulallah saw. bersabda:
اعلم انك لا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَ اللَّهُ لك بِهَا دَرَجَةً وحَطَّ عَنْك بِهَا خَطِيئَةً
"Dan ketahuilah bahwa kamu tidak bersujud kepada Allah swt. sekali kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahan." (HR. Ahmad)
Maksud diangkat adalah tidak sekedar hanya didekatkan kepada Allah, karena dekat dan diangkat derajat keduanya adalah hal yang berbeda. Allah swt berfirman: " dan bersujudlah dan mendakatlah" (QS. Al-`Alaq: 19)
Rasulallah saw. bersabda:
ما من أدمى الا فى رأسه حكمة بيد ملك فاذاتواضع قيل للملك ارفع حكمته واذا تكبر قيل للملك دع حكمته
"Tidak ada seorang hambapun dari anak cucu Adam kecuali terdapat hikmah di atas kepalanya yang dipegang oleh Malaikat, ketika dia tawadlu` maka dikatakan kepada Malaikat itu: "angkatlah hikmahnya" dan ketika dia sombong (takabbur) maka dikatakan kepada Malaikat itu "tinggalkan hikmahnya." (HR. Ath-Thabrani)
XV. Silaturrahmi
Allah swt. berfirman: "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim." (QS. An-Nisaa: 1)
Allah swt. juga berfirman: "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk." (QS. Ar-Ra`d: 21)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah: ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barasang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tamunya, dan barang saiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah bersilaturrahmi, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam." (HR. Bukhari)
Darinya juga diriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk dan setelah menyelesaikannya maka sanak kerabat berdiri dan berkata "ini adalah tempat untuk orang yang berlindung kepada-Mu dari memutus hubungan kerabat." Lalu Dia berkata "iya, apakah kamu tidak suka apabila Aku menyambung orang yang menyambung sanak denganmu dan memutus hubungan dari orang yang memutusmu?" mereka menjawab "tentu. Maka itu adalah untukmu, kemudian Rasulallah saw. bersabda: "apabila kamu berkenan maka bacalah firman Allah swt.: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka." (QS. Muhammad: 22-23)
Darinya juga diriwayatkan bahwa seorang laki-laki pernah datang dan berkata "wahai Rasulallah, aku mempunyai kerabat yang selalu aku sambung akantetapi mereka memutuskanku, aku berbuat baik kepada mereka namun mereka berbuat jahat kepadaku, aku berlapang dada kepada mereka namun mereka masa bodoh kepadaku, lalu beliau bersabda; "sungguh apabila kamu seperti yang kamu katakan maka seakan-akan kamu sedang makan abu yang panas dan kamu akan selalu bersama penolong dari Allah atas mereka selama kamu terus melakukannya." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari sahabat Anas ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barang siapa yang senang dilapangkan rizkinya dan dikenang nama baiknya maka hendaklan menyambung sanak kerabatnya." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu `Umar ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
"Orang yang menyambung hubungan kekeluargaan itu bukanlah orang yang membalas kunjungannya akan tetapi orang yang menyambung hubungan kekeluargaan adalah orang yang apabila kamu putuskan hubungan kekeluargaannya maka dia akan menyambungmu." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari Abu Sufyan, Sakhr bin Harb ra. di dalam sebuah Hadits yang panjang tentang ceritanya kepada Raja Heraklius. Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan "apa yang dia (Muhammad Saw.) perintahkan kepadamu, dia berkata, aku menjawab, dia (Muhammad saw.) menyuruh "sembahlan Tuhanmu saja dan jangan sekutukan Dia dengan sesutu apapun, tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyangmu. Dan dia juga memerintahkan kepada kami shalat, kejujuran, menjaga diri, dan menyambung hubungan kekeluargaan." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Ayuub Khalid bin Zaid Al-Anshari ra. bahwa seorang laki-laki berkata: "wahai Rasulallah, katakan kepadaku tentang perbuatan yang dapat membawaku masuk ke surga dan menjauhkanku dari neraka, lalu Nabi saw. menjawab, sembahlah Allah saja dan jangan menyekutukannya dengan suatu apapun, dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan sambunglah sanak kerabatmu." (HR. Bukhari)
XVI. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua
Allah swt. berfirman: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak." (QS. An-Nisa`: 36)
Allah swt. berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra`: 23-24)
Allah swt. berfirman: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)
Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman bin Masud ra. dia berkata "aku bertanya kepada Nabi saw. perbuatan apakah yang paling dincintai Allah Swt. beliau menjawab "Shalat tepat pada waktunya. Aku bertanya kemudian apa? Beliau menjawab berbakti kepada kedua orang tua, aku berkata kemudian apa? Beliau menjawab jihad di jalan Allah." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ
"Seorang anak tidak akan dapat membalas orang tuanya kecuali apabila dia mendapatkan orang tuanya sebagai budak lalu membelinya dan kemudian memerdekannya." (HR. Muslim)
Diriwayatkan darinya, dia berkata bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulallah saw. dia berkata: wahai Rasulallah, siapakah yang paling berhak aku pergauli dengan baik? Beliau menjawab, ibumu, dia bertanya, kemudian siapa? Beliau menjawab, ibumu, dia bertanya, kemudian siapa? Beliau menjawab, ibumu, dia bertanya, kemudian siapa? Beliau menjawab, bapakmu." (HR. Bukhari)
Dalam sebuah riwayat dia bertanya: wahai Rasulallah, siapakah yang paling berhak untuk dipergauli dengan baik? Beliau menjawab, ibumu, ibumu, kemudian ibumu dan kemudian bapakmu, lalu orang yang di bawahnya dan lalu yang dibawahnya lagi." (HR. Bukhari)
Darinya diriwayatkan dari Rasulallah saw. beliau bersabda:
رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ
"Sungguh hina, dan sungguh hina, lalu sungguh hina orang yang mendapatkan kedua orang tuanya ketika sudah tua, salah satu atau keduanya, lalu orang itu tidak dapat masuk surga." (HR. Muslim)
Abdullah bin Amar bin Al-Ash ra. berkata: "Seorang laki-laki menghadap kepada Rasulallah saw. lalu berkata: "Aku berbaiat kepadamu untuk hijrah dan berjihad mencari pahala dari Allah swt. dia berkata: "apakah kamu masih mempunyai orang tua yang masih hidup? Dia menjawab: iya, keduanya masih hidup. Beliau berkata, apakah kamu mencari pahala dari Allah swt.? dia menjawab, iya, lalu beliau bersabda: "kembalilah kepada kedua orang tuamu lalu perbaikilah pergaulanmu dengannya." (HR. Bukhari Muslim) Redaksi ini adalah redaksi Muslim.
Dalam sebuah riwayat Bukhari Muslim disebutkan bahwa seorang laki-laki datang dan meminta izin untuk jihad, beliau bertanya, apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dia menjawab, iya, beliau berkata, kepada kedua orang tuamu itulah kamu harus berjihad."
XVII. Membaca Alquran dan Menerapkannya
Saudariku, hiduplah bersama setiap ayat dari ayat-ayat Alquran agar kamu dapat masuk surga dunia lalu kemudian membwamu kepada surga akhirat.
Allah swt. berfirman: ”Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. Al-Israa`: 82)
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Faathir: 29)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Umamah ra. dia berkata saya mendengar Rasulallah saw. bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah Alquran, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat mensyafa`ati kepada para yang membacanya." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari An-Nuwwas bin Sam`an ra. dia berkata saya mendengar Rasulallah saw. bersabda:
يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ فى الدنيا تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا
"Sesungguhnya Alquran dan ahlinya didatangkan pada hari kiamat, mereka adalah orang-orang yang mengamalkannya di dunia, Alquran datang dipimpin oleh surat Albaqarah dan Ali Imraan yang membela para pembacanya." (HR. Muslim)
Dari sahabat Utsman bin Affan ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari sahabat Aisyah ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
الذى يقرأ الْقُرْآنِ وهومَاهِرُ به مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
"Orang yang membaca Alquran sementara dia adalah mahir bersama para Malaikat yang tinggi dan muliah serta yang baik, sedangkan orang yang membaca Alquran sementara dia kesulitan dan merasa keberatan mendapatkan dua pahala." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. dia berkata:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
"Tidak ada iri hati kecuali pada dua orang, laki-laki yang diberi Allah Alquran lalu dia shalat dengan membacanya di tengah malam dan tengah siang, dan laki-laki yang diberi Allah Swt. harta kemudian menginfakkannya di waktu malam dan siang." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
"Barang siapa yang membaca satu huruf sari Kitab Allah (Alquran) maka dia mendapatkan satu kebaikan, setiap kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh, aku tidak m engatakan ألم (Aliif Laam Miim) satu huruf akan tetapi alif adalah satu huruf laam satu dan miim satu huruf." (HR.At- Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amar bin Al-`Ash ra. dari Nabi saw. beliau bersabda:
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا
"Dikatakan kepada orang yang membaca Alquran, bacalah dan naiklah serta bacalah dengan tartil seperti kamu membacanya dengan tartil di dunia, sesungguhnya derajatmu berada di akhir ayat yang kamu baca."(HR. At-Tirmidzi)
XVIII. Amar Ma`ruf Nahi Mungkar
Allah swt. berfirman: " Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung." (QS.Ali-Imraan: 104)
Allah swt. juga berfirman: " Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.Ali-Imraan: 110)
XIX. Sayang Terhadap Hewan
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ
"Seorang wanita tuna susila diampuni dosanya karena ketika bertemu anjing –di tepi sumur- menjulurkan lidahnya karena hampir saja mati sebab kehausan, lalu dia melepas sepatunya yang mengikatnya dengan kerudungnya, kemudian dia manimba air untuk anjing itu, lalu Allah Swt. mengampuninya sebab hal itu." (HR.Bukahri)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulallah saw. bersabda:
بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فوجدَ بِئْرًا فنزل فيها فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ الرجل لَقَدْ بَلَغَ هَذَاالكَلْب مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فنزالبِئرْ فَمَلَأَ خُفَّهُ ماء ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ
"Tatkala seorang laki-laki berjalan di sebuah jalan, dia merasa haus lalu mendapatkan sebuah sumur air, lantas dia turun dan minum, kemudian dia keluar dan ternyata ada anjing yang menjilatkan lidahnya sambil makan tanah karena kehausan, lalu dia berkata, anjing ini merasakan haus seperti yang telah aku rasakan tadi, lalu dia turun ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air dan menutup kedua sisinya hingga penuh lalu memberi minum anjing itu, kemudian dia bersyukur kepada Allah dan Dia mengampuninya serta memasukkannya ke dalam surga." (HR. Bukhari)
Saudariku, demikianlah Rasulallah saw. menganjurkan kita untuk memenuhi hati kita dengan kasih sayang kepada semua yang ada di sekeliling kita, bahkan hewan sekalipun, lantas bagaimana dengan manusia.
XX. Dzikir Setelah Shalat
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
"Barang siapa yang bertasbih kepada Allah setiap selesai shalat tiga puluh tiga kali, bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali dan membaca takbir tiga puluh tiga kali, semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, dan melengkapinya dengan membaca "Laailaha illaahu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa alaa kulli syaing qadiir" tidak ada Tuhan selain Allah tiada yang menyekutuiNya, segala kerajaan dan puji hanya milikNya, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka kesalahan-kesahannya akan diampuni meskipun seperti bui lautan." (HR. Muslim)
XXI. Taat Kepada Rasulallah Saw.
Allah swt. berfirman: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzaab: 21)
Ayat ini ditujukan kepada kaum laki-laki maupun wanita...oleh karena itu marilah kita semua mengikuti jalan Rasulallah saw. dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya.
Allah swt. juga berfirman: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS.Al-Hasyr: 7)
Allah swt juga berfirman: "Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling niscaya akan diazabnya dengan azab yang pedih." (QS. Al-Fath: 17)
Dan Allah swt. berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisaa`: 65)
Firman Allah swt.: "Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisaa`: 69)
Allah swt. berfirman: "Katakanlah:"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali-Imraan: 31)
Rasulallah saw. bersabda: "Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang tidak mau. Ditanyakan, siapakah orang yang tidak mau itu wahai Rasulallah saw. beliau menjawab, barang siapa yang taat kepadaku maka ia akan masuk surga dan barang siapa yang mendurhakaiku maka berarti ia tidak mau."
XXII. Sabar
Allah swt. berrfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155-157)
Rasulallah saw. bersabda:
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ
"Allah swt. berkata: "Tidak ada balasan untuk hambaku yang beriman ketika Aku mengambil orang pilihannya di dunia kemudian (bersabar) mencari pahala Allah kecuali balasan surga." (Hadits Qudis. HR. Bukhari dan Ahmad)
XXIII. Jujur
Allah swt. berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah: 119)
Rasulallah saw. bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
"Berusahalah untuk selalu jujur, karena jujur menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan pada surga, tidak ada seorang laki-laki pun yang selalu jujur dan berusaha jujur kecuali ia akan dicatat di sisi Allah Swt. sebagai orang yang sangat jujur. Takutlah kamu dari bohong karena bohong dapat membawa kepada dosa dan dosa membawa kerpada neraka, tidak ada seoralng laki-laki pun yang selalu berbohong dan berusaha bohong kecuali akan ditulis di sisi Allah Swt. sebagai pembohong." (HR. Muslim dan Ahmad)
Rasulallah saw. bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ وَهُمَا فِي النَّارِ وَسَلُوا اللَّهَ الْمُعَافَاةَ فَإِنَّهُ لَمْ يُؤْتَ رَجُلٌ بَعْدَ الْيَقِينِ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ الْمُعَافَاةِ ولَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا كما أمركم الله
"Berusalahan untuk selalu jujur, karena ia bersama kebaikan dan keduanya berda di dalam surga. Jauhilah berdusta karena ia bersama dosa dan keduanya di dalam neraka. Mintalah kepada Allah keyakinan dan keselamatan, karena seorang hamba tidak diberikan hal yang lebih setelah keyakinan sebaik keselamatan. Janganlah kalian saling dengki, saling marah, saling memutus hubungan, saling berpaling, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara seperti yang diperintahkan Allah." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
XXIV. Menjaga Shalat Lima Waktu
Rasulallah saw. bersabda:
أتانى جبريل من عندالله تبارك وتعالى فقال يامحمد ان الله عز وجل يقول انى قد فرضت على أمتك خمس صلوات فمن وافى بهن على وضوئهن ومواتهن وركوعهن وسجودهن كان له عندى عهد أن أدخله بهن الجنة ومن لقينى قد انتقص من ذلك شيءا فليس عندى عهد ان شئت عذبت وان شئت رحمت
"Malaikat Jibril dari sisi Allah Swt. datang kepadaku lalu berkata, Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Swt. berfirman, sesungguhnya Aku telah mewajibkan kepada umatmu lima shalat, barang siapa yang melaksanakannya dengan baik, dengan wudlu, dalam waktu-waktunya, dengan rukuknya dan sujudnya maka Aku mempunyai janji kepadanya untuk memasukkannya ke dalam surga. Barang siapa yang bertemu denganKu dan shalat itu ada yang kurang maka tidak ada janji untuknya, apabila Aku ingin maka Aku akan menyiksanya dan apabila Aku ingin maka aku akan merahmatinya." (HR. Thayalisi dan Thabrani)
XXV. Menjenguk Orang Sakit
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِي اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنْ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا
"Barang siapa yang menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena mencari pahala Allah maka dia akan ada yang memanggil, suىgguh baik kamu, perjalananmu sungguh baik dan kamu akan menempat pada sebuah tempat di dalam surga." (HR. At-Tirmidzi)
Rasulallah saw. bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ
"Tidak ada seorang Muslim yang mengunjungi Muslim lain pada pagi hari kecuali tujuh ribu Malaikat akan mendoakannya hingga menjelang sore dan apabila dia menjenguknya pada waktu sore maka tujuh puluh ribu Malaikat akan mendoakannya hingga pagi, dan dia akan mendapat taman di surga." (HR. At-Tirmidzi)
XXVI. Mendahulukan Orang Lain (iitsaar)
Allah swt. berfirman: "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)
Ketahuilah wahai saudariku yang mulia, sesungguhnya seorang mukmin harus cinta kepada saudaranya seperti ia mencintai pada dirinya. Akan tetapi di sana masih ada sekelompok manusia yang lebih mulia yang mana keimanannya telah sampai pada derajat yang luhur dan tinggi hingga dia mendahulukan saudaranya dari pada dirinya sendiri..dan inilah yang terjadi di antara kelomok Muhajirin dan kelompok Anshar ra. Maka berusahalah untuk meneladani sifat yang mulia itu (iitsaar) agar kamu menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Allah swt. telah berfirman: "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)
XXVII. Doa
Allah swt. berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina" (QS. Al-Mukmin: 60)
Allah swt. juga berfirman: ”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Albaqarah: 186)
Allah swt. berfirman: "Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)." (QS. An-Naml: 62)
Rasulallah saw. bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
"Doa adalah ibadah" (HR. At-Tirmidzi)
Rasulallah saw. berfirman:
مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِم ما لم يُعَجَّل يقول قد دعوت ودعوت فلم يستجب لى
"Tidak ada seorang Muslim di bumi ini yang berdoa kepada Allah dengan benar kecuali Allah akan datang kepadanya atau akan memalingkan darinya keburukan yang sepadan selama tidak berdoa dengan dosa atau memutus sanak dan selama tidak tergesa-gesa dan berkata, aku sudah berdoa dan aku sudah berdoa tapi kenapa tidak dikabulkan." (HR.At-Tirmidzi)
Rasulallah saw. bersabda:
مَا مِنْ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا الْعَبْدُ أَفْضَلَ مِنْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Tidak ada doa yang lebih utama yang diucapkan seorang hamba melebihi doa "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu keselamtan di dunia dan akhirat." (HR. Ibnu Majah)
Rasulallah saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
"Sesungguhnya Allah swt. adalah Dzat yang Maha Hidup dan Pemberi, malu apabila seorang laki-laki mengangkat kedua tangannya lalu mengembalikannya dengan kosong tidak mendapat apa-apa." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Rasulallah saw. bersabda:
الدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل فعليكم عباد الله بالدعاء
"Doa bermanfaat pada apa yang sudah terjadi dan yang akan terjadi, maka berdoalah selalu wahai hamba-hamba Allah." (HR. Hakim)
XXVIII. Menyemarakkan Sapaan dengan Salam dan Memberi Makanan
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amar bin Al-Ash ra. seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah saw. bagian Islam yang mana yang lebih baik? Beliau menjawab, memberikan makanan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal." (HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
"Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman kepada Allah dan kamu tidak akan beriman (yang sempurna) hingga kamu saling mencintai, apakah kamu ingin aku tunjukkan pada sesuatu yang apabila kalian lakukan maka akan saliang mencintai? Semarakkan salam di antara kalian." (HR. Muslim)
XXIX. Belajar dan Mengajarkan Alquran
Wahai saudariku sesungguhnya termasuk amal utama yang dapat kita gunakan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. adalah mengajarkan Alquran kitab Allah kepada orang-orang Muslim.
Rasulallah saw. bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari Muslim)
Rasulallah saw. bersabda:
ان الله وملائكته حتى النملة فى جحرها وتى الحوت فى البحر ليصلون على معلم الناس الخير
"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bahkan semut di dalam lubangnya, hingga ikan di lautan akan mendoakan kepada orang yang mengajarkan kepada manusia tentang kebaikan." (HR. At-Thabrani)
Maka belajarlah Alquran dan Hadits-hadits Rasulalah saw. wahai saudariku, berusahalah untuk mengajar anak-anakmu, tetanggamu, dan saudara-saudarmu kebaikan secara keseluruhan dari dua sumbernya yang murni (Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw.).
XXX. Bersalawat kepada Nabi saw.
Diriwayatkan dari Abu Thalhah bahwa Rasulallah saw. bersabda: "Malaikat Jibril datang kepadaku lalu berkata, wahai Muhammad, apakah kamu tidak senang apabila Tuhanmu swt. berkata, sesungguhnya tidak ada seorangpun dari umatmu yang bersalawat kepadamu sekali saja kecuali Allah akan memberikan sepuluh kebaikan. Dan tidak seorangpun dari umatmu yang mendoakan salam kepadamu sekali saja kecuali Aku akan memberikan keselamatan kepadanya sepuluh kali? Lalu aku berkata, sudah tentu wahai Tuhanku." (Hadits Qudsi)
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka`b ra. dia berkata, aku berkata, Wahai Rasulallah, aku ingin memperbanyak membaca shalawat kepadamu, berapa aku boleh menjadikan untukmu dari shalatku? Beliau menjawab, terserah kamu, aku berkata, seperempat? Beliau menjawab., terserah kamu apabila kamu menambahnya tentu lebih baik bagimu, aku bertanya, setengah? Beliau menjawab, terserah kamu, apabila kamu menambahnya tentu lebih baik bagimu, aku bertanya dua pertiga? Beliau menjawab, terserah kamu, apabila kamu menambahnya tentu lebih baik bagimu, aku berkata, aku akan menjadikan seluruh shalatku seluruhnya untukmu? Beliau berkata, kalau begitu niatmu itu sudah cukup dan dosamu akan diampuni." (HR. At-Tirmidzi)
XXXI. Saling Membantu dalam Hal Kebaikan dan Takwa
Saudariku, berusahalah untuk saling membantu bersama saudari-saudarimu Muslimah dalam melakukan amal perbuatan baik dan ketakwaan.
Allah swt. berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS. Al-Maaidah: 2)
Allah swt. juga berfirman: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian." (QS. Al-Ashr: 1-3)
XXXII. Dakwah
Saudariku, sesungguhnya ketika seorang mukmin dibutuhkan manusia dalam masalah dunia maka dia tidak boleh segan-segan memberikan bantuannya kepada mereka, sebaliknya dia seharusnya memanfaatkan kesempatan itu untuk berdakwah mengajaknya ke jalan Allah.
Seandainya orang mukmin tadi adalah seorang dokter dan ada orang sakit yang miskin maka hendaklah dia menolongnya tanpa harus meminta imbalan dan apabila dia mampu memberikan perawatan maka hendaklah merawatnya juga, lalu hendaklah dia mengingatkannya kepada Allah, menceritakan kepadanya tentang surga dan neraka, menasehatinya dengan cara yang tidak langsung, apabila dia belum melakukan shalat maka disuruh melakukan shalat... setiap Muslim harus melakukan hal seperti itu dalam semua bidang kerjanya ketika dibutuhkan orang lain.
Dan Allah swt. telah menceritakan semua itu dalam kisah Nabi Yusuf as. ketika dua orang di dalam penjara membutuhkannya, Yusuf menerangkan kepadanya tentang tauhid dan berdakwah mengajaknya ke jalan Allah swt.
Allah swt. berfirman: "Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya:"Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata:"Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung". Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi). Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangakan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak, Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(Nya). Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, Tuhan-Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Hai kedua temanku dalam penjara:"Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskanperkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)." (QS. Yuusuf: 36-41)
Rasulallah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib, apabila Allah menunjukkan seorang laki-laki karena kamu maka itu sungguh lebih baik dibanding unta yang merah bulunya."
XXXIII.Baik Sangka Kepada Allah Swt.
Rasulallah saw. bersabda:
لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
"Janganlah seorang hamba meninggal dunia kecuali berprasangka baik kepada Allah swt." (HR. Muslim)
Saudariku, seorang Muslim yang sedang berada di jalannya menuju Allah bagaikan burung...kepala burung itu adalah cinta kepada Allah, kedua sayapnya adalah rasa takut dan penuh harapan, apabila kita memutus kepalanya maka dia akan mati, begitu juga apabila seorang Muslim tidak mencintai Tuhannya, maka dia akan meninggal akan tetapi dia memakai pakaian malu.
Adapun rasa takut dan malu.. maka seorang mukmin harus menguatkan rasa takutnya melebihi rasa harapannya selama dia hidup agar menjauh dari maksiat kepada Allah, apabila dia akan meninggal maka dia harus menguatkan rasa harapannya agar dia meninggal dalam keadaan baik sangka kepada Allah Swt. yang berkata dalam Hadits Qudsi "Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, apabila dia baik sangka maka itulah bagiannya dan apabila buruk sangka maka itulah bagiannya." (HR. Ahmad)
Faktor-faktor Wanita Muslimah Selamat Dari Neraka
I. Tidak Menyekutukan Allah dan Ikhlas
Allah swt. berfirman
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al bayyinah: 5)
Rasulallah Saw. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya semua amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang telah diniatkan, maka barang siapa hijrahnya untuk Allah Swt. dan RasulNya maka hijrahnya tersebut juga menjadi hijrah karena Allah dan RasulNya, dan barang siapa hijrahnya untuk dunia semata atau perempuan untuk dinikahi maka hijrahnya akan menjadi apa yang menjadi niat hijrahnya.". ( HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah, Aisyah ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda: "Akan datang bala tentara memerangi Ka`bah, ketika mereka berada di tanah Baidaa` maka akan ditelan bumi dari awwal hingga akhirnya. Dia berkata, lalu aku bertanya, bagaimana mungkin ditenggelamkan dalam bumi awwal hingga akhir mereka, sementara masih ada pedagang di pasar-pasar dan selain mereka? Beliau menjawab, mereka akan ditenggelamkan dalam bumi mulai awwal hingga akhir kemudian dibangkitnya sesuai dengan niatnya." (HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari Utban bin Malik ra. dalam sebuah Hadits yang panjang dan terkenal –seperti yang telah disebutkan dalam bab rajaa` (berharap)- dia berkata, Rasulallah saw. berdiri untuk shalat sambil berkata, dimana Malik bin Ad-dakhsyam, seorang laki-laki menjawab, dia itu orang munafik yang tidak cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi Nabi saw. meyangkal, jangan berkata begitu, apakah kamu tidak melihat bahwa dia telah mengucapkan "laailaaha illaah" dengan mengharap ridla Allah, dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka kepada orang yang mengucapkan "laailaaha illaah" dengan tujuan ridla Allah swt." (HR. Bukhari Muslim)
II. Amar Ma`ruf Nahi Mungkar
Allah swt. berfirman:
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali-Imraan: 104)
Allah swt. juga berfirman: "Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali-Imraan: 110)
III. Cinta Karena Allah
Rasulallah saw. bersabda:
قال الله تعالى حقت محبتى على المحابين أظله فى ظل العرش يوم لا ظل الا ظلى
"Allah swt. berkata, cintaku telah aku pastikan untuk orang-orang yang saling mencintai, aku akan mengayominya di bawah teduhnya Arasy pada hari kiamat hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku." (Hadits Qudsi)
Saudariku, jadikanlah cintamu kepada saudari-saudarimu ikhlas karena Allah agar kamu mendapatkan cinta Allah swt. yang Maha Kasih serta nikmat surga dan naungan Arasy pada hari kiamat.
Saudariku, sesungguhnya orang mukmin seharusnya selalu berusaha keras untuk dapat bersama-sama orang mukmin yang jujur. Dan mulai sekarang harus berjanji kepada dirinya sendiri untuk membantu satu sama lainnya pada zaman sekarang yang penuh cobaan ini, dengan demikian makna persaudaran di dunia dan akhirat akan sempurna.
Rasulallah saw. bersabda:
حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي للمتناصين فىوَحَقَّتْ مَحَبَّتِي للمتناصحين فى وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي فِيَّ لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ وَالْمُتَحَابُّونَ فِي عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ بِمكانهم النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ
“Allah swt. berkata: "Telah wajib bagiku untuk mencintai orang-orang yang saling mencintai karena Aku, telah wajib bagiku untuk m encintai orang-orang yang saling berpesan baik karena Aku, telah wajib cintaku kepada orang-orang yang saling menasihati karena Aku, telah wajib cintaku untuk orang-orang yang saling berkunjung karena Aku, telah wajib cintaku kepada orang-orang yang saling memberi karena Aku, dan orang-orang yang saling mencintai karena Aku berada di atas mimbar-mimbar yang tidak dapat dimliki kecuali oleh para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada`." (Hadits Qudsi)
Rasulallah saw. bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
"Tujuh kelompok orang akan mendapatkan naungan Allah di bawah naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunga-Nya. Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah kepada Allah swt., laki-laki yang hatinya tergantung pada masjid, dua laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena-Nya, laki-laki yang diajak wanita terhormat dan cantik lalu berkata, aku takut pada Allah swt., laki-laki yang bersedekah dengan sedekah yang disamarkan hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang sudah diinfakkan oleh tangan kanannya." (HR. Bukhari Muslim)
IV. Wara` dan Jauh dari Perkara-perkara Syubhat
Allah swt. berfirman: "Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar." (QS. An-Nuur: 15)
Diriwayatkan dari sahabat Nu`man bin Basyir ra. dia berkata aku mendengar Rasulallah saw. berkata:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Sesungguhnya halal sudah jelas dan sesungguhnya haram juga jelas, di antar keduanya ada perkara-perkara syubhat yang tidak dikethui banyak dari manusia, barang siapa yang berhati-hati dari syubhat maka dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya, dan barang siapa yang jatuh dalam syubhat maka ia telah jatuh dalam keharaman seperti pengembala yang mengembala di sekitar tanah yang dilarang dia hampir saja masuk pada tanah yang dilarang itu, dan ingatlah bahwa setiap raja mempunyai tanha larangan dan sesungguhnya tanha larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkannya, dan ingatlah bawha di dalam jasad terdapat darah membeku yang mana apabila baik m aka baik pula seluruh jasad itu namun apabila rusak maka rusak pula seluruh jasad itu, ingat-ingatlah darah itu adalah hati." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari sahabat Anas ra. bahwa Nabi saw. menemukan satu buah korma di jalan lalu beliau berkata, seandainya aku tidak khawatir korma itu dari sedekah maka tentu aku akan memakannya." (HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatakn juga dari An-Nuwwas bin Sam`aan ra. dari Nabi saw. beliau bersabda:
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
"Kebaikan adalah akhlak yang baik, doa adalah sesuatu yang meragukan di dalam hatimu dan kamu tidak suka apabila manusia mengetahuinya."(HR. Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Hasan bin Ali ra. dia berkata, aku hapal dari Rasulallah saw.:
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ
"Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu." (HR. At-Tirmidzi)
Maksudnya tinggalkan apa yang kamu ragu-ragukan dan ambillah apa yang tidak kamu ragukan.
Diriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkat, Abu Bakar ra. mempunyai seorang budak kecil yang membayar pajak kepadanya, dan Abu Bakar biasa memakan uang pajak halal tersebut. Pada suatu hari budak itu datang membawa sesuatu lalu beliau memakan sebagian lalu budak itu berkata, apakah engkau mengetahui apa itu tadi? Lalu Abu Bakar balik bertanya, memang apa tadi? Dia menjawab, aku telah menjadi juru ramal untuk seseorang pada zaman jahiliyah, padahal sebenarnya aku tidak bisa meramal, aku hanya menipunya, lalu tadi dia bertemu denganku dan memberiku sesuatu yang telah engkau makan tadi sebab ramalanku dulu. Kemudian Abu Bakar memasukkan tangnnya ke mulutnya dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya." (HR. Bukhari)
V. Takwa Kepada Allah swt.
Allah swt. berfirman: "Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwadan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 71-72)
Allah swt. juga befirman: "Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tidak akan disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita." (QS. Az-Zumar: 61)
Allah swt. berfirman: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” (QS. Ath-Thalaaq: 2)
Firman Allah swt.: " Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS.Ath-Thalaaq: 4)
Dan firman Allah swt dalam Alquran: "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya." (QS. Ath-Thalaaq: 5)
VI. Membaca Alquran dan Mengamalkannya
Allah swt berfitman: " Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.."(QS. Al-Israa`: 82)
Allah swt berfirman: " Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Faathir: 29)
Diriwayatkan dari Abu Umamah ra. dia berkata aku mendengar Rasulallah saw. bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah Alquran sesungguhnya ia akan datang pada sebagai syafaat pada orang-orang yang membacanya pada hari kiamat." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari An-Nuwwas bin Sam`aan ra. dia berkata, aku mendengar Rasulallah saw. bersbada:
يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ فى الدنيا تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا
"Pada hari kiamat akan didatangkan Alquran dan ahlinya yaitu orang yang mengamalkannya di dunia, surat Al-Baqarah dan Ali Imraan akan memimpin di depan membela orang yang memilikinya."(HR Muslim)
VII. Memenuhi Kebutahan Sesama Muslim
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Soerang Muslin adalah saudara Muslim lain, tidak boleh mendzaliminya dan tidak menghinanya, dan barang siapa yang sedang berada membantu kebutuhan saudaranya maka Allah Swt. akan membantunya dalam kebutuhannya, dan barang siap ayang akan melapangkan kesempitan seorang Muslim maka Allah akan melapangkan kesempitan dari kesempitan-kesempitannya di hari akhir, barang siapa menutupi kejelekan orang Muslim maka Allah akan menutupi kejelekannya pada hari kiamat."(HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. dari Rasulallah saw. beliau bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
"Barang siapa yang meringankan kesempitan dari kesempitan-kepsempitan orang Muslim di dunia maka Allah Swt. akan meringankan kesempitan dari kesempitan-kesempitannya pada hari kiamat,, barang siapa yang memudahkan seorang Muslim yang kesusahan maka Allah akan memudahkannya di dunai dan akhirat, barang siapa yang menutupi saudara Muslimnya maka Allah akan menutupinya di dunai dan akhirat, dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya,, dan barang siapa melalui jalan mencari ilmu maka Allah akan meudahkan kepadanya karena itu jalan menuju surga, dan satu kaum tidak berkumpul di dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah sambil membaca Alquran, mempelajarinya di antara mereka keuali Allah akan menurunkan ketenangan dan akan diliputi rahmat, dikepung Malaikat dan akan disebut-sebut Allah di antara makhluk yang di sisinya, dan barang siapa yang amal perbuatannya lambat maka nasabnya tidak dapat membuatnya cepat." (HR. Muslim)
VIII. Tidak berelebihan dalam ketaatan
Allah swt. berfirman: "Thaahaa. Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah." (QS. Thaahaa: 1-2)
Allah swt. bwefirman: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185)
Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Nabi saw. pernah datang kepadanya dan di rumahnya ada seorang wanita lain. Beliau bertanya, siapakah dia? Aisyah menjawab, dia adalah fulanah, dan Aisyah menceritakan shalatnya. Beliau bersabda, sudah-sudah, kamu lakukan saja apa yang mampu kamu lakukan. Demi Allah, Allah tidak bosan dengan kalian sehingga kalian bosan. Dan perbuatan baik yang dicintai Allah Allah adalah yang dilakukan secara terus menerus." (HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersada:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ
"Sesungguhnya agama adalah mudah, dan seorang tidak berlebihan kecuali agama itu sendiri akan mengalahkannya, benarkanlah, mendekatlah, berbahagialah, mintalah pertolongan dengan keluar pada waktu pagi dan sore dan sebagian dari waktu malam." (HR. Bukhari)
Dari sahabat Anas ra. diriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah masuk masjid dan menemukan tali terikat di antara dua tiang. Lalu beliau bertanya, tali apakah ini? Ini adalah tali Zainab, apabila dia malas beribadah maka dia berpegangan dengannya, lalu Nabi saw. bersabda: "lepaskan tali itu, shalatlah salah satu kalian selama dia merasa giat dan apabila lelah maka tidurlah." (HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَا يَدْرِي لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ
"Apabila salah satu dari kalian merasakan kantuk pada waktu shalat maka tidurlah hingga tidur itu menghilangkannya, karena apabila dia shalat dan mengantuk maka bisa saja dia beristigfar tapi malah berkata jelek pada dirinya." (HR. Bukhari Muslim)
IX. Mengikuti Sunnah dan mengikuti jamaah Islam
Allah swt. Berfriman: "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali-Imraan: 31)
Allah juga berfirman: "Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)." (QS. Yuunus: 32)
Allah swt. Befirman: "Tiadalah Kami lupakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab." (QS. Al_An`aam: 38)
Allah swt. juga berfirman: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An`aam: 153)
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
"Barang siapa yang mengada-ada dalam urusanku ini (agamaku) maka tertolak." (HR. Bukhari Muslim)
Dalam riwayat yang lain yang disebutkan oleh imam Muslim:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak termasuk perkaraku (agamaku) maka itu tertolak."
X. Puasa
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang berpuasa Ramadlan karena iman dan mencari pahala Allah maka dosa yang telah lewat akan diampuni." (HR. Bukhari Mulsim)
Rasulallah saw. juga bersabda:
من ختم له بصيام يوم دخل الجنة
"Barang siapa hidupnya diakhiri dengan puasa satu hari maka dia kaan masuk surga." (HR. Bazzaar) disahihkan Imam Al-Albani
Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ زَحْزَحَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ بِذَلِكَ سَبْعِينَ خَرِيفًا
"Barang siapa yang puasa satu hari di jalan Allah maka Allah akan menyelakan wajahnya dari neraka dengan satu hari puasa itu selama tujuh puluh musim panas." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi) Maksudnya selama tujuh puluh tahun.
Dalam riwayat yang lain Nabi saw. bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جهنم مَسِيرَةَ مائة عام
"Barang siapa yang puasa sehari di jalan Allah maka Allah akan menjauhkannya dari Jahnnam sejauh perjalanan satu tahun." (HR. An-Nasaai)
Rasulallah saw. bersabda:
يَقُولُ مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سنتين سَنَةٌ أَمَامَهُ وَسَنَةٌ بَعْدَهُ
"Barang siapa yang puasa pada hari Arafah maka Allah akan mengampuninya selama dua tahun, satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya." (Ibnu Majah)
Dan Rasulallah juga bersabda:
وصيام عاشوراء انى أحتسن على الله ان يكفر السنة التى قبلها
"..dan puasa Asyura`, aku berharap kepada Allah untuk melebur (dosa) selama setahun sebelumnya." (HR At-Tirmidzi)
Rasulallah saw. bersabda:
تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
"Amal perbuatan akan dilaporkan pada hari senin dan kamis, aku senang apabila amal perbuatanku dilaporkan sementara aku dalam keadaan puasa." (HR. ِAt-Tirmidzi)
Rasulallah saw. bersabda:
صيام شهر رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بعده بشهرين فذلك صيام السنة
"Puasa bulan Ramadlan sama dengan puasa sepuluh bulan dan puasa eman hari setelahnya sebanding dengan dua bulan dan itulah pausa selama setahun." (HR Ahmad dan An-Nasaai)
Beliau bersabda:
صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
"Puasa tiga hari setiap tahun adalah pauasa selama setahun, tiga hari itu adalah hari padang bulan, paginya tanggal tiga belas, empat belasa dan lima belas." (HR. An-Nasaai dan Al-Baihaqi)
XI. Qiyamul Lail
Allah swt. berfirman: "Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Israa: 79)
Allah swt. berfirman: "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam." (QS. Adz-Dzariyaat: 17)
Diriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata bahwa Nabi saw. pernah qiyamul lail sampai kedua telapak kakinya bengkak, lalu aku berkata kepada beliau, kenapa engkau melakukan ini wahai Rasulallah sementara Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan yang akan datang? Belaiu berkata, apakah aku tidak boleh manjdi hamba yang bersyukur." (HR. Bukahri Muslim)
Diriwayatkan dari Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab ra. dari ayahnya bahwa Rasulallah saw. bersabda: "Sungguh baik Abdullah (bin Umar) ini seandainya dia shalat malam." (HR. Bukhari Muslim)
XII. Haji
Allah swt. berfirman: "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."(QS. Ali-Imraan: 97)
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar bahwa Rasulallah saw. bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
"Islam dibangun di atas lima dasar: Syahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulallah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, haji ke baitullah dan puasa Ramadlan." (HR. Bukhari Muslim)
Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Barang siapa yang haji dan tidak berkata kotor, tidak fasik maka dia akan kembali bagaikan hari dilahirkan ibunya." (HR. Bukhari Muslim)
XIII. Kontinu dalam ketaatan
Allah swt. berfirman: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 99)
Rasulallah saw. bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amalan kebaikan yang paling dicintai Allah adalah yang paling langgeng meskipun sedikit." (HR. Bukhari Muslim)
Bagi saudarariku Muslimah agar memilih amal shalih yang mampu dilakukan secara kontinu dan melanggengkan amal shalih itu agar mendapatan cinta Allah. Dialah yang berkata dalam Hadits Qudsi "Dan hamba-Ku tidak berhenti mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan shalat sunnat hingga Aku mencintainya.." (HR. Bukhari)
XIV. Bergegas menjalankan kebaikan
Wahai saudariku, umur manusia sesungguhnya adalah simpanan yang hakiki bagi manusia karena hari yang telah terlewati tidak akan dapat kembali sekali lagi.
Rasulallah saw. bersabda:
أتنم خمسا قبل خمس: حياتك قبل موتك وصحتك قبل سقمك وفرغك قبل شغلك وشبابك قبل هرمك وغناك قبل فقرك
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, sempatmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum fakirmu." (HR. Hakim dan Baihaqi)
Beliau juga bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Dua kenimatan banyak manusia tertipu olehnya, sehat dan sempat." (HR. Bukhari)
XV. Menjaga rahasia rumahtangga
Seorang Muslimah yang cerdas seharusnya tidak menyebar luaskan perselisihan atau perbedaan yang terjadi dalam rumahtangga kepada seorangpun meskipun dia adalah masih kerabat sendiri. Seorang muslimah juga tidak boleh menceritakan kenikmatan yang dirasakan antara dirinya dan suaminya.
Rasulallah saw. bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
"Sesungguhnya termasuk orang yang paling buruk pada hari kiamat adalah laki-laki yang mendatangi istrinya dan dia juga mendatangi suaminya (bersetubuh) kemudian dia menyebarkan rahasianya." (HR. Muslim)
Seorang Muslimah juga seharusnya tidak memberitahukan rahasia-rahasia keluarga yang dapat menjadi penyebab datangnya marabahaya baik kepada dirinya, suaminya atau anak-anaknya.
Allah swt. berfirman: "..maka Wanita yang shalih, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).."(QS. An-Nisaa: 34)
Firman Allah swt.: "Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya." (QS.At-Tahriim: 10)
Ibnu Katsir menafsikran ayat ini dan menjelaskan bahwa istri nabi Nuh selalu berusaha meneliti rahasia-rahasia nabi Nuh, apabila ada salah seorang yang beriman kepada Nuh maka dia memberitahukannya kepada penguasa kaum Nuh. Sedangkan istri nabi Luth ketika ada seorang yang bertamu kepada suaminya dia maka selalu memberitahukan kepada penduduk kota untuk disodomi. (tafsir Ibnu Katsir).
XVI. Menahan pandangan
Sungguhnya pekerti ini adalah pekerti yang sangat terpuji yang kami rindukan untuk dilakukan saudari-saudariku Muslimah. Ini adalah kenikmatan bagi orang yang dapat melakukannya seperti yang diperintahkan Allah swt. dalam firman-Nya: "Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.."(QS. An-Nuur: 31)
Inilah budi pekerti terpuji yang dimiliki bidadari di surga yang bermata lentik. Allah swt. menerangkan: "Di dalamnya terdapat wanita yang menahan pandangannya yang belum pernah disetubuhi oleh jin ataupun manusia." (Ar-Rahmaan: 56) mereka menjaga pandangannya untuk tidak melihat laki-laki kecuali suaminya...siapakah Muslimah yang ingin seperti bidadari ini?
Qiyamul lail, menhafalkan Alquran, mencari ilmu, berdakwah kepada Allah, menjalin tali silaturrahmi, dan membantu saudara-saudara lain. Merekalah wanita yang dapat menjalankan perintah Allah swt. dalam firman-Nya: " Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui." (QS. Ali-Imraan: 133-136)
XVII. Taubat dan istigfar
Allah swt. berfirman: "Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nuur: 31)
Allah juga berfirman: "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengajak mereka, sedang kamu berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengajak mereka, sedang mereka meminta ampun" (QS. Al-Anfaal: 33)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. dia berkata, saya mendengar Rasulallah saw. bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
"Demi Allah aku beristigfar kepada Allah dan bertaubat kepadaNya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
"Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya (barat) maka Allah akan menerima taubatnya." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Abdullah bin Qais ra. dari Rasulallah saw. beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
"Sesunguhnya Allah membuka tanganNya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang bersalah pada siang hari dan Dia membuka tanganNya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang bersalah pada malam hari hingga matahari muncul dari arah terbenamnya (barat)." (HR. Muslim)
Perlu dimengerti bahwa seorang hamba sering tidak mengetahui dosa-dosanya secara keseluruhan, oleh karena itu maka hendaknya dia selalu memperbanyak istigfar. Dimanakah posisi kita bila dibandingkan dengan Rasulallah saw. yang telah diampuni seluruh dosanya oleh Allah swt. baik yang telah lewata atau yang akan dilakukan? Meskipun demikian beliau berkata: "Sungguh aku beristigfar kepada Allah dalam sehari tujuh puluh kali."
Beliau juga bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَالَ وَعِزَّتِكَ يَا رَبِّ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِي أَجْسَادِهِمْ قَالَ الرَّبُّ وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي
"Sesungguhnya setan berkata, demi keagungan-Mu wahau tuhanku, tak henti-hentinya aku menyesatkan hamba-hamba-Mu selama ruhnya berada dalam jasadnya. Tuhan kemudian menjawab, demi keaguangan-Ku dan kemulian-Ku, aku juga tidak henti-hentinya mengampuni mereka selama mereka beristigfar kepada-Ku." (HR. Ahmad)
Oleh karena itu, wahai saudariku, janglah kalian berhenti meminta ampuanan (beristigfar) kepada Allah swt.
XVIII. Doa
Allah swt. berfirman: "Dan Tuhanmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mukmin: 60)
Allah swt. juga berfirman: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)
Allah swt. berfirman: "Dan orang-orang yang berkata:"Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal".Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." (QS. Al-Furqaan: 65-66)
Rasulallah saw.bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
"Doa adalah ibadah." (HR. At-Tirmidzi)
Rasulallah saw. juga bersabda:
مَا عَلَى الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُو اللَّهَ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِم ما لم يُعَجَّل يقول قد دعوت ودعوت فلم يستجب ل
"Tidak ada di atas bumi ini seorang hamba yang berdoa kepada Allah kedcuali Allah datang kepadanya dengan mengabulkannya atau menghindarkannya dari keburukan yang sepadan, selama dia tidak berdoa dosa atau memutuskan sanak kearabat dan selama tidak tergesa-gesa sambil berkata, aku sudah berdoa dan berdoa tapi belum juga dikabulkan." (HR. At-Tirmidzi)
Beliau bersabda:
مَا مِنْ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا الْعَبْدُ أَفْضَلَ مِنْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Tidak ada doa yang lebih utama yang diucapkan seorang hamba melebihi doa "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu keselamtan di dunia dan akhirat." (HR. Ibnu Majah)
Rasulallah saw. bersbda:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
"Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang hidup dan pemura, malu apabila seorang laki-laki mengangkat kedua tangannya meminta kepadaNya lalu mengembalikannya dengan tangan kosong dan sia-sia."(HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Rasulalah saw. juga bersabda:
الدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل فعليكم عباد الله بالدعاء
"Sesungguhnya doa dapat bermanfaat kepada hal yang sudah terjadi dan yang akan tejadi, wahau hamba-hamba Allah berdoalah kalian selalu." (HR. Al-Haakim)
XIX. Tidak pernah merasa aman dari siksa Allah swt.
Wahai saudariku yang mulia, ketahuilah bahwa seorang mukmin tidak sepatutunya terbujuk dengan ampunan dan rahmat Allah swt., akan tetapi sebaliknya, seorang mukmin hendaknya bermal dan berusaha untuk selalu taat kepada Allah dan dia pada waktu yang sama berprasangka yang baik kepada Allah, mengharap rahmat-Nya dan takut dari siksa-Nya.
Allah swt. berfirman: "Kabarkan kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih." (QS. Al-Hijr: 49-50)
Allah swt. juga berfirman: "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. Al-A`raaf: 99)
Allah swt. juga berfirman: "Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya. maka dia berada dala kehidupan yang memuaskan. dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya. maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah." (QS. Al-Qaari`ah: 6-9)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ
"Seandainya seorang mukmin mengetahu siksaan Allah swt. tentu tidak ada seorangpun yang menginginkan surgaNya, dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat Allah swt. maka tentu tidak ada seorangpun yang putus asa mendapatkan surgaNya." (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Abi Said Al-Khudzri ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda:
إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ
"Apabila jenazah diletakkan dan orang-orang laki-laki mulai mengangkatnya dan membawanya di atas pundak mereka, maka apabila dia adalah orang yang shalih maka dia berkata, bergegaslah kalian membawaku, bergegaslah kalian membawaku. Namun apabila tidak shalih maka dia berkata, sungguh kasihan, kemana kalian akan membawanya? Semua mendengar perkataannya kecuali manusia dan seandainya manusia mendengarnya tentu tidak sadarkan diri." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Masud ra. dia berkata bahwa Rasulallah saw. bersabda:
الْجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذَلِك
"Surga lebih dekat kepada salah satu kalian dibandingkan suara sandalnya dan neraka juga seperti itu." (HR. Bukhari)
XX. Memaafkan
Allah swt. berfirman: " (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali-Imraan: 134)
Allah swt. juga berfirman: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada.Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu ?Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nuur: 22)
Allah swt. berfirman: "Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (QS. Asy-Syuuraa: 43)
Rasulallah saw. bersabda:
مَا نَقَصَ مَالٍ عبد مِنْ صَدَقَةٌ وَلَا ظلم عبد مَظْلَمَةٍ ثم صبر عليها إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا
"Aku bersumpah atas tiga hal, harta hamba tidak berkurang karean sedekah, dan tidak seorangpun yang didzalimi kemudian bersabar kecuali Allah akan menambahnya kemuliaan." (HR. Ahmad)
Darinya juga diriwaatkan bahwa Rasulallah saw. tidak pernah memukul suatu apapun dengan tangannya, tidak wanita dan juga tidak pembantu, kecuali pada waktu perang di jalan Allah, dan beliau tidak pernah disakiti kemudian membalasnya kecuali apabila larangan Allah swt. diterjang, maka dia akan membalasnya karena Allah swt..
XXI. Meninggalkan kedzaliman
Diriwayatkan dari Rasulallah saw. dalam Hadits Qudsi bahwa Allah swt. berkata:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَه
"Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya aku mengharamkan kedzaliman kepada diriku dan aku menjadikannya sebagai hal yang diharamkan maka kalian jangan saling mendzalimi, wahai hambaKu, kalian semua adalah orang-orang yang tersesat kecuali orang yang telah aku berikan petunjuk, maka mintalah petunjuk kepadaKu niscaya kau akan memberimu petunjuk. Wahai hamba-hambaKu kalian semua adalah orang-orang yang kelaparan kecuali orang yang telah aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu niscaya aku akan memberimu makan. Wahai hamba-hambaKu, kalian semua adalah orang-orang yang telanjang kecuali orang-orang yang telah aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu niscaya aku akan memberimu pakaian. Wahai hamba-hambaKu kalian semua selalu berbuat salah malam dan siang dan aku selalu mengampunimu semua, maka mintalah ampunan kepadaKu niscaya aku akan mengampunimu. Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian tidak akan dapat membahayakanKu hingga kamu berhasil dan kalian tidak akan dapat memberikan kemanfaatan kepadaKu hingga kamu dapat memberikan kemanfaatan kepadaKu. Wahai hamba-hambaKu, seandainya manusia pertama sampai yang terakhir, seluruh manusia dan jin bertakwa seperti orang yang paling takwa di antara kalian niscaya hal itu sama sekali tidak menambahkan sesuatu dalam kerajaanKu. Wahai hamba-hambaKu seandainya orang pertama sampai yang terakhir, manusia dan jin menjadi jahat seperti laki-laki yang paling jahat di antara kalian niscata hal itu tidak mengurangi apapun dari kerajaanKu. Wahai hamba-hambaKu seandainya orang pertama sampai yang terakhir, manusia dan jin berdiri di satu lapangan lalu meminta kapadaKu dan aku memberi setipa manusia apa yang dimintanya niscaya hal itu sama sekali tidak mengurangi apa yang ada padaKu kecuali seperti benang yang dicelupkan dalam lautan. Wahai hamba-hambaKu, semua itu adalah amal perbuatanmu yang Aku hitung untukmu lalu Aku akan membalasnya dengan setimpal. Barang siapa yang mendapatkan kebaiakan maka hendaknya bersyukur kpada Allah dan barang siapa yang mendapatkan yang lain maka janganlah mencela kecuali dirinya sendiri." (HR. Muslim)
Rasulalah saw. juga bersabda:
اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ
"Berhati-hatilah dari doa orang yang didzalimi."(HR. Ahmad)
XXII. Zakat dan sedekah
Allah swt. berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo'alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketemtraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)
Allah swt. juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 277)
Firman Allah swt. dalam Alquran: “Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya. Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siap yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya. (Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 270-274)
Diriwayatkan dari sahabat Adi bin Hatim ra. dia berkata saya mendengar Rasulallah saw. sersabda:
مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ ومن لم يجدفبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Tidak ada seorangpun di antara kalian kecuali akan berbicara secara langsung dengan Tuhannya tanpa ada yang menterjemahkan, lalu dia menoleh kearah kanan tapi tidak melihat apa-apa kecuali amal yang telah dikerjakannya lalu dia menoleh ke arah kirinya namun tidak melihat apapun kecuali yang pernah dikerjakan, dia melihat ke arah depan namun tidak melihat kecuali neraka tepat di depannya, maka takutlah kalian dari neraka meskipun dengan secuil kurma dan barang siapa yang tidak memiliknya maka dengan menggunakan perkataan yang baik.” HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa ra. Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Setiap Muslim wajib memberikan sedekah. Dia bertanya, bagaimana jika tidak memiliki? Beliau menjawab, bekerja dengan kedua tangannya tentu akan mendapat manfaat lalu bersedekah. Dia bertanya lagi, bagaiman jika dia tidak mampu bekerja? Beliau menjawab, membantu orang yang perlu pertolongan. Dia bertanya, bbagaiman jika tidak mampu juga? Beliau menjawab, amar ma`ruf nahi mungkar, dia masih bertanya, bagaimana jika tidak melakukannya?beliau menjawab, menjahui dari kejahatan dan itu adalah sedekah.” (HR. Bukhari Muslim)
XXIII. Memberikan nasihat agar selamat dari neraka
Rasulallah saw. bersabda:
إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِي آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلَاثمِائَةِ مَفْصِلٍ فَمَنْ كَبَّرَ اللَّهَ وَحَمِدَ اللَّهَ وَهَلَّلَ اللَّهَ وَسَبَّحَ اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ وَعَزَلَ حَجَرًا عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ شَوْكَةً أَوْ عَظْمًا عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ وَأَمَرَ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهَى عَنْ مُنْكَرٍ عَدَدَ تِلْكَ السِّتِّينَ وَالثَّلَاثِمِائَةِ السُّلَامَى فَإِنَّهُ يَمْشِي يَوْمَئِذٍ وَقَدْ زَحْزَحَ نَفْسَهُ عَنْ النَّارِ
“Sesungguhnya manusia dari anak cucu Adam diciptakan di atas tiga ratus eman puluh sendi-sendi, barang siapa yang bertakbir kepada Allah bertahmid kepada Allah, bertahlil kepada Allah, bertasbih dan meminta ampun kepada Allah serta membuang batu dari jalan manusia atau duri atau tulang dari jalan manusia dan memerintah kepada kebaikan atau melarang perbuatan mungkar sampai tiga ratus enam puluh seperti hitungan sindi-sendi itu maka dia boleh berjalan pada hari ini dalam keadaan sudah diselamatkan dari neraka.” (HR. Muslim)
XXIV. Kerjasama melakukan kebaikan dan ketakwaan
Saudariku, selalu berusahalah kalian untuk saling bekerja sama dengan seudari-saudarimu Muslimah dalam mengerjakan amal perbuatan yang baik dan dalam menjalankan ketakwaan.
Allah swt. berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maaidah: 2)
Allah swt. juga berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)
XXV. Menyeru ke jalan Allah swt.
Saudariku, sesungguhnya seseorang yang benar-benar beriman apabila dibutuhkan saudaranya dalam urusan dunia misalnya maka ia tidak segan-segan memberikan bantuan kepadanya, selain itu dia juga menggunkan moment itu sebagai moment dakwah, mengajak ke jalan Allah swt.
Seandainya seorang mukmin tadi adalah seorang dokter dan ada yang lain yang membutuhkannya berobat karena sakit maka sebaiknya dia melakukan tugasnya tanpa pamrih dan apabila dia juga memberikan obatnya maka sekalian berikanlah obat itu. Dan pada akhirnya hendaklah dia tidak lupa untuk mengingatkannya agar mengikuti jalan Allah swt., menceritakan kepadanya tentang surga dan neraka, selain itu apabila dia mengetahuinya belum rutin mengerjakan shalat lima waktu maka hendaklah menasehatinya secara tidak terang-terangan... Demikianlah seharusnya setiap Muslim melakukan semua pekerjaan sesuai bidangnya dan ketika ada orang lain yang membutuhkannya.
Hal seperti di atas sudah gambalang diungkap Allah swt. dalam kisah nabi Yusuf as. ketika jasanya dibutuhkan oleh beberpa pemuda yang ditahan bersamanya. Yusuf tidak sungkan-sungkan menerangkan ajaran tauhid dan mengajak keduanya kepada Allah swt..
Allah swt. berfirman: “Dan bersamadengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya:"Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata:"Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung". Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi). Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangakan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku mengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak, Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri(Nya). Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, Tuhan-Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Hai kedua temanku dalam penjara:"Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskanperkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku).” (QS. Yuusuf: 36-41)
XXVI. Berhati-hati agar tidak terlena
Allah swt. berfirman: “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam: 39)
Allah swt. berfirman: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A`raaf: 179)
Allah swt. juga berfirman: “Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya.Itulah yang kamu selalu lari dari padanya. Dan ditiuplah sangkakala.Itulah hari terlaksananya ancaman.”(QS. Qaaf: 19-22)
Wahai saudariku, sesungguhnya seorang Muslim sejenakpun tidak pantas lalai untuk selalu melakukan ketaatan kepada Allah swt. dan dzikir kepadanya.. seorang Muslim apabila bersama dengan orang yang sedang berdzikir maka dia tidak akan dihitung sebagai orang yang yang lalai, sebaliknya apabila dia termasuk orang yang lalai maka dia tidak akan dihitung dalam kelompok orang yang berdzikir kepada Allah swt.. Maka berusahalah untuk melakukan hal itu.
XXVII. Prasangka baik kepada Allah swt.
Rasulallah saw. pernah bersabda:
لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Janganlah salah satu kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah swt.”(HR. Muslim)
Wahai saudariku, seseungguhnya seorang Mukmin yang sedang berjalan di jalan Allah swt. adalah bagaikan burung... kepala burung itu diibarakan cintanya kepada Allah, kedua sayapnya adalah takut dan mengharap kepada-Nya. Apabila kita memutus kepala burung itu maka tentu dia akan mati begitu juga apabila seorang Muslim tidak mencintai Tuhannya maka dia akan mati hanya saja dia memakai raga orang yang masih hidup.
Sedangkan takut dan berharap kepada Allah adalah kedua akhlak yang mana seorang Mukmin seharusnya memenangkan rasa takutnya dari pada harapannya, agar dia mampu menjauhi maksiat. Namun apabila dia sudah terbaring menjelang ajal menjemputnya, maka dia harus memenangkan rasa harapannya dari pada takutnya agar dia meninggal dunia dalam keadaan baik sangka terhadap Tuhannya. Dialah Tuhan yang telah berkata dalam sebuah Hadits Qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ان ظن خيرا فله وان ظن شرا فله
“Aku sesuai dengan prasangka hambaKu kepadaKu, apabila dia menyangka baik maka itu baginya dan apabila menyangka buruk maka itu baginya pula.” (HR. Ahmad)
XXVIII. Mendapatkan syafaat Nabi saw.
Sungguh kita semua membutuhkan syafaat Rasulallah saw. yang kita cintai pada hari kiamat agar kita dapat selamat dari marabahaya hari tersebut dan bahkan selamat dari siksa neraka.
Dan termasuk dari sebab-sebab yang paling dominan untuk mendapatkan syafaat Rasulallah saw. yang kita cintai adalah mati dalam keadaan Islam. Rasulallah saw. bersabda:
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا
“Setiap nabi mempunyai doa yang mustajab, setiap nabi bergegas mengunakan doanya dan aku akan telahmenyimpan doaku itu sebagai syafaat kepada umatku pada hari kiamat. Ia adalah sebuah pemberian untuk orang dari umatku yang mati dalam keadan tidak menyekutukan Allah dengan apapun.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)
Selian itu di
إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar orang yang adzan maka ucapkanlah seperti apa yang dikumandangkan, lalu bershalawatlah kalian kepadaku, karena sesungguhnya orang yang bershalawat (mendoakan) kepadaku sekali saja akan mendapatkan shalawat (pahala) dari Allah sepuluh kali. Lalu kalian mintalah kepada Allah untukku wasilah (lantaran) karena wasilah itu adalah sebuah derajat di surga yang tidak dimilki kecuali oleh seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berhapar hamba itu adalah diriku. Barang siapa yang memintakan wasilah kepadaku maka pasti dia mendapatkan syafaat.”(HR. Muslim dan Ahmad)
XXIX. Menahan marah
Seorang Mukmin yang sejati tidak akan marah kecuali karena Allah swt....Dan bagaimanapun tidak semestinya dia bergaul dengan masyarakat sekitarnya dengan perangai seperti perangai mereka. Apabila mereka baik kepada kita maka kita juga akan membalasnya dan apabila mereka buruk kepada kita, maka kita akan membalas buruk. Tidak seperti itu, akan tetapi seorang Muslim yang sejati adalah orang yang selalu baik kepada mereka di saat mereka baik dan berusaha untuk tidak membalas ketika mereka berbuat buruk.
Allah swt. berfirman: “Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”(QS. Asy-Syuuraa: 43)
Allah swt. juga berfirman: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imraan: 134)
Rasulallah saw. bersabda:
و مَنْ كَظَمَ غَيْظًا ولو شاء َ أَنْ يمضيه أمضاه ملأقلبه رضى يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang menahan amarahnya padahal apabila dia ingin melampiaskan maka tentu dia dapat melampiaskannya maka keridlaan akan memenuhi hatinya pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Abi Dunya)
Rasulallah saw. juga bersabda:
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ
“Barang siapa yang menahan marahnya padahal dia dapat melampiaskannya maka Allah swt. akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari kiamat kemudian Allah mempersilahkannya memilih saiapa saja dari bidadari yang lentik matanya.” (HR. Abu Dawud)
XXX. Kebaikan dapat melebur keaburukan
Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya kebaikan dapat melebur keburukan.” (QS. Huud)
Rasulallah saw. bersabda:
اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah swt. dimanapun kamu berada, dan ikutilah keburkan dengan kebaikan niscaya akan meleburnya dan pergaulah dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Rasulallah saw. bersabda:
اذا عملت سَّيِّئَةَ فأَتْبِعْها حَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Apabila kamu berbuat keburukan maka ikutilah dengan kebaikan maka tentu akan meleburnya.”(HR. Ahmad)
Jadi, apabila engkau wahai saudariku yang mulia terlanjur melakukan keburukan maka hendaklah cepat-cepat melakukan kebaikan setelahnya agar dapat meleburnya...dan ini –demi Allah- merupakan luasnya rahmat Allah swt.
XXXI. Bersiap-siap menghadap Allah swt.
Motto hidup seorang Muslimah sejati adalah firman Allah swt: “Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 223)
Dia seharusnya selalu taat kepada Allah.. Seorang Muslimah juga seharusnya selalu bersiap-siap di pintu menuju Islam untuk mendermakan hartanya dan membantu dengan segala yang dimilikinya untuk menolong agama Allah..Jadi, ketika malaikat menjemput ajalnya maka seakan keadaannya berkata, selamat datang wahai malaikat utusan Allah, engkaulah kekasih yang aku tunggu selalu, sungguh beruntung orang yang menyesali dirinya.
XXXII. Menangis karena takut kepada Allah swt.
Rasulallah saw. bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“Tujuh orang akan dinaungi Allah dalam naunganNya pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya. Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Tuhannya, laki-laki yang hatinya selalu berada di masjid, dua laki-laki yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah, laki-laki yang diminta wanita terhormat dan cantik namun berkata sesungguhnya aku takut kepada Allah, laki-laki yang bersedekah dengan menyamarkan hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, laki-laki yang berdzikir kepada Allah sendiri lalu kedua matanya mengangiskan air mata.”(HR. Bukhari Muslim)
XXXIV. Menjauhi fitnah
Allah swt. berfirman: “Maka segeralah kembali kepada (menta'ati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 50)
Allah swt. juga berfirman: “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.”(QS. An-Nisaa`: 140)
Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash dia berkata, aku mendengar Rasulallah saw. berkata:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, kaya dan samar.” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Abu Said Al-Hudzriy, dia berkata, seorang laki-laki bertanya, siapakah manusia yang mulia itu wahai Rasulallah?Beliau menjawab, orang mukmin yang berjihad dengan dirinya dan hartanya di jalan Allah. Dia bertanya lagi, kemudian siapa? Beliau menjawab, kemudian laki-laki yang menjauh di lereng gunung menyembah Tuhannya.
Dalam riwayat lain, bertakwa kepada Allah dan tidak berbuat jelek kepada manusia.
Rasulallah saw. bersabda:
يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ
“Sudah hampir waktunya, sebaik-baik harta Muslim adalah domba yang dibawanya ke puncak gunung dan ke tempat-tempat turunnya hujan karena dia lari membawa agamanya dari fitnah.” (HR. Bukhari)
Rasulallah saw. Juga bersabda:
مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لَهُمْ رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَطِيرُ عَلَى مَتْنِهِ كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ يَبْتَغِي الْقَتْلَ وَالْمَوْتَ مَظَانَّهُ أَوْ رَجُلٌ فِي غُنَيْمَةٍ فِي رَأْسِ شَعَفَةٍ مِنْ هَذِهِ الشَّعَفِ أَوْ بَطْنِ وَادٍ مِنْ هَذِهِ الْأَوْدِيَةِ يُقِيمُ الصَّلَاةَ وَيُؤْتِي الزَّكَاةَ وَيَعْبُدُ رَبَّهُ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْيَقِينُ لَيْسَ مِنْ النَّاسِ إِلَّا فِي خَيْرٍ
“Termasuk penghasilan manusia yang baik baginya adalah laki-laki yang memegang tali kudanya di jalan Allah mempercepat larinya di atas punggungnya setiap kali mendengar suara musuh yang datang atau suara cepat yang terdengar olehnya demi menginginkan terbunuh dan mati di tempatnya (demi mencari mati syahid). Atau laki-laki yang bersma domba kecilnya di atas puncak gunung dari puncak-puncak ini atau di dalam jurang dari jurang-jurang ini, dia menjalankan shalat, mengeluarkan zakat, dan menyembah Tuhannya hingga kematian menjemputnya, dan dia hanya ada kebaikan bersama-sama manusia.”(HR. Muslim)
Dua Penutup yang Sangat Penting:
- Peringatan bagi wanita agar tidak nusyuz dari suaminya
Allah swt. berfirman: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan biarkanlah mereka dalam trmpat tidurnya dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta'atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisaa`: 34)
Imam Al-Wahidi berkata, nusyuz di sini artinya adalah maksiat kepada suami, berani tidak menurut dan menentangnya. Imam Atha` berkata, yaitu ketika wanita menghias dirinya karena suaminya namun melarang suaminya dari tubuhnya serta berubah dari kebiasan sebelumnya yang selalu penurut. (Maka nasehatilah) dengan kitab Allah –Alquran- dan ingatkanlah tentang peringatan Allah kepadanya. (Biarkanlah mereka dalam tempat tidurnya). Ibnu Abbas menafsirkan, yaitu dengan memalingkan punggungnya kepada istri di atas tempat tidur dan tidak berbicara kepadanya. Imam Asy-Sya`bi dan Mujahid berkata, yaitu hendaklah suami tidak menidurinya dan tidak menemaninya tidur di tempat tidurnya. (Dan pukullah mereka) dengan tanpa membahayakan (tidak keras).
Ibnu Abbas berkata, pukulan itu sebagai pelajaran misalnya dicubit. Seorang suami boleh menghadapi nusyuz istrinya dengan apa yang telah diizinkan Allah seperti yang disebutkan dalam ayat ini. (dan apabila mereka taat kepadamu) dalam hal yang kamu inginkan darinya (maka janganlah kalian mencari-cari jalan menyusahkannya) Ibnu Abbas berkata, maka janganlah kalian mencari-cari sebab-sebab lagi.
Dalam hadits Bukhari Muslim disebutkan bahwa Rasulallah saw. bersabda:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila sorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur namun dia menolaknya sehingga dia berlmalam dalam keadaan marah maka malaikat akan melaknatnya sampai pagi datang.” (HR. Bukhari Muslim)
Dalam riwayat yang lain:
فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ ِ
"sehingga bermalam dengan keadaan marah maka istrinya akan dilaknat malaikat hingga pagi datang.”
Dalam maksud yang sama diriwayatkan:
إِذَا بَاتَتْ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلَائِكَةُ
“Apabila seorang istri bermalam menjauhi tempat tidur suaminya maka malaikat akan melaknatinya.” (HR. Muslim)
Di dalam kitab sahih Bukhari Muslim juga terdapat Hadits yang berbunyi:
إِذَا بَاتَتْ الْمَرْأَةُ هَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَافتأبى عليه الا كان الذى فى السماء سخطا حتى يرضي عنها زوجها
“Apabila seorang istri semalaman menjauhi tempat tidur suaminya dan menolaknya maka Yang di atas akan membencinya hingga suaminya ridla kepadanya.” (HR. Bukhari Muslim)
Diriwayatkan dari sahabat Jabir ra. dari Nabi saw. beliau bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمْ الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ
“Tiga orang yang shalatnya tidak melewati telinga-telingan (tidak diterima). Budak yang melarikan diri hingga dia kembali, istri yang bermalam sementara suaminya benci kepadanya, imam sebuah kaum namun mereka membencinya.” (HR. At-Tirmidzi)
Dari Al-Hasan, dia berkata, seorang yang mendengar dari Rasulallah saw. bercerita kepadaku bahwa beliau bersabda:
أول ما تسأل عنه المرأة يوم القيامة عن صلاتها وعن بعلها
“Yang pertama ditanyakan kepada seorang wanita pada hari kiamat adalah tentang shalatnya dan suaminya.”
لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tidak halal bagiseorang wanita berpuasa pada waktu suaminya ada kecuali dengan izinnya dan tidak boleh mengizinkan masuk dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari)
Maksud dari “suaminya ada” adalah tidak bepergian. Demikian itu adalah apabila puasanya puasa sunnat. Seorang istri tidak boleh puasa sunnat kecuali setelah minta izin suaminya karena suami mempunyai hak dan harus ditaati.
Rasulallah saw. bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain niscaya aku akan perintahkan wanita bersujud kepada suaminya.” (HR. At-Tirmidzi)
Bibik Hushain bin Muhshin berkata dan bercerita kepada Rasulallah saw. tentang suaminya, Rasulallah saw. kemudian berkata, lihatlah dimanakah tempatmu dibandingkan suamimu, dia adalah surgamu dan nerakamu. (HR. An-Nasaa`i)
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar ra. dia berkata, Rasulallah saw. bersabda:
لا ينظر الله امرأة لا تشكر لزوجها وهى لاتستغنى عنه
“Allah tidak melihat (dengan rahmat-Nya) kepada wanita yang tidak berterimaksih kepada suaminya dan tidak cukup dengannya.” (HR. An-Nasaa`i)
Diriwayatkan dari Rasulallah saw. bahwa beliau bersabda:
اذا خرجت المرأة من بيت زجها لعنتها الملائكة حتى ترجع أو تتوب
“Apabila seorang wanita keluar dari rumah suaminya maka malaikat akan melaknatinya sampai dia kembali atau bertaubat.” Dalam masalah ini banyak sekali Hadits-hadits yang diriwayatkan.
Rasulallah saw. bersabda:
أيما أمرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة
“Wanita mana saja yang meninggal dunia sementara suaminya merelakannya maka dia akan masuk surga.”
Jadi, kewajiban seorang istri adalah mencari keridlaan suaminya dan menjauhi agar tidak dibencinya dan tidak seharusnya menolak suaminya ketika menginginkannya, Rasulallah saw. bersabda:
أذا دعا الرجل امرأته ألى فراشه فلتاته وان كانت عار التنور
“Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya maka hendaklah dia datang meskipun dia sedang berada di tempat masak roti.”
Selain itu ada Hadits Rasulallah yang melarang hal itu. Sabda Rasulallah saw.:
من أتى حائضا أو أمرأة فى دبرها فقد كفر بما أنزل على محمد
“Barang siapa mendatangi (menyetubuhi) wanita haid atau wanita di anusnya maka dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang mendatangi wanita haid atau wanita di anusnya adalah dilaknanti.
Nifas sama dengan haid sampai empat puluh hari. Seorang wanita tidak boleh taat kepada suaminya ketika suaminya menginginkannya pada waktu haid atau nifas sebaliknya istri harus mentaatinya selain dua waktu itu. Seorang istri seharusnya juga menyadari bahwa dia bagaikan orang yang sudah dimiliki oleh suaminya. Jadi dia tidak boleh memoles tubuhnya atau menginfakkan harta suaminya kecuali dengan izin suami, istri juga seharusnya mendahulukan hak suami sebelum haknya sendiri, hak kerabat suami sebelum hak kerabatnya. Seorang istri juga seharusnya selalu siap untuk dinikmati suaminya dengan selalu dalam keaadan bersih dan tidak boleh menyombongkan kecantikannya kepada suaminya serta tidak boleh mencelanya apabila suaminya sedikit jelek.
Al-Ashma`i berkata, aku masuk ke subuah hutan ternyata aku bertemu dengan seorang wanita yang cantik sekali sementara suaminya adalah laki-laki yang jelek, aku lalu berkata kepadanya, bagaimana kamu mau dengan laki-laki seperti dia? Dia menjawab, dengarkan kamu, bisa jadi dia adalah laki-laki yang selalu beramal baik karena Allah dan Allah menjadikan aku sebagai balasannya dan mungkin aku pernah berbuat buruk sehingga Allah menjadikannya sebagai balasanku juga.
Aisyah ra. berkata, wahai wanita-wanita, seandainya mereka mengetahui hal suami kalian terhadapmu niscaya mereka akan membersihkan debu yang menempel di kedua telapak kaki suaminya dengan kedua pipinya.
Rasulallah saw. bersabda:
نساؤكم من أهل الجنة الودود التى اذا أذت أو أوذيت أتت زوجها حتى تضع يدها فى كفه فتقول لا أذوق غمضا حتى ترضى
“Wanita ahli surga di antara kalian adalah wanita penuh cinta yang apabilnya menyakiti atau disakiti akan datang kepada suaminya lalu meletakkan tangannya di telapak tangan suaminya sambil berkata, aku tidak akan dapat memejankan mataku apabila kamu belum ridla.”
Seorang wanita juga wajib menjaga rasa malunya kepada suami, menundukkan pandangannya di depan suaminya, taat pada perintahnya, diam ketika suami berkata, berdiri ketika suami datang, menjauhi seluruh yang dapat membuatnya benci, berdiri mengantarkannya ketika berangkat keluar, menawarkan dirinya ketika berangkat tidur, tidak berhianat ketika suaminya tidak ada di tempat tidurnya, menjaga hartanya, dan juga rumahnya, bau yang wangi, menjaga bau mulut dengan siwak, minyak kasturi dan parfum yang wangi, selalu berhias di depan suaminya, tidak menghibahnya, menghormati keluarga dan sanak kerabat suami dan menganggap banyak atas apa yang diberikan suaminya meskipun hanya sedikit.
- Keutamaan istri yang taap pada suami dan pedihnya siksaan bagi yang durhaka
Seorang istri yang takut kepada Allah swt. sudah seharunya selalu berusa dengan keras untuk selalu dapat taat kepada Allah swt. dan kepada suaminya dan mencari ridlanya karena suami adalah surga dan neraka baginya. Rasulallah saw. bersabda:
أيما أمرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة
“Wanita mana saja yang meninggal dunia sementara suaminya merelakannya maka dia akan masuk surga.”
Dalam sebuah Hadits yang lain juga disebutkan bahwa apabila seorang wanita shalat
Diriwayatkan juga dari Rasulallah saw. bahwa, wanita yang taat kepada suaminya akan dimintakan ampunan oleh burung-burung di langit, ikan-akan di air, malaikat di langit, dan juga matahari dan bulan selama dia berada dalam keridlaan suaminya. Dan wanita mana saja yang durhaka kepada suaminya maka dia akan mendapatkan laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Wanita siapa saja yang mukanya masam di depan suaminya maka dia sedang berada dalam kebencian Allah sampai dia tersenyum kepada suaminya dan meminta ridlanya. Wanita siapa saja yang keluar dari rumahnya dengan tanpa izin suaminya maka malaikat akan melaknatnya sampai dia kembali.
Diriwayatkan juga dari Rasulallah saw. bahwa beliau bersabda:
أربع من النساء فى الجنة وأربع فى النار فأم الاربع التى فى الجنة فامرأة عفيفة طائعة لله ولزوجها ولود صابرة قانعة باليسير مع زوجها ذات حياء أن غاب عنهازوجها حفظت نفسها وماله وان حضرت أمسكت لسانها عنه والراعة أمرأة مات عنها زوجهاولها أولاد صغار فحبست نفسها على أولادها وربتهم وأحسنت اليهم ولم تتزوج خشية أن يضيعوا وأما الاربع اللواتى فىالنار من النساء فامرأة بذبئة اللسان على زوجها-اى طويلة اللسان فاخشة الكلام- ان غاب عنها زوجها لم تصن نفسها وان حضرت أذته بلسانها والثانية أمرأة تكلف زوجها ما لايطيف والثالثة امرأة لا تستر نفسها من الرجال وتخرج من بيتها متبرجة والرابعة امرأة ليس لها هم الا الأكل وااشراب والنوم وليس لها رغبة فى الصلاة ولا فى طاعة الله ولا طاعة رسوله ولا فى طاعة رسوله ولا فى طاعة زوجها فالمرأة اذا كانت بهذه الصفة وتخرج من بيتها بغير اذن زوجها كانت ملعونة من أهل النار الى ان تتوب الى الله
“Empat orang dari kaum wanita yang berada dalam surga dan empat orang yang lain dalam neraka. Adapun empat wanita yang di dalam surga adalah wanita yang menjaga dirinya taat kepada Allah dan suaminya, banyak melahirkan anak, sabar dan menerima dengan nafkah yang sedikit bersama suaminya, serta punya sifat malu. Apabila suaminya meninggalkanny amaka dia menjaga dirinya dan harta suaminya, ketika suaminya datang maka dia menjaga mulutnya, keempat adalah wanita yang suaminya meninggal dan mempunyai anak-anak yang masih kecil kemudian dia menjaga dirinya demi mendidik anak-anaknya serta berbuat baik kepada mereka namun tidak menikah lagi karena menghawatirkan mereka tersia-sia. Sedangkan empat wanita yang ada di dalam neraka adalah wanita yang bermulut kotor terhadap suaminya –maksudnya bermulut banyak bicara dan kata-katanya kotor- apabila suaminya pergi maka tidak menjaga dirinya dan apabila suaminya datang maka akan menyakitinya dengan perkataannya, kedua, wanita yang membebani suaminya beban yang tidak dapat ditanggungnya, ketiga, wanita yang tidak menutup dirinya dari laki-laki dan keluar dari rumahnya dalam keadaan tidak menutup aurat, keempat, wanita yang tidak punya keinginan kecuali makan, minum, dan tidur, tidak suka mengerjakan shlalat dan taat kepada Allah, Rasuallah, dan juga tidak kepada suaminya, seorang wanita apabila mempunyai sifat seperti ini dan keluar dari rumah suaminya tanpa izinnya maka di akan dilaknat bersama penduduk neraka kecuali apabila bertaubat.”
Nabi saw. bersabda:
أطلعت فى النار فرايت أكثر أهلها النساء
“Aku pernah naik di atas neraka dan aku melihat kebanyak penghuninya adalah wanita.”
Hal itu karena kurangnya ketaatan mereka kepada Allah, Rasulallah dan suaminya, mereka juga banyak tidak menutup aurat, lebih-lebih ketika keluar maka dia akan menggunakan baju yang paling bagus, berhias, bersolek lalu keluar menebar fitnah kepada manusia apabila dia selamat dari gangguan laki-laki yang melihatnya maka mereka tidak dapat selamat dari godaannya.
Oleh sebab itulah Rasulallah saw. bersabda:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita adalah aurat, apabila keluar maka setan akan selalu mengawasinya.” (HR. At-Tirmidzi)
Dan yang paling besar pahalanya di mata Allah adalah ketika seorang wanita berada di dalam rumahnya. Di dalam sebuah Hadits diterangkan bahwa wanita adalah aurat maka jagalah mereka agar selalu dalam rumahnya, karena sesungguhnya seorang wanita apabila keluar ke jalan raya maka seharusnya keluarganya bertanya hendak kemana kamu? Dia menjawab, menjenguk orang yang sakit, menghantarkan jenazah ke kuburnya, hingga setan tidak berhenti-henti menggodanya sampai dia keluar dari rumah. Akan tetapi, sebenarnya seorang wanita tidak dapat mencari ridla Allah melebihi ketika dia duduk di rumahnya dan menyembah Tuhannya serta mentaati suaminya.
Sahabat Ali ra. pernah berkata kepada istrinya Fatimah ra., putri Rasulallah saw., wahai Fatimah apakah yang paling baik bagi seorang wanita? Hendaklah dia tidak melihat laki-laki lain dan mereka juga tidak melihatnya. Sahabat Ali ra. sendiri pernah berkata, apakah kalian tidak merasa malu, apakah kalian tidak cemburu apabila salah satu di antara kalian membiarkan istrinya keluar di tengah-tengah laki-laki yang dia pandangi dan mereka juga memandanginya
Aisyah ra. dan Hafshah ra. suatu hari pernah bersama Rasulallah saw. duduk-duduk bersama, kemudian masuklah Abdullah bin Ummi Maktum, dia adalah sahabat laki-laki yang matanya buta, lalu Rasulallah saw. berkata, pakailah hijabmu karena dia. Keduanya lantas bertanya, wahai Rasulallah, bukankah dia laki-laki yang buta, dia tidak dapat melihat kita dan tidak mengetahui kita? Beliau menjawab, apakah kamu berdua juga buta dan tidak dapat melihatnya?.
Jadi, sebagaimana laki-laki juga diperintahkan memejamkan pandangannya dari wanita lain, seorang wanita juga diperintahkan memenjamkan pandangannya dari laki-laki lain, seperti yang dapat disimpulkan dari perkataan Fatimah ra. “yang paling baik bagi wanita adalah henaknya tidak melihat laki-laki lain dan mereka juga tidak melihatnya”. Namun apabila terpaksa keluar, misalnya untuk menjenguk kedua orang tuanya, kerabatnya, keluar mandi atau kebutuhan yang sifatnya keharusan, maka hendaklah dia keluar dengan meminta izin suami, menutup aurat, dengan menggunkan pakaian biasa yang kotor, misalnya pakaian yang biasa dipakai di rumah, memejamkan pandangannya ketika di jalan, melihat ke bawah bukan malah melihat ke sana kemari. Apabila tidak melakukannya maka dia adalah wanita yang melakukan maksiat.
Ali bin Abi Thalib ra. berkata, aku pernah masuk ke rumah Rasulallah saw., aku bersama Fatimah ra. dan aku mendapati Rasulallah saw. sedang menangis dengan tangisan yang sangat, lalu aku berkata kepadanya, ibu dan ayahku adalah tebusan engkau wahai Rasulallah, apakah yang membuatmu menangis? Beliau berkata, wahai Ali, pada malam isra` mi`raj aku dibawa ke langit dan melihat wanita-wanita dari umatku disiksa dengan berbagai macam siksaan, lalu aku menangis karena melihat pedihnya siksaan mereka. Aku melihat wanita yang digantung di atas rambutnya, otak di kepalanya mendidih. Aku juga melihat wanita yang digantung di atas lidahnya dan cairan panas dituangkan di dalam tenggorokannya. Aku melihat wanita yang diikat kedua kakinya di kedua buah dadanya dan tangannya diikat di ubun-ubunya. Aku melihat wanita yang digantung di atas kedua buah dadanya. Aku melihat wanita yang kepalanya adalah kepala babi, badannya adalah khimar, dia disiksa dengan seribu macam siksaan. Aku melihat wanita seperti anjing, mulutnya dimasuki api dan keluar dari anusnya dan malaikat-malaikat memukulinya dengan gada dari api.
Lalu Fatimah berdiri dan berkata, Ayahku tercinta, apakah yang telah mereka lakukan hingga mereka disiksa seperti itu? Rasulallah saw. berkata, putriku, wanita yang digantung di atas rambutnya adalah wanita yang tidak menutup rambutnya di depan laki-laki lain, sedangkan yang digantung di atas lidahnya adalah wanita yang menyakiti suaminya, dan yang digantung di atas kedua buah dadanya adalah wanita yang merusak kehormatannya dengan selain suaminya, sedangkan wanita yang diikat kedua kakinya di kedua buah dadanya dan kedua tangannya di atas ubun-ubunnya serta dimakan ular dan kalajengking adalah wanita yang tidak mandi besar karena hadas besar atau haid serta mentertawakan shalat, adapun wanita yang kepalanya adalah kepala babi sementara badannya khimar adalah wanita yang suka mengadu domba dan suka berdusta, dan wanita yang seperti anjing dan disiksa dengan api yang dimasukkan mulutnya dan dikeluarkan dari anusnya adalah wanita yang banyak menyebut-nyebut kebaikannya dan wanita pendengki. Wahai putriku, sungguh kerugian yang sangat wanita yang mendurhakai suaminya.
Diriwayatkan dari sahabat Muadz bin Jabal ra. dia berkata bahwa Rasuallah saw. bersabda:
لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
“Janganlah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istri bidadarinya berkata, janganlah kamu menyakitinya –semoga kamu dibenci Allah- dia bagimmu adalah tidak sejatinya, hampir saja dia memisahkanmu untuk kami.” (HR. Ahmad)
Apabila diperintahkan untuk taat kepada suaminya dan mencari ridlanya maka sebagai seorang suami juga diperintahkan selalu berbuat baik kepadanya serta hidup bersamanya dengan penuh kasih sayang. Bersabar apabila istrinya sedikit melakukan pekerti yang kurang baik atau yang lain, memberikannya nafkah, pakaian, pergaulan yang baik karena Allah swt. berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut” (QS. An-Nisaa`: 19) Dan Rasulallah saw. juga pernah bersabda:
أَلَا وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا أَلَا إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ وَلَا يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ
“Ingatlah, kalian berpesanlah kepada wanita tantang hal yang baik karena sesungguhnya mereka adalah bagaikan tawanan bagimu, kamu tidak dapat memiliki sesuatu apapun kecuali yang itu, berbeda apabila mereka melakukan perbuatan kotor, apabila mereka melakukannya maka jauhilah mereka di tempat tidurnya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai, apabila mereka kembali menurut kepada kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (alasan). Ingatlah, bahwa kamu mempunyai hak terhdap istrimu sebaliknya istrimu juga mempunyai hak terhadapmu, adapun hakmu terhadap istri-istrimu adalah mereka tidak boleh menginjak-injak kehormatanmu (istrimu) kepada orang-orang yang kamu benci dan tidak mengizinkan masuk rumahmu kepada orang yang kamu benci.” (HR. At-Tirmidzi)
Maksudnya kata “A`waan” adalah tawanan, bentuk jamak kata “`Aaniyah” yakni satu tawanan. Rasulallah saw. menyapamakan istri dengan tawanan dari segi sama-sama masuk di bawah penguasaan suami yang berhak menahannya.
Rasulallah saw. bersabda:
خيركم خيركم لأهله
“Sebaik-baik kalian adalah sebaik-baik kalian terhadapa istrinya.”
Dalam sebuah riwayat yang lain:
خيركم ألطفكم لأهله
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut terhadap istrinya.” Dan Rasulallh saw. sendiri adalah laki-laki yang sangat lembut terhadap istri-istrinya.
Rasulallah saw. bersabda:
أيما رجل صبر على سوء خلق امرأته أعطاه الله من الاجر مثل ما أعطى أيوب على بلائه وأيما امرأة صبرت على سوء خلق زوجها أعطاها الله مثل ما أعطى أسية بنت مزاحم أمرأة فرعون
“Siapa saja laki-laki yang bersabar dengan pekerti buruk istrinya maka Allah akan memberikannya pahala seperti yang diberikan kepada nabi Ayyub as. yang bersabar atas cobaannya, dan saiapa saja wanita yang bersabar atas pekerti buruk suaminya maka Allah akan memberikannya pahala seperti yang diberikan kepada Asiyah binti Muzahim istri Fir`aun.”
Diiwayatkan juga bahwa seorang laki-laki datang kepada sahabat Umar ra. mengadukan tentang keburukan pekerti istrinya, lalu dia berdiri di depan pintu rumah Umar sambil menanti dia keluar, tak lama dia mendengar istri sahabat Umar berbicara panjang lebar kepada Umar dan menengkarinya, sementara Umar diam tidak membalasnya. Laki-laki itu akhirnya kembali sambil berkata, apabila keadaan sahabat Umar yang keras dan tegas saja seperti ini –dan dia adalah amirul mukminin- bagaiman denganku? Kemudian Umar keluar dan melihat laki-laki itu sedang berpaling unutk pulang, beliau lalu memanggilnya dan berkata, apa keperluanmu wahai orang laki-laki? Dia berkata, wahai amirul mukminin, aku datang untuk mengadukan kepadamu tentang pekerti buruknya istriku dan perktaannya yang panjang lebar kepadaku, namun aku mendengar istrimu juga seperti itu, jadi aku kembali pulang, dan aku berkata dalam hatiku, apabila ini adalah keadaan amirul mikminin dengan istrinya bagaimana denganku bersma istriku? Umar kemudian berkata, wahai saudaraku, aku bersabar terhadapnya karena dia mempunyai hak-haknya terhadapku. Dia adalah wanita yang selalu memasak makananku, membuatkanku roti, mencucikan pakaianku, dan menyusui anakku…padahal semuanya itu tidak wajib dilakukannya. Dialah wanita yang menenangkan hatiku dari perbuatan haram (zina). Aku bersabar kepadanya karena semua itu. Lalu laki-laki tadi berkata, wahai amirul mukminin, istriku juga seperti istrimu. Umar berkata, kalau begitu maka bersabalah kamu dengannya wahai saudaraku, karena itu tidak akan lama.
Dikisahkan bahwa dahulu salah satu orang yang shalih mempunyai seorang saudara karena ikatan Allah yang shalih juga. Dia mengunjunginya sekali setiap tahun. Pada suatu tahun, dia datang dan mengetuk pintunya, lalu istrinya bertanya, siapa? Dia menjawab, aku saudara suamimu karena ikatan Allah, aku datang untuk silatur rahmi, lalu istrinya berkata, dia sedang pergi mencari kayu, semoga Allah tidak mengembalikannya dan tidak menyelamatkannya, semoga dia ditimpa apa-apa -sambil menyebutkan kata-kata yang tidak baik kepadanya-. Pada waktu laki-laki tadi berdiri di depan pintu, ternyata saudaranya pulang dari mencari kayu, dia datang dari arah sebuah gunung sambil membawa sebongkok kayu di atas punggung harimau yang digiring di depannya. Lalu dia menyambutnya dan mengucapkan salam kepada saudaranya dan saling menyambut, kemudian dia masuk rumah dengan membawa kayunya, tak lupa dia juga mempersilahkan saudarnya masuk. Dia berkata kepada harimaunya, pergilah kamu semoga Allah memberkatimu. Keduanya masuk ke dalam rumahnya, sementara istrinya masih mengucapkan kata-kata yang mencela suaminya, sementra suaminya sama sekali tidak menanggapinya. Kemudian dia makan sedikit makanan bersama saudaranya, akhirnya dia pamit pulang dan pergilah dia. Dalam perjalanan dia kagum atas kesabaran saudaranya atas perangai istrinya itu.
Pada tahun selanjutnya, dia datang lagi mengunjungi saudaranya seperti sudah menjadi kebiasannya, dia mengetuk pintu, lalu istrinya bertanya, siapa yang di pintu? Dia berkata, saudara suamimu karena ikatan Allah, si fulan. Lalu dia berkata, selamat datang, silahkan masuk dan silahkan duduk, dia akan datang -insya Allah- dalam keadaan baik dan sehat. Dia heran dengan lembutnya perkataanya dan sopan santunnya, tiba-tiba datanglah saudaranya membawa kayu di atas punggungnya. Tentu saja dia bertanya-tanya dengan yang sedang disaksikan kali ini. Dia datang menyambutnya mengucapkan salam, masuk rumah dan mempersilahkannya, istrinya kemudian menghidangkan makanan kepada keduanya, dan tak lupa mendoakan kepadanya dengan perkataan yang lembut. Ketika datang waktu untuk berpamitan dia bertanya kepada saudaranya, wahai saudaraku ceritakan kepadaku tentang apa yang sudah ingin aku tanyakan kepadamu semenjak dulu. Dia menjawab, apakah itu wahai saudaraku? Dia berkata, tahun pertama aku datang kepadamu, aku mendengar ucapan istrimu yang bermulut kotor, tidak memilki budi pekerti, banyak mencela, dan aku melihatmu membawa kayu di atas punggung harimau yang dapat kamu kendalikan, sementara tahun ini aku mendengar perkataan istrimu yang lembut, tidak mencela padahal aku melihatmu membawa kayu di atas punggungmu sendiri, apa sebabnya semua itu? Dia menjawab, wahai saudaraku, wanita yang kejam dulu itu sudah meninggal dunia, aku selalu bersabar atas perangainya dan apa saja yang dilakukannya, aku bersamanya sungguh merasakan capek sementara aku selalu menahannya, karena itulah Allah swt. mengendalikan harimau untukku yang biasa membawakan kayu sebab kesabarannku, namun setelah aku menikah lagi dengan wanita yang shalihah ini aku merasakan ketenangan bersamanya, jadi harimau itu kemudian pergi dan aku pun akhirnya harus membawa kayu di atas punggungku sendiri karena aku sudah merasakan ketentraman bersama wanita yang penuh barakah dan ketaatan itu. Kami meminta kepada Allah agar memberikan rizki kesabaran kepada kami di atas jalan yang dicintai-Nya dan diridlai-Nya, sesungguhnya Dia adalah Dzat yang Maha pemberi dan pemurah.
Inilah yang dapat kami kumpulkan dalam buku ini, segala puji bagi Allah dan semoga Allah memberikan shalawat kepada Rasulallah saw. Amiin.
Daftar Isi
Sekilas tentang indahnya surga
- Hidangan dan minuman penghuni surga
- Tempat-tempat makanan dan minuman penghuni surga
- Pakaian dan perhiasan penghuni surga
- Paras cantik dan karakter baik wanita penghuni surga
- Apakah di surga wanita bisa mengandung dan melahirkan?
- Allah Swt. menjanjikan bidadari-bidadari cantik bagi kaum adam tetapi tidak bagi kaum hawa
- Siapakah suami wanita Muslimah di dalam surga
- Keindahan surga melebihi seluruh bayangan dan hayalan yang terlintas di hati
- Karakteristik wanita Muslimah yang mendapat pahala Allah Swt. yang agung
Faktor-faktor wanita Muslimah menggapai surga
- Tauhid dan Ikhlas
- Menginfakkan sebagian harta di jalan Allah Swt.
- Perangai yang terpuji
- Menjadi wanita shalihah untuk suami
- Menjauhkan rintangan dari jalan umum
- Selalu berusaha 12 shalat rakaat
- Mencintai orang-orang beriman semata karena Allah Sw.
- Malu
- Dzikir kepada Allah Swt.
- Baik kepada tentangga
- Istiqamah
- Bersyukur atas nikmat Allah Swt.
- Memperbanyak sujud
- Rendah diri karena Allah Swt.
- Silaturrahmi
- Berbakti kepada kedua orang tua
- Membaca Alquran dan menerapkannya
- Amar ma`ruf nahi mungkar
- Sayang terhadap binatang-binatang
- Dzikir setelah shalat
- Taat kepada Rasulallah Saw.
- Sabar
- Jujur
- Menjaga shalat lima waktu
- Menjenguk orang sakit
- Mendahulukan orang lain (iitsaar)
- Doa
- Menyapa dengan salam dan memberi makan
- Belajar dan mengajarkan Alquran
- Bershalawat kepada Nabi Saw.
- Saling membantu dalam hal kebaikan dan takwa
- Dakwah
- Baik sangka kepada Allah Swt.
Faktor-faktor wanita Muslimah selamat dari neraka
- Tidak menyekutukan Allah dan ikhlas
- Amar ma`ruf nahi mungkar
- Cinta semata karena Allah Swt.
- Wara` dan jauh dari syubhat
- Betakwa kepada Allah
- Membaca Alquran dan mengamalkannya
- Membantu kebutuhan sesama Muslim
- Tidak berlebihan dalam ketaatan
- Mengikuti sunnah Nabi Saw. dan mengikuti kelompok Islam
- Puasa
- Qiyamul lail
- Haji
- Kontinu dalam menjalankan ketaatan
- Bergegas melaksanakan kebaikan
- Menjaga rahasia-rahasia rumah tangga
- Menjaga pandangan
- Taubat dan istigfar
- Doa
- Tidak pernah merasa aman dari siksa Allah Swt.
- Memaafkan
- Meninggalkan kedzaliman
- Zakat dan sedekah
- Menasehati agar selamat dari neraka
- Kerjasama melakukan kebaikan dan ketakwaan
- Menyeruh kepada jalan Allah Swt.
- Berhati-hati agar tidak lupa
- Baik sangka kepada Allah Swt.
- Mendapatkan syafaat Nabi Saw.
- Menahan marah
- Kebaikan yang melebur keburukan
- Bersiap-siap menghadap Allah Swt.
- Menangis karena takut kepada Allah Swt.
- Menjauhi fitnah
Penutup yang sangat penting
- Peringatan untuk wanita agar tidak nusyuz dari suaminya
- Keutamaan wanita yang taat kepada suami dan pedihnya siksaan bagi yang durhaka
